LayarHijau.com – Media hiburan Tiongkok, Sohu Entertainment News, menyoroti fenomena baru yang makin dominan dalam drama Korea beberapa tahun terakhir: meningkatnya popularitas sosok perempuan kejam yang justru menjadi daya tarik utama suatu drama. Untuk pembaca yang belum familiar, Sohu merupakan salah satu portal hiburan terbesar di China, dikenal sejak awal era platform daring dan kerap menjadi rujukan media lain di Asia karena ulasannya yang cepat, tajam, dan mendalam.
Dalam laporannya, Sohu menyoroti Dear X sebagai contoh terbaru dari tren ini. Drama yang dibintangi Kim Yoo Jung itu baru menayangkan empat episode, tetapi sudah memicu diskusi besar dengan skor tinggi dan perbincangan luas. Karakter Baek Ah Jin digambarkan sebagai sosok yang dingin dan manipulatif: ia mampu meninggalkan ibunya yang sedang sekarat, memanfaatkan rasa bersalah orang lain untuk mencapai tujuannya, bahkan menyusun situasi yang membuat orang tak bersalah menggantikan posisinya. Pilihan-pilihan ekstrem Baek Ah Jin—yang sulit ditebak dari satu adegan ke adegan berikutnya—membuat penonton justru semakin terpancing untuk mengikuti ceritanya.

Sohu menilai bahwa salah satu alasan karakter seperti ini begitu memikat adalah karena formula lama K-Drama sudah mulai ditinggalkan. Dulu, drama Korea dipenuhi tokoh perempuan yang lemah lembut, selalu menunggu diselamatkan, atau menahan diri meski terus disakiti. Sosok seperti ini mendominasi masa awal popularitas drama Korea, namun pada akhirnya menimbulkan kejenuhan. Kini penonton, terutama perempuan, mencari sesuatu yang berbeda: tokoh yang berani melawan, penuh perhitungan, mengambil keputusan ekstrem, dan tak ragu mempertahankan kendali atas hidupnya sendiri.

Menurut Sohu, “kejahatan” yang diperlihatkan para tokoh perempuan ini selalu memiliki sumber yang jelas dan berakar dalam pengalaman hidup masing-masing. Baek Ah Jin dibentuk oleh trauma masa kecil—ayah kandungnya membunuh ibunya, sementara ibu tirinya memperlakukannya dengan kasar dan tidak pernah memberi kehangatan. Park Yeon Jin dalam The Glory tumbuh dalam keluarga yang dingin, terbiasa menyaksikan hubungan gelap ibunya dengan gurunya dan dipaksa menerima ketidakpedulian serta tekanan dari ibunya sendiri. Sedangkan Moon Dong Eun memilih jalan balas dendam setelah mengalami perundungan brutal yang menghancurkan masa remajanya.
Sohu menekankan bahwa para karakter ini memiliki kesamaan: keburukan mereka bukan sekadar sifat bawaan, tetapi respons yang terbentuk dari pengalaman pahit yang tidak pernah diatasi. Kekejaman yang melampaui batas moral itu justru lahir dari luka yang tidak pernah sembuh. Perpaduan antara “sengsara tetapi juga kejam” membuat tokoh-tokoh ini tidak lagi tampak datar. Seperti Baek Ah Jin yang memanfaatkan rasa bersalah adik tirinya untuk membuatnya selalu patuh, sekaligus memakai relasi dan sumber daya yang ia miliki untuk mengendalikan semua situasi di sekitarnya.
Sohu juga mengaitkan tren ini dengan perubahan ritme dalam konsumsi drama saat ini. Dear X sejak episode awal langsung menampilkan rangkaian aksi balasan, pengkhianatan, aksi ekstrem, hingga momen intens yang membuat penonton sulit berhenti. Pola cepat dan penuh ketegangan seperti ini dianggap lebih sesuai dengan kebiasaan menonton masa kini dibandingkan drama romantis yang bertempo lambat.
Meski begitu, Sohu mengingatkan bahwa sebagian drama kadang mendorong intensitas tersebut terlalu jauh, sehingga beberapa adegan terasa kurang wajar atau seolah menjauh dari realitas keseharian. Namun fenomena ini tidak mengurangi pentingnya perubahan yang sedang terjadi.
Dalam kesimpulannya, Sohu menilai bahwa eksplorasi karakter perempuan “jahat” justru menunjukkan perkembangan signifikan dalam cara drama Korea menggambarkan manusia. Karya film dan televisi tidak selalu perlu terikat pada pesan moral kaku seperti “yang baik akan mendapat balasan baik.” Dengan berani menampilkan sisi gelap manusia—ambisi, dendam, luka batin, dorongan untuk bertahan hidup dengan cara apa pun—sebuah karya bisa terasa lebih hidup, lebih jujur, dan lebih bernapas. Dan justru karena keberanian menghadapi kompleksitas itu, drama-drama semacam ini menjadi semakin menggugah dan relevan bagi penonton masa kini.










