LayarHijau.com – Drama baru yang dibintangi Dilraba Dilmurat dan Chen Xingxu, Love on the Turquoise Land, menayangkan episode terakhirnya tadi malam. Nie Jiuluo dan Yan Tuo bersama pasukan Pemburu Gunung Nan menyerbu markas utama Di Xiao (iblis bumi) di Jinmen untuk mengakhiri ancaman mereka. Di sana mereka menghadapi pemimpin Di Xiao, Lin Xirou, dalam pertempuran klimaks penuh pengkhianatan dan pengorbanan.
(Artikel di bawah mengandung spoiler, harap pertimbangkan sebelum membaca)
Di tengah serangan, terungkap bahwa Xing Shen menyimpan agenda pribadi. Ia mengikuti misi ini semata-mata demi mendapatkan daging Nüwa yang diyakini dapat menghidupkan kembali seseorang. Ia memancing pasukan Di Xiao dan monster Di Ba (manusia yang telah berubah menjadi iblis bumi), membuat rekan-rekannya kewalahan dan satu per satu tumbang. Yan Tuo tertembak dan jatuh pingsan, Feng Mi tewas digigit Di Ba, sementara Yu Rong terluka parah. Jiang Baichuan, pemimpin Pemburu Gunung Nan, gugur saat mencoba melindungi anggota yang tersisa.
Dalam situasi putus asa itu, Nie Jiuluo menelan obat terlarang “pedang gila” milik tentara Cang Tou untuk meningkatkan kekuatannya. Setelah memeluk Yan Tuo, ia bangkit dengan tatapan dingin dan naluri pembunuh yang tak terkendali. Aksinya yang brutal justru membuat penonton terpukau karena aura heroik namun berbahaya yang ia pancarkan. Di sisi lain, rasa sakit yang tak tertahankan membuat Xing Shen menarik Xiong Hei jatuh ke dalam jurang Heibai Jian, menewaskan keduanya.
Pertarungan akhir pun pecah. Nie Jiuluo bertarung satu lawan satu melawan Lin Xirou. Keduanya saling menusuk tanpa ampun. Nie Jiuluo roboh dan tak lagi bernapas, sementara Lin Xirou tampak menang tanpa terluka. Namun tepat saat semua tampak berakhir tragis, ibu kandung Nie Jiuluo, Peike, muncul dari kegelapan jurang Heibai Jian (jurang Hitam dan Putih) dan memenggal kepala Lin Xirou. Kehadirannya menjadi titik balik yang mengakhiri perang besar ini.
Meski demikian, kemenangan itu terasa pahit. Hampir semua Pemburu Gunung Nan tewas, dan Yan Tuo hanya bisa menyaksikan tubuh Nie Jiuluo yang tak bernyawa. Ia kemudian melarikan diri dari Jinmen sambil tetap berharap untuk menyelamatkan kekasihnya. Peike, yang masih memegang sisa kekuatan misterius, memasukkan tubuh Nie Jiuluo ke dalam daging Nüwa untuk membangkitkannya kembali. Demi membantu proses itu, Yan Tuo menahan rasa sakit luar biasa—efek samping ketika menyentuh daging Nüwa yang konon memindahkan rasa sakit proses melahirkan ke tubuhnya.
Nie Jiuluo pun hidup kembali. Namun kebangkitannya dibayar mahal: ia sama sekali tak mengingat Yan Tuo. Satu-satunya hal yang tersisa dalam benaknya hanyalah mimpi emosional bertemu sang ibu, tempat ia menangis dan mengucapkan perpisahan terakhir.
Yan Tuo kemudian mendampinginya perlahan tanpa memaksa. Mereka menulis catatan bintang bersama, sesuatu yang dulu menjadi memori berharga di antara mereka. Sampai suatu hari, ingatan Nie Jiuluo pulih. Ia memegang wajah Yan Tuo, tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dan berkata, “Sudah lama tidak bertemu.”
Pasangan ini pun berciuman penuh gairah di kursi tempat mereka pertama kali bertarung dan saling mengenal. Setelah deretan tragedi dan air mata, akhir bahagia itu sukses membuat penonton merasa terbayar.










