LayarHijau.com–Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena “CP marketing” atau pemasaran pasangan (CP = couple pairing) dalam industri drama Tiongkok telah menjadi strategi promosi yang sangat umum.
Istilah ini merujuk pada upaya menciptakan dan memasarkan kesan adanya hubungan romantis antara dua aktor utama, baik dalam maupun di luar drama. Strategi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan popularitas drama saat tayang, tetapi juga memperpanjang gaungnya setelah tamat, sekaligus memberikan manfaat komersial jangka panjang bagi semua pihak yang terlibat.
Dampak Komersial: CP sebagai Mesin Uang
Promosi CP yang sukses sering kali membawa manfaat ekonomi signifikan. Studio produksi mendapat eksposur lebih luas, brand mampu menjual produk dengan lebih efektif, dan para aktor memperoleh proyek baru serta peningkatan popularitas. Dalam bahan disebutkan bahwa efek komersial bisa terlihat dari kenaikan jumlah pengikut media sosial yang drastis—satu CP populer dilaporkan mendapat tambahan lebih dari satu juta pengikut hanya dalam dua minggu setelah dramanya tamat.
Brand fashion juga sering memanfaatkan momen ini. Pakaian atau aksesoris yang dikenakan pasangan CP saat promosi (baik di drama atau di acara promosi) sering kali langsung ludes terjual. Endorsement bersama juga terbukti lebih menarik bagi pengiklan. Strategi CP bahkan memengaruhi penjualan tiket fan meeting, trafik video BTS, dan penayangan ulang drama. Dengan daya beli penggemar CP yang sangat tinggi, banyak manajemen artis yang kini mulai menghitung potensi finansial strategi ini sejak awal kontrak.
Kontrak dan Durasi: Di Balik Layar yang Tersusun Rapi
CP marketing bukan sekadar gimmick, tapi bisa jadi strategi yang sudah tertera dalam kontrak kerja artis. Dalam beberapa kasus, agensi dan studio membuat kesepakatan formal tentang interaksi selama promosi. Durasi promosi CP pasca-drama biasanya berlangsung antara 1 hingga 3 bulan, tergantung dari kesepakatan awal, resepsi publik, dan rencana proyek lanjutan. Jika penerimaan publik sangat tinggi, strategi ini bisa diperpanjang hingga enam bulan, bahkan satu tahun.
Standar Industri Durasi CP Marketing:
S+ Historical Romance, umumnya 3–6 bulan. Contohnya Fox Spirit Matchmaker – Gong Jun & Yang Mi tampil bersama
A-tier Modern Romance, umumnya 1–3 bulan. Contoh Amidst a Snowstorm of Love – Wu Lei & Zhao Jinmai moderat
Low-Budget Web Dramas, umumnya 2–4 minggu. Contohnya Dangerous Lover – Cepat selesai
Khusus: Karena pembatasan adaptasi BL, The Mysterious Lotus Casebook (Cheng Yi & Zeng Shunxi) hanya promosi selama 1 bulan.
Strategi Promosi: Variasi Teknik Memancing Imajinasi
Promosi CP dilakukan melalui berbagai metode yang terencana. Di antaranya:
Strategi outfit berpasangan (同款营销 / tongkuan yingxiao): Aktor mengenakan pakaian atau aksesoris yang mirip atau senada warna, baik secara bersamaan atau dalam waktu berbeda. Ini sering dirancang oleh stylist dalam sistem brand matrix placement.
Strategi lokasi bersama (同地打卡 / tongdi daka): Kedua artis memposting dari tempat yang sama dalam waktu berdekatan. Banyak yang ternyata bagian dari social media synergy clause dalam kontrak.
Konten BTS, vlog, dan AI edits: Konten di balik layar yang menonjolkan keakraban, rekaman candid, hingga editan AI yang menampilkan mereka dalam skenario romantis menjadi amunisi fandom CP.
Interaksi mesra saat promosi: Gesture manis saat konferensi pers, saling memuji, hingga menciptakan ‘chemistry’ saat live streaming.
Penampilan bersama dalam variety show atau iklan: Menghadirkan mereka sebagai pasangan dalam konteks lain memperpanjang ilusi romansa.
Studio dan manajemen kadang menurunkan tim khusus untuk menganalisis reaksi penggemar, melakukan penyesuaian konten, dan mengatur jadwal promosi agar efek CP tetap terjaga.
Sikap Para Artis: Menerima, Profesional, atau Menolak
Respons artis terhadap strategi CP marketing sangat beragam. Beberapa, seperti Dylan Wang dan Esther Yu (Love Between Fairy and Devil), awalnya menjaga jarak namun kemudian ikut serta secara profesional melihat antusiasme penggemar. Esther bahkan pernah memposting dengan gaya outfit yang serasi untuk mendukung strategi promosi.
Sebaliknya, artis seperti Zhao Lusi, Zhao Liying, atau Xiao Zhan dilaporkan pernah menolak strategi CP marketing secara terbuka. Zhao Liying, misalnya, setelah Wild Bloom menolak semua promosi CP, bahkan meminta pengeditan ulang materi promosi adegan ciuman untuk The Legend of Shen Li. Agensi Wang Kai saat Like a Flowing River 3 pun memilih strategi “drama di atas artis”, tanpa pemotretan majalah bersama.
Bai Yufan saat promosi The Long Season menyatakan: “Karakter adalah karakter, aktor adalah aktor.” Aktor generasi baru seperti Zhang Ruonan juga menekankan bahwa tugas aktor adalah akting, bukan memenuhi fantasi penonton.
Aktor Li Xian, yang pernah dipasangkan dengan Yang Zi dalam Go Go Squid!, pernah secara eksplisit menyatakan dalam wawancara bahwa dirinya dan Yang Zi hanyalah rekan kerja profesional. Ia berkata, “Kami hanya bekerja sama dengan baik sebagai aktor. Setelah drama selesai, kami kembali ke kehidupan masing-masing.” Hal ini ia sampaikan untuk menanggapi rumor CP yang terus berkembang bahkan setelah drama berakhir.
Sementara itu, Yang Zi sendiri menyatakan dalam sebuah wawancara variety bahwa ia tidak keberatan dengan pemasaran CP selama itu tidak merusak kehidupan pribadinya atau digunakan untuk menyebarkan rumor palsu. Namun ia juga menekankan bahwa “kerja sama profesional tidak seharusnya berubah menjadi tekanan untuk memenuhi ekspektasi publik yang tidak realistis.”
Beberapa aktor kini memasukkan klausul “otonomi CP” dalam kontrak mereka. Contoh: Kontrak terbaru Yang Yang secara eksplisit melarang forced CP hot search. Tim Bai Jingting bahkan menolak tawaran co-branding CP untuk menjaga batas profesional.
Contoh Kasus: Sukses dan Kegagalan CP Marketing
Salah satu contoh sukses adalah pasangan dalam Love Between Fairy and Devil. Promosi CP mereka awalnya tidak masif, namun berkembang pesat dengan strategi terarah—posting outfit serasi, lokasi bareng, hingga live interaksi manis. Hasilnya fandom CP sangat besar, dan brand berlomba menggandeng keduanya.
Namun, di balik kesuksesan tersebut, muncul dampak negatif yang signifikan. Konflik antara penggemar Dylan Wang dan Esther Yu, yang dikenal sebagai pasangan “DiXin Gravity”, telah berkembang menjadi perseteruan yang intens. Ketegangan ini dimulai sejak 2022 dan semakin memanas ketika interaksi antara keduanya di depan publik mulai berkurang.
Beberapa insiden, seperti tuduhan bahwa Esther Yu bersikap dingin terhadap Dylan Wang dalam siaran langsung, serta klaim bahwa Dylan Wang memanfaatkan popularitas Esther Yu tanpa memberikan timbal balik, memperburuk situasi. Akibatnya, studio Dylan Wang mengumumkan akan mengambil tindakan hukum terhadap individu yang melakukan pencemaran nama baik dan pelecehan daring, yang sebagian besar merupakan penggemar Esther Yu. Sebelumnya, pihak Esther Yu juga dilaporkan telah mengambil langkah hukum serupa terhadap penggemar Dylan Wang.
Contoh lain adalah CP dari drama tertentu yang menggunakan lokasi sama di Hengdian dalam postingan mereka, padahal tidak syuting bareng—ternyata ini bagian strategi manajemen untuk menciptakan narasi ‘hubungan diam-diam’.
Namun ada juga kegagalan. Dalam satu kasus, artis pria menolak tampil bareng pasca-drama karena keberatan dengan rumor CP yang terlalu berlebihan. Penggemar marah, fan war pecah, dan brand akhirnya menarik kontrak karena citra rusak.
Perubahan Regulasi & Reaksi Industri
Seiring waktu, NRTA (National Radio and Television Administration) menerbitkan kebijakan “De-Over-Entertainment” yang membatasi promosi CP berlebihan. Platform streaming kini harus mengajukan rencana promosi CP untuk disetujui regulator.
Tren baru pun muncul. Studi EntGroup Q1 2025 mencatat bahwa 67% hot search CP kini berasal dari interaksi organik, bukan strategi buatan. Sementara itu, 72% real-life CP hot search pada 2024 dilaporkan direkayasa oleh tim produksi.
Terlalu banyak CP marketing juga menyebabkan penurunan 38% dalam rating proyek artis selanjutnya. Hashtag “Say No to Invasive Fan Culture” meraih lebih dari 1,2 miliar pembacaan di Weibo.
Platform pun kini menggunakan algoritma canggih seperti Hot Keyword Cloud, Emotional Spectrum Analysis, dan bahkan AI-Generated CP Topic Engine untuk mengoptimalkan momentum.
Kesimpulan
CP marketing adalah strategi pemasaran efektif dalam industri drama Tiongkok, namun penuh risiko. Dengan perencanaan matang, durasi terukur, dan batas etika yang dijaga, strategi ini bisa memperpanjang umur popularitas drama serta mendatangkan keuntungan besar. Tapi bila dilakukan secara berlebihan atau tidak sensitif terhadap dinamika penggemar dan kehidupan pribadi artis, CP marketing bisa menjadi bumerang.
Industri kini mulai bergeser dari forced sugar menuju high-quality sweetness—yakni romansa layar yang alami, tidak dibuat-buat, dan dipromosikan secara terukur. Publik pun perlu lebih bijak, membedakan antara fiksi dan realitas, agar romansa layar tetap menjadi bagian dari hiburan, bukan sumber tekanan atau konflik.
(Berbagai sumber)










