LayarHijau.com – Serial original Netflix, Last Samurai Standing berhasil menarik perhatian masyarakat sebelum tayang. Beberapa situs media internasional menjuluki serial itu sebagai Squid Game versi Jepang dengan latar era samurai.
Tapi saat serial itu tayang, para penggemar serial Jepang mungkin teringat dengan karakter dari anime/film live adaptation yang sangat familiar yaitu Kenshin Himura, karakter utama Samurai X.
Last Samurai Standing sendiri mengisahkan sosok Shujiro Saga, seorang samurai yang hidup di era Meiji, era yang sama di mana Kenshin Himura hidup. Shujiro adalah anak yatim piatu, bersama dengan tujuh anak yatim piatu lainnya, dia dilatih dan dibesarkan untuk mempelajari ilmu pedang oleh guru mereka yang mewarisi ilmu pedang Sekolah Kyohachi-Ryu. Ilmu pedang Kyohachi-Ryu menurut legenda versi serial ini merupakan asal usul dari ilmu pedang yang dipakai para samurai.
Paska keluar dari sekolah itu, Shujiro pergi ke Kyoto sebagai pegawal wilayah Satsuma. Dia kemudian ikut terlibat dalam Perang Boshin, perang saudara yang menandai berakhirnya era Edo dan munculnya era Meiji. Dilihat dari jalannya cerita, Shujiro berperang untuk Bakufu Tokugawa melawan pasukan kekaisaran dengan tujuan mempertahankan kekuasaan politik Shogun Tokugawa dan menjaga tatanan lama Jepang termasuk status sosial dan ekonomi para Samurai. Dalam perang itu, dia memperoleh julukan sebagai Kokushu si Pembunuh Manusia.
Uniknya Kenshin Himura adalah pembunuh untuk Kekaisaran Jepang. Dia bekerja untuk mengakhiri hidup para lawan politik Kekaisaran Jepang. Hal ini membuatnya dijuluki Hitokiri Battosai. Seperti Shujiro, Kenshin juga yatim piatu dan dibesarkan oleh gurunya, Hiko Seijuro XIII. Dia dididik untuk menguasai ilmu pedang Hiten Mitsurugi-ryū.
Dengan kata lain, kedua samurai ini berada di pihak berseberangan dan keduanya bisa dikatakan memperoleh julukan sebagai mesin pembunuh untuk dua kekuatan yang berbeda.
Tentu saja Shujiro dan Kenshin adalah dua tokoh fiktif dari dua dunia (universe) yang berbeda. Tapi jika seandainya terjadi crossover atau persilangan di antara dua dunia ini, Kokushu Si Pembantai tentunya memiliki peluang untuk bertemu dan bertarung. Dalam film live adaptation Rurouni Kenshin, Kenshin malah dikisahkan ikut terlibat dalam Perang Boshin.
Uniknya, siapapun yang menang, baik Shujiro dan Kenshin sama-sama kehilangan status mereka sebagai samurai dan kehilangan sesuatu dalam jiwa dan hidup mereka. Shujiro menderita PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), kondisi mental yang dia peroleh karena pengalaman traumatis dalam Perang Boshin. Hal ini membuatnya tidak mampu menghunus pedang. Selain itu, dia memutuskan berkeluarga dan menjalani kehidupan yang bahagia sebagai seorang suami dan ayah dari dua anak. Sedangkan Kenshin yang merasa menyesal dengan kehidupannya sebagai pembunuh memutuskan untuk mengembara.
Siapa Pemenangnya Kalau Mereka Bertarung?
Seandainya keduanya bertemu selama Perang Boshin dan paska perang, siapakah yang menjadi pemenang dalam pertarungan? Jawabannya sangat sulit ditentukan. Dalam season 1 Last Samurai Standing, teknik Shujiro tidak dijelaskan secara rinci. Kita hanya mengetahui nama sekolah/aliran Shujiro.
Tapi pada episode pertama, kita bisa melihat jika sekalipun tidak menghunuskan pedang karena trauma, Shujiro masih sulit dikalahkan dalam pertarungan melawan samurai lain. Kita bisa melihat jika dia memiliki kecepatan dan kekuatan.
Seiring berjalannya waktu, Shujiro juga menunjukkan keahlian dalam menggunakan senjata selain pedang. Saat melawan mantan koleganya, Sakura, ia terlihat mampu menguasai tongkat dan Kusarigama dengan efektif.
Para “saudara” Shujiro dari sekolah yang sama juga tampak menguasai teknik serupa, termasuk penggunaan pisau. Bahkan saudari Shujiro, Iroha, terbukti ahli dalam melempar pisau dengan presisi.
Ketika Shujiro menggunakan pedangnya melawan samurai lain seperti Sakura dan Bukotsu Kanjiya, gerakan pedangnya terlihat lincah, cepat, dan kuat, menegaskan kemahirannya yang impresif.
Dalam versi live-action Rurouni Kenshin, ilmu pedang Hiten Mitsurugi-ryū digambarkan dengan cara yang realistis namun tetap menawan. Kecepatan dan kelincahan Kenshin terlihat melalui gerakan fluid, akurat, dan akrobatik. Hal ini menekankan latihan bertahun-tahun dan pengalaman tempur, bukan kekuatan supernatural.
Jurus-jurus pamungkasnya, termasuk Amakakeru Ryu no Hirameki, diperlihatkan sebagai kombinasi momentum tubuh, putaran, dan penempatan kaki yang ekstrem. Dengan demikian, jurus ini tetap terlihat mungkin dilakukan oleh manusia yang sangat terlatih.
Selain itu, live-action juga menekankan filosofi pedang Hiten Mitsurugi-ryū: melindungi yang lemah, bukan membunuh semata-mata. Pertarungan disajikan dengan stunt performer dan koreografi realistis, tanpa CGI berlebihan. Penonton dapat merasakan ketegangan dan kecepatan luar biasa Kenshin, sekaligus percaya kemampuan itu bisa dicapai manusia nyata.
Namun, jika melihat apa yang ditampilkan di season 1 Last Samurai Standing, sulit untuk menarik kesimpulan pasti tentang siapa yang akan menang dalam duel melawan Kenshin Himura. Shujiro memang menunjukkan kecepatan, kekuatan, dan fleksibilitas dalam pertarungan, serta kemampuan menggunakan berbagai senjata selain pedang, tapi aliran Kyohachi-Ryu dan teknik pamungkasnya belum dijelaskan secara rinci. Bahkan trauma PTSD yang kadang menahan dirinya dari menghunus pedang juga menjadi faktor yang bisa memengaruhi efektivitasnya dalam duel satu lawan satu dengan lawan sekelas Kenshin.
Di sisi lain, Kenshin dalam versi live-action terbukti mampu menghadapi banyak musuh sekaligus dengan gerakan akrobatik dan cepat, serta jurus pamungkas seperti Amakakeru Ryu no Hirameki yang membuatnya sangat mematikan dalam duel. Namun, Shujiro memiliki keunggulan dalam fleksibilitas senjata dan pengalaman taktis di medan perang yang nyata, sesuatu yang belum sepenuhnya kita saksikan sejauh mana kapasitasnya.
Dengan kata lain, pemenang antara Shujiro dan Kenshin tetap sulit ditentukan, karena keduanya memiliki kelebihan unik yang sangat bergantung pada konteks pertarungan, senjata yang digunakan, dan kondisi mental masing-masing.
Akhirnya, perdebatan tentang siapa yang akan menang antara Shujiro Saga dan Kenshin Himura mungkin memang tidak akan pernah memiliki jawaban pasti, karena keduanya berasal dari dunia fiksi yang berbeda dengan aturan dan batas kemampuan masing-masing.
Yang jelas, keduanya sama-sama menginspirasi dengan kemampuan pedang, pengalaman tempur, dan perjalanan emosionalnya. Hal ini membuat setiap pertarungan imajinatif antara keduanya menjadi menarik untuk dibayangkan. Bagi penggemar, membandingkan dua samurai legendaris ini lebih menjadi soal menghargai keahlian dan karakter mereka, daripada mencari pemenang mutlak.









