LayarHijau.com – Drama kriminal realis Justifiable Defense (正当防卫) resmi tayang perdana pada 9 Juli 2025 melalui Mist Theater di iQIYI. Drama ini disutradarai oleh Li Yunliang, ditulis oleh Jia Dongyan dan Wu Yao, serta dibintangi oleh Gao Ye dan Zhang Luyi, dengan Bai Jingting tampil sebagai pemeran tamu khusus. Selain itu, Zhang Xinyi, Zhang Baijia, dan Ye Qing juga turut berperan penting dalam cerita.
Berdasarkan data Yunhe, episode perdana drama ini meraih pangsa pasar kurang dari 2% untuk penayangan efektif, menempati posisi ke-12. Namun, popularitasnya di platform iQIYI menunjukkan tren peningkatan: dari angka 5.536 pada hari pertama, naik menjadi 6.757 keesokan harinya, seperti dilansir dari Sohu. Seiring dengan alur cerita yang semakin dalam, angka ini diperkirakan akan terus bertumbuh.
Justifiable Defense mengisahkan dua kasus “pembelaan diri yang sah” yang terjadi dalam rentang waktu 14 tahun dan melibatkan delapan tokoh kunci yang takdirnya saling terkait. Cerita dibuka dengan adegan seorang jaksa senior, Duan Hongshan (diperankan oleh Zhang Luyi), yang secara misterius menyerahkan diri di tengah hujan. Sebagai penjaga hukum, mengapa ia tiba-tiba duduk di kursi terdakwa? Apa kejahatan yang membuatnya rela menerima pengadilan?
Sementara itu, jaksa muda Fang Lingyuan (Gao Ye) menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga, di mana seorang korban KDRT membunuh suaminya dalam pembelaan diri. Kasus ini secara tak terduga terkait dengan kasus lama yang pernah ditangani Duan Hongshan 14 tahun lalu: kasus penikaman di sekolah yang melibatkan Li Mufeng (Bai Jingting), Mei Zheng (Zhang Baijia), dan Jiang Ting (Ye Qing). Semakin dalam penyelidikan, hubungan antar tokoh dan kebenaran masa lalu mulai terkuak, memperlihatkan bagaimana dua kasus yang tampaknya terpisah justru saling mencerminkan satu sama lain.
Drama ini menggunakan alur maju-mundur, memperlihatkan bagaimana ketiga karakter utama—Fang Lingyuan, Duan Hongshan, dan Li Mufeng—terhubung melintasi waktu. Fang Lingyuan adalah jaksa muda yang berusaha menggali kebenaran terdalam di balik hukum; Duan Hongshan adalah jaksa senior yang dulunya menuntut kasus lama namun kini terjebak dalam konflik posisi dan identitasnya sendiri; sementara Li Mufeng, sang terdakwa di masa lalu, menjadi pemicu utama yang membuka kembali kasus lama dan mengguncang hidup semua orang yang terlibat.
Struktur narasi drama ini membentuk bayangan cermin antara dua kasus pembelaan diri yang terjadi di waktu dan tempat berbeda. Keduanya akhirnya berpadu menjadi sebuah perenungan mendalam tentang batasan penerapan hukum pembelaan diri. Ketika hukum tak lagi sekadar menilai orang lain tetapi mulai mempertanyakan diri sendiri, semua tokoh dihadapkan pada pertanyaan sulit: ke mana arah keadilan harus condong? Dan mampukah mereka menanggung harga dari pilihan itu?
Terinspirasi Kasus Nyata, Kritik Halus terhadap Dilema Hukum
Skenario Justifiable Defense terinspirasi dari berbagai kasus nyata dan disusun melalui banyak revisi di bawah bimbingan Pusat Film dan Televisi Kejaksaan Agung Tiongkok. Serial ini secara profesional merekonstruksi problematika penerapan pasal “pembelaan diri yang sah” dalam praktik hukum, menyajikan isu-isu kompleks seperti perlawanan korban KDRT, bullying di sekolah, hingga tekanan opini publik secara realistis, tanpa penyederhanaan naratif.
Drama ini juga menyoroti pergeseran peran dan pergulatan batin para aparat hukum: Fang Lingyuan yang idealis dan teguh memegang prinsip; Duan Hongshan yang mulai mempertanyakan posisinya; serta Lei Shuang (Zhang Xinyi), mantan jaksa yang kini menjadi pengacara, yang memperlihatkan sisi lain dari sistem hukum. Karakter perempuan seperti Mei Zheng dan Jiang Ting tak hanya berperan sebagai saksi pasif, tetapi tampil sebagai sosok yang berjuang menentukan nasib mereka sendiri, mempertanyakan dan melawan takdir.
Melalui sudut pandang beragam mulai dari jaksa, pengacara, terdakwa, saksi hingga korban, Justifiable Defense menggambarkan kompleksitas sistem hukum secara tiga dimensi. Antara hukum langit, hukum negara, dan perasaan manusia, tiap pilihan yang diambil para karakter akan mengarah pada takdir yang berbeda.
Dengan membingkai hukum sebagai sesuatu yang hidup dan penuh dilema, drama ini bukan sekadar menggambarkan keadilan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai pertarungan batin setiap orang dalam menghadapi hidup dan mati.










