LayarHijau.com– Drama yang dibintangi oleh Dilraba Dilmurat dan Oliver Chen, Love on the Turquoise Land tamat baru-baru ini. Dalam episode terakhir, yaitu episode 32, seorang pemuda misterius muncul dan membeli semua karya pahatan buatan Nie Jiuluo (Dilraba Dilmurat) yang disertakan dalam pameran tunggalnya.
Setelah itu, sang pemuda itu terlihat berbincang dengan seseorang lewat telepon. Dari percakapan itu, terungkap bahwa orang yang ia telepon adalah sang kakek.

Sang pemuda rupanya membeli semua karya pahatan itu berdasarkan perintah sang kakek. Saat ditanya kenapa sang kakek begitu tertarik dengan salah satu karya pahatan Nie Jiuluo, sang kakek menjawab jika pahatan itu mengingatkan dirinya akan kampung halamannya. Suara sang kakek hanya terdengar dari telepon, bukan dari interaksi langsung dengan Nie Jiuluo.

Kemunculan sang pemuda misterius dan percakapannya dengan sang kakek memicu teori jika Love on the Turquoise Land mungkin akan lanjut ke season 2. Rupanya adegan percakapan sang pemuda dengan kakeknya itu ada dalam bab terakhir novel Love on the Turquoise Land yang ditulis oleh Wei Yu.
Sang pemuda bernama Yan Xianxi. Sang kakek mengaku jika pahatan Nie Jiuluo itu mengingatkan dirinya akan kampung halaman. Bisa disimpulkan jika sang kakek adalah salah satu iblis bumi karena pahatan Nie Jiuluo terinspirasi dari Jurang Hitam dan Putih.

Berdasarkan penelusuran LayarHijau, selain teori adanya kemungkinan jika Love on the Turquoise Land akan lanjut ke season 2, ada teori lain di antara para penggemar novel Wei Yu.
Menurut informasi, kakek Yan ini adalah iblis bumi yang keluar ke permukaan pada masa Dinasti Ming. Dia merupakan salah satu karakter penting dalam novel karya Wei Yu yang lain, Flesh and Bone Cage. Novel ini kabarnya juga akan diadaptasi ke dalam drama. Di halaman untuk drama adaptasi Flesh and Bone Cage di Douban, tercantum keterangan jika drama itu dijadwalkan tayang pada 2027. Tapi belum ada informasi terkait sutradara dan para pemerannya termasuk jumlah episodenya.
Dari novel Love on the Turquoise Land, kita tahu jika di Jurang Hitam dan Putih terdapat tujuh jalur yang berbeda. Li Xiruo dan kelompoknya keluar ke permukaan lewat salah satu jalur. Dengan kata lain masih ada enam jalur lain yang bisa dipakai para iblis bumi untuk keluar ke permukaan dan membaur dengan para manusia.
Beberapa kelompok iblis bumi ini memiliki sifat yang berbeda. Ada yang kuat dan ambisius seperti Li Xiruo. Tapi ada juga yang lemah dan sakit-sakitan. Kakek Yan ini dikatakan sebagai iblis bumi yang memiliki kesehatan yang lemah. Tapi dia cerdas, dia tahu bagaimana memanipulasi hati orang dan dia tidak seambisius Li Xiruo.
Saat keluar ke permukaan, Kakek Yan menyelamatkan Yan Rongren. Setelah diselamatkan, Yan Rongren mengajari si kakek bagaimana membaca dan menulis. Yan Rongren juga bersedia menjadi kantong darah supaya sang kakek ini bersedia menyelamatkan putranya.
Berabad-abad kemudian, keturunan Yan Rongren sukses dan mereka diaku sebagai keturunan Kakek Yan, si iblis bumi. Di sisi lain, Kakek Yan melindungi keturunan keluarga Yan. Berbeda dengan Li Xiruo yang memakai kekerasan untuk memperoleh kantong darah, Kakek Yan lebih memilih manipulasi sehingga manusia dengan sukarela menjadi kantong darah.
Novel Flesh and Bone Cage sendiri mengisahkan karakter yang berbeda dengan karakter Love on the Turquoise Land. Novel Flesh and Bone Cage mengikuti kisah Chen Cong, yang sejak kecil dibesarkan oleh kakeknya dan kemudian membuka sebuah toko permata. Namun, sang kakek tiba-tiba menghilang tujuh tahun lalu. Suatu hari, Chen Cong secara tak terduga menerima undangan dari “Human Stones,” sebuah asosiasi yang berfokus pada apresiasi batu. Ia percaya undangan ini mungkin bisa membantunya mengungkap misteri hilangnya sang kakek. Dengan harapan itu, ia memulai perjalanan menuju Asosiasi Human Stones.
Di asosiasi tersebut, Chen Cong tidak hanya mempelajari lebih dalam rahasia seni menilai batu, tetapi juga mewarisi nomor identitas khusus milik kakeknya di dalam organisasi itu. Bersama para anggota lainnya, ia meneliti dan merawat batu-batu tersebut, berusaha membuka rahasia stone embryo. Namun, berbagai insiden mulai terjadi di dalam asosiasi, termasuk kematian anggota serta sejumlah serangan.
Xiao Jiezi muncul sebagai salah satu penyerang dan bentrok dengan Chen Cong. Seiring berjalannya cerita, latar belakang Xiao Jiezi pun terungkap. Ia menderita penyakit mematikan dan demi bertahan hidup, selama ini bersembunyi di balik sosok Hong Gu. Hong Gu sendiri menyimpan dendam mendalam terhadap Asosiasi Human Stones.
Pada akhirnya, semua pihak bahu-membahu memasuki Gunung Sheshan untuk mengungkap kebenaran terakhir mengenai praktik pemeliharaan batu tersebut.










