Mampukah A Dream Within a Dream Menjadi Titik Balik Genre Drama Kostum Tiongkok?

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – A Dream Within a Dream (书卷一梦) muncul sebagai salah satu drama kostum paling banyak dibicarakan tahun ini. Berbeda dari drama idola kuno pada umumnya, serial ini tampil jenaka, menertawakan pola cerita klise yang selama ini mendominasi genre tersebut. Namun, menurut analisis para produser, penulis, dan pengamat yang diwawancarai Sohu Entertainment, sindiran semacam ini hanyalah tahap awal. Tantangan sejati terletak pada bagaimana drama ini mampu menghadirkan kisah yang benar-benar menyentuh hati penonton.

Awalnya Menyegarkan, Tapi Lalu Apa?

Sejak episode pertama, A Dream Within a Dream sudah tampil beda. Karakter utama wanitanya berasal dari dunia modern, lalu “melompat” ke dalam sebuah drama kuno dengan cerita buruk dan penuh formula lama. Ia menyaksikan sendiri betapa konyolnya kisah cinta yang berputar-putar, serta betapa tidak masuk akalnya konflik yang dibangun hanya demi membuat penonton menangis.

Adegan-adegan seperti “tiga orang saling menusuk” atau “karakter utama wanita terjebak bahaya lalu tiba-tiba diselamatkan oleh karakter utama pria” menjadi bahan olok-olok yang mengundang tawa penonton. Drama ini bahkan menyindir situasi di balik layar industri hiburan Tiongkok: aktor pria yang sering mengubah jalannya naskah seenaknya demi menjaga citra, sementara penulis skenario hanya bisa pasrah.

- Advertisement -

Tongtong (nama samaran), salah satu produser yang diwawancarai Sohu Entertainment, menjelaskan bahwa strategi semacam ini memang efektif menarik perhatian. “Sindiran ini memberi rasa lega bagi penonton yang bertahun-tahun bosan dengan formula lama. Tapi setelah semua itu selesai, drama ini mau dibawa ke mana?”

Tantangan Setelah Paruh Awal yang Ramai

Para pelaku industri sepakat, tantangan terbesar drama seperti A Dream Within a Dream adalah menjaga kualitas cerita setelah fase awal yang penuh lelucon selesai.

Love Game in Eastern Fantasy (永夜星河) adalah contoh yang kerap disebut. Meski awalnya menarik perhatian dengan konsep dunia fantasi mirip permainan video game, daya tarik sejatinya terletak pada hubungan emosional para karakter yang tumbuh perlahan di tengah perjalanan mereka.

- Advertisement -

Begitu pula dengan Lost You Forever (长相思), yang menyentuh hati banyak penonton bukan karena gimmick cerita, tapi karena menggambarkan jujur luka batin dan perjuangan karakter utama wanitanya menghadapi cinta dan kesepian.

Bahkan In Blossom (花间令) mengejutkan penonton dengan memilih karakter utama wanita yang bukan putri cantik, tapi seorang asisten tukang kubur sekaligus ahli otopsi yang hidup dalam keterasingan. Dari situ muncul empati yang tulus, bukan sekadar kagum pada kemewahan dunia fiksi. Walau pada akhirnya ceritanya kembali ke model pakem lama.

Da Qiu (nama samaran), seorang penulis novel daring yang juga diwawancarai Sohu Entertainment, mengungkapkan tantangan serupa:

“Di awal, cerita memang seru karena tokoh utamanya berjuang bertahan hidup di dunia asing. Tapi setelah itu, apa yang mereka lakukan dengan hidup mereka? Di situlah banyak cerita kehilangan arah.”

Genre yang Harus Berbenah, Bukan Hanya Berganti Wajah

Para pelaku industri juga mengakui bahwa genre ancient idol drama sudah bertahun-tahun stagnan. Meski anggaran produksi makin besar, banyak drama yang gagal memenuhi ekspektasi penonton karena isinya tetap itu-itu saja.

Data Sohu Entertainment menunjukkan bahwa sepanjang 2024, hanya ada 15 drama kostum yang mencapai rata-rata 20 juta penayangan per episode, turun drastis dari 23 judul pada tahun sebelumnya. Hal ini memicu kekhawatiran serius di kalangan produser dan platform streaming.

- Advertisement -

Inovasi pun mulai bermunculan. Salah satu tren yang mencuri perhatian adalah tema “kesempatan hidup kedua” seperti dalam Blossoms in Adversity (为有暗香来) dan The Double (墨雨云间). Kedua drama tersebut tidak mengusung konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali secara supernatural, melainkan menampilkan tokoh utama yang “memulai ulang” hidup mereka setelah mengalami pengkhianatan atau trauma besar. Fokus ceritanya bukan pada keajaiban, tapi pada upaya karakter memperbaiki nasib mereka dengan membawa kesadaran dan luka dari masa lalu.

Di sisi lain, beberapa drama panjang seperti The Princess’ Gambit (公主扑克牌) dan Feud (临江仙) mencoba gaya penceritaan yang lebih padat dan cepat, menyerupai ritme drama pendek, meski tetap diproduksi dalam format konvensional berdurasi panjang.

Namun seperti diingatkan Teddy (nama samaran), pengamat drama yang diwawancarai Sohu Entertainment, inovasi semacam itu hanyalah alat bantu.

“Masalahnya bukan sekadar di jenis cerita. Kalau karakter-karakternya tetap dangkal, kisah cintanya tetap tidak menyentuh hati, semua itu hanya ganti baju lama dengan baju baru.”

Apakah A Dream Within a Dream Akan Bertahan?

Menurut Tongtong, “anti-ancient idol drama” seperti A Dream Within a Dream penting sebagai langkah awal membersihkan genre dari formula usang. Tapi langkah berikutnya lebih sulit: membangun kisah yang punya hati, yang bisa membuat penonton ikut merasakan perjuangan para karakter.

Kini yang jadi pertanyaan besar adalah: setelah sukses menertawakan pola cerita kuno, apakah A Dream Within a Dream mampu melangkah lebih jauh? Bisakah karakter utama wanitanya tumbuh bukan hanya sebagai orang modern yang sinis, tapi sebagai sosok yang belajar mencintai dan memahami dunia barunya?

Bisakah karakter utama prianya menjadi lebih dari sekadar figur penolong, menjadi seseorang dengan konflik dan impian yang nyata?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah ya, maka A Dream Within a Dream bisa jadi salah satu titik balik genre ancient idol drama. Tapi kalau tidak, ia hanya akan dikenang sebagai lelucon besar yang cepat pudar.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments