LayarHijau.com – Drama terbaru Li Yitong, The Vanishing Beauty (美人余), belum genap seminggu menjalani syuting namun sudah terseret dalam badai tuduhan plagiat. Sejumlah foto dari lokasi syuting yang bocor ke internet menunjukkan setidaknya empat gaya busana Li Yitong yang dinilai nyaris identik dengan penampilan Zhao Lusi dalam Love’s Ambition (许我耀眼).
Netizen menyoroti kesamaan yang mencolok — dari paduan jas hitam dan celana pendek, knit top putih dan celana panjang serasi, hingga potongan rambut dengan helaian poni panjang di sisi kanan. Lebih kontroversial lagi, penggemar Zhao Lusi mengklaim bahwa beberapa busana tersebut merupakan rancangan pribadi sang aktris, bukan kostum produksi. Klaim ini segera memicu gelombang kecaman terhadap tim kostum The Vanishing Beauty dan memunculkan pertanyaan lama yang kembali relevan: mengapa industri drama China tampak sulit lepas dari bayang-bayang plagiarisme, terutama dalam urusan desain busana dan visual karakter?
Gaya Serupa, Tuduhan Serius
Menanggapi hebohnya perbandingan foto di media sosial, sumber internal menyebutkan bahwa tim produksi The Vanishing Beauty telah mengganti seluruh tim kostum untuk meredam kritik. Namun, langkah cepat itu tidak serta-merta menghentikan spekulasi. Nama Li Yitong ikut terseret dalam pembicaraan, bahkan sebelum ia sempat menampilkan satu adegan pun di layar.

Kritikus budaya populer dari Sohu Entertainment menilai kasus ini hanya puncak gunung es dari fenomena yang sudah lama terjadi di dunia drama Tiongkok. Desain busana yang “terlalu mirip” antar drama bukan hal baru. Dalam genre kostum fantasi atau sejarah, kasus semacam ini muncul nyaris setiap tahun: dari tuduhan bahwa Love Beyond the Grave (慕胥辞) meniru tampilan A Dream of Splendor (梦华录), hingga komentar bahwa gaya rambut dan pakaian dalam A Dream of Splendor juga mirip dengan Serenade of Peaceful Joy (清平乐).
Di sisi lain, aktris muda Zhang Ruonan dalam Zhan Zhao Adventures (雨霖铃) juga sempat dibandingkan dengan Liu Shishi dalam A Journey to Love (一念关山), sedangkan Who Rules the World (且试天下) yang dibintangi Zhao Lusi sempat dituduh menyalin elemen visual dari Immortal Samsara (沉香如屑) dan Love and Redemption (琉璃).
Ketika Aktor “Mengulang Diri Sendiri”
Fenomena ini tidak hanya terjadi antar produksi, tapi juga di dalam karier aktor itu sendiri. Nama Cheng Yi sering disebut sebagai contoh: sejak kesuksesannya di Love and Redemption, sang aktor dinilai terus tampil dengan gaya serupa dalam Mysterious Lotus Casebook (莲花楼), Immortal Samsara, The Journey of Legend (赴山海), hingga drama terbarunya Heaven and Earth Sword Heart (天地剑心). Riasan, gaya rambut, bahkan palet warna kostumnya nyaris tak berubah, membuat penonton kesulitan membedakan karakternya dari satu judul ke judul lain.
Para produser menjelaskan bahwa kecenderungan ini sering kali bukan hasil plagiarisme murni, melainkan efek dari “strategi aman”. Desainer kostum dan tim produksi memilih untuk mengikuti formula visual yang sudah terbukti disukai penonton, ketimbang mengambil risiko mencoba hal baru yang bisa gagal.
Ketika “Tren” Menjadi Alasan
Produser Yu Jia menilai bahwa fenomena kesamaan visual antar drama lahir dari dua sumber: tekanan pasar dan keseragaman selera. Dalam wawancara dengan Sohu Entertainment, ia menjelaskan bahwa saat satu gaya tertentu menjadi populer, seluruh industri akan berbondong-bondong menirunya. “Begitu sebuah drama laris, gaya kostum dan palet warnanya dianggap aman. Jadi banyak rumah produksi yang memintanya dijadikan acuan langsung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banyak aktor tidak cocok dengan semua jenis kostum. “Ketika seorang aktris terlihat sangat menawan dalam gaya tertentu, wajar jika tim kreatif ingin mempertahankan formula itu di proyek berikutnya,” kata Yu Jia. “Sayangnya, publik sering salah mengartikan ini sebagai plagiarisme, padahal bisa jadi hasil adaptasi pada karakter dan citra aktor itu sendiri.”
Namun Yu Jia juga mengakui bahwa budaya produksi cepat turut memperburuk keadaan. Dengan jadwal padat dan target tayang ketat, desainer kostum jarang punya cukup waktu menciptakan desain orisinal. Di sisi lain, perlindungan hak cipta di ranah desain visual juga masih lemah.
Area Abu-abu dalam Hukum
Pengacara Zhang Qihuai dari Blue Penguin Law Firm menjelaskan bahwa di bawah hukum hak cipta China, istilah “plagiarisme kostum drama” tidak memiliki definisi hukum yang spesifik. “Hanya jika suatu desain kostum memenuhi unsur orisinalitas dan dapat dibuktikan sebagai hasil ekspresi kreatif yang unik, barulah ia bisa dikategorikan sebagai karya seni yang dilindungi,” ujarnya.
Untuk membuktikan plagiarisme, penggugat harus menunjukkan dua hal: bahwa desainnya memang orisinal dan dilindungi, serta bahwa karya lain secara substansial meniru unsur unik dari desain tersebut. Dalam praktiknya, ini sangat sulit. Banyak elemen kostum — seperti jas, gaun, atau potongan rambut umum — termasuk dalam “ranah publik”, artinya bebas digunakan siapa pun.
Karena itu, kasus seperti dugaan peniruan gaya Zhao Lusi oleh Li Yitong sulit dibawa ke ranah hukum, meski di mata publik jelas terlihat mirip.
Plagiarisme atau Sekadar Kebosanan Visual?
Seiring berkembangnya industri, terutama dengan ledakan drama pendek digital, masalah ini kian meluas. Serial mini sering kali meniru tampilan dari drama populer untuk menarik perhatian cepat. Kostum karakter Ling Miaomiao (虞书欣) di Love Game in the Eastern Fantasy (永夜星河) dan gaun ikonik Ju Jingyi di Beauty of Resilience (花戎) sudah beberapa kali disalin mentah-mentah oleh tim produksi drama pendek. Bahkan, gaya yang belum resmi tayang dari Veil of Shadows (月鳞绮纪) sudah muncul lebih dulu di beberapa seri drama Douyin.
Kritikus menilai fenomena ini mencerminkan kelelahan visual — ketika industri lebih sibuk meniru kesuksesan daripada menciptakan estetika baru. Dalam jangka panjang, tren ini bisa menggerus nilai produksi, mempersempit imajinasi, dan menjauhkan drama China dari inovasi yang dulu membuatnya mendunia.










