| Sutradara: Tian Li,He Tan |
| Pemeran: Dilraba Dilmurat, Oliver Chen, Zhang Li, Dong Chang, Su Xin |
| Jumlah episode: 32 Episode |
| Platform: WeTV, Viki Tencent Video |
Sinopsis:
Drama ini mengisahkan ikatan yang mengejutkan antara Nie Jiuluo, si pisau gila dari organisasi rahasia Pemburu Gunung Nan dan Yan Tuo, pria yang baik yang menanggung penindasan selama bertahun-tahun. Dari konflik awal ke kerja sama yang menyelamatkan nyawa, mereka mengembangkan rasa saling percaya dan cinta, menggabungkan kekuatan melawan Dixiao yang jahat dan melindungi kasih, dan kedamaian, akhirnya menemukan jalan untuk bersama.
Review:
Drama Love on the Turquoise Land merupakan salah satu drama yang mampu menunjukkan kelihaian bermanuver di antara tuntutan untuk menyajikan cerita visual yang setia dengan novel aslinya dan batasan sensor yang diterapkan pemerintah China. Tidak berhenti sampai di situ, tim drama rupanya melakukan dua hal ini sambil memperlihatkan kemampuan membaca selera pasar dengan baik.
Sensor pemerintah China terlihat dari perubahan atau pemotongan adegan-adegan yang eksplisit dalam drama. Contohnya adalah Yan Tuo berkonflik tiga kali dengan kelompok Pemburu Gunung Nan tapi cerita ini dimodifikasi dan disederhanakan. Dalam tiga kali konflik itu, dia ditangkap dua kali, dan mengalami penyiksaan fisik yang cukup berat. Tapi hal ini tidak diperlihatkan dalam versi drama.
Selain itu, novel Love on the Turquoise Land membahas mitos Nuwa, ibu dewi yang diyakini oleh masyarakat Tiongkok kuno sebagai pencipta segala makhluk. Penyebutan dan pembahasan sosok Nuwa terlihat dari awal hingga akhir. Bahkan kemampuan Nuwa dalam novel adalah penyebab Nie Jiuluo mampu selamat dan terlahir. Nuwa juga dikatakan menciptakan Jurang Hitam dan Putih, manusia, di xiao (iblis bumi) dan segala teknologi terkait.
Tapi sensor pemerintah Tiongkok yang melarang konsep pembahasan seperti ini membuat sosok Nuwa dan kemampuannya dihilangkan sama sekali dalam versi drama. Bahkan sebagai bentuk penjelasan soal terciptanya di xiao, drama ini mengungkap jika hal ini dikarenakan mutasi yang terjadi karena hujan meteor membuat tanah mengalami perubahan. Perubahan ini memberikan tanah ini kemampuan memutasi gen dan lain-lain.
Selain menghilangkan beberapa elemen novel demi lolos sensor, tim drama juga memodifikasi desain para karakter utama supaya lebih mudah diterima oleh para penonton umum. Nie Jiuluo, Yan Tuo, Lin Xiruo, Xiong Hei, Paman Jiang dan para karakter lain mengalami modifikasi kepribadian. Hal ini sebenarnya cukup wajah dan umum terjadi dalam berbagai adaptasi novel ke media TV dan film di negara manapun.
Contohnya, dalam versi novel, Kaisar Dinasti Qin, Qin Shi Huang terobsesi dengan kekekalan. Demi obsesinya, dia membentuk tim pasukan elit yang disebut Pemburu Gunung Nan. Fungsi pasukan ini bukanlah untuk membasmi kejahatan menegakkan keadilan, tapi mencari rahasia dari misteri kekekalan. Menurut mitos yang beredar di zaman itu, rahasia kekekalan bisa ditemukan di dunia bawah tanah. Selain itu beredar desas desus sosok monster pemakan manusia (di xiao) yang diduga berasal dari bawah tanah. Itulah alasan tim pasukan elit ini menggali hingga ke dalam Jurang Hitam dan Putih dan berusaha menangkap makhluk ini demi mengungkapkan rahasia kekekalan.
Seiring pergantian dinasti dan perubahan zaman, keturunan tim elit ini mengalami penurunan status dan sumber daya hingga alih profesi menjadi pemburu dan perampok makam. Niat awal tim ini adalah menangkap di xiao dan menggali artifak Jurang Hitam dan Putih demi menemukan rahasia hidup abadi, sementara para keturunannya berniat menemukan artifak untuk dijual dengan harga tinggi.
Dalam drama, tujuan kelompok pemburu ini untuk mencari rahasia hidup abadi atas perintah kaisar disebut secara singkat. Tapi tujuan utama mereka digambarkan sebagai tujuan mulia: melawan iblis bumi untuk melindungi masyarakat seperti perintah kaisar.
Perubahan penggambaran tim pemburu yang oportunistis menjadi kelompok dengan tujuan mulai juga mengubah desain karakter sosok seperti Paman Jiang dan para pemburu lainnya.
Tapi perubahan desain karakter ini patut dipuji. Selain itu dari segi akting, para pemeran utama kita mulai dari Dilraba Dilmurat, Oliver Chen, Tian Xiao Jie hingga Zhang Li dan Su Xin mampu memberikan akting yang solid dan menghidupkan karakter mereka.
Tim drama merancang desain karakter para tokoh dalam drama ini baik protagonis maupun antagonis dengan kompleksitas dan kedalaman yang baik. Dilraba dan Oliver Chen mampu menghidupkan karakter mereka dan menggambarkan kontras dan chemistry dua karakter kuat dengan baik.
Karakter antagonis kita seperti Lin Xiruo dan Xiong Hei tidak digambarkan sebagai monster haus darah berwujud manusia. Tapi sebagai sosok bukan manusia dengan kompleksitas emosi manusia. Zhang Li dengan baik menggambarkan karakter penjahat utama yang kompleks, memperlihatkan aura menakutkan tanpa perlu memperlihatkan ekspresi berlebihan, juga sisi kontras antara kekejaman dan naluri ibu yang dia tunjukkan pada Yan Tuo. Hal ini membuat para penonton berada dalam dilema antara merasa berempati, takut dan benci.
Uniknya para karakter antagonis dan pendukung yang digambarkan dengan baik ini memiliki porsi yang sesuai hingga tidak mencuri perhatian dan sorotan dari dua tokoh utama kita: Nie Jiuluo dan Yan Tuo.
Love on the Turquoise Land mampu menggambarkan dengan seimbang antara ketegangan dan misteri supernatural dari konflik manusia dengan iblis bumi dengan topik-topik yang relate dengan para penonton seperti keluarga, persahabatan dan percintaan.
Salah satu hal yang patut disorot dan dipuji adalah bagaimana drama ini menambahkan sesuatu yang kurang dari novel An Owl Rising from the Green Soil karya Wei Yu. Novelnya minim kisah romansa, tidak ada adegan romantis dan kata-kata mesra di antara Nie Jiuluo dan Yan Tuo.
Tapi Love on the Turquoise Land mengubah kelemahan ini tanpa melakukan modifikasi berlebihan. Hal ini patut ditiru dan dipelajari oleh drama China lainnya. Adegan sederhana seperti saat Yan Tuo dan Nie Jiuluo bertarung di ruang galeri, adegan Yan Tuo menggendong wanita itu, atau adegan pria itu mencuci rambut Nie Jiuluo mampu dirubah menjadi adegan dengan nuansa romansa yang kental lewat pemakaian tone warna, cahaya dan ekspresi wajah. Penambahan unsur romansa ini menunjukkan bagaimana tim drama mampu memahami selera pasar dengan baik. Semua ini dilakukan tanpa perlu modifikasi cerita yang liar dan membuat para penonton tepuk jidat dan geleng-geleng kepala atau membuat para penggemar novel geram.
Mungkin itulah sebabnya Wei Yu memilih ikut nonton bareng drama ini dan bukan menulis kecaman di Weibo seperti penulis novel lain dari sebuah drama China yang juga tayang bersamaan dengan Love on the Turquoise Land.
Adegan aksi dalam drama ini adalah salah satu hal lain yang patut disoroti dan dipuji. Kita melihat para karakter wanita dalam drama ini mulai dari Nie Jiuluo, Lin Xiruo dan Yu Rong digambarkan sebagai sosok yang kuat dan mampu mengungguli para karakter pria. Kostum Nie Jiuluo, serta di mana dia menyimpan pedangnya, serta beberapa penambahan teknologi dan peralatan dalam versi drama merupakan upgrade yang tidak ada di novel.
Koreografi dan penggambaran adegan aksi di dalamnya mampu menonjolkan kekuatan para karakter itu dan menimbulkan kesan yang mendalam di antara para penonton yang belum membaca novelnya.
Sayangnya bukan berarti Love on the Turquoise Land tidak memiliki kekurangan. Sensor pemerintah dan mungkin anggaran yang terbatas membuat beberapa bagian dalam drama terasa kurang. Sebagai contoh, salah satu alasan kenapa Yan Tuo tidak bisa melepas dendamnya terhadap Lin Xiruo dan kelompok iblis bumi bukanlah karena kematian orang tuanya, tapi karena nasib sang adik. Dalam novel, Lin Xiruo memperjelas jika sang adik berada dalam genggamannya. Yan Tuo merasa bersalah karena kecerobohannya membuat sang adik jatuh ke dalam genggaman Bibi Lin. Dia berusaha keras mencari keberadaan sang adik dan menyelamatkannya. Nasib sang adik terungkap di akhir novel, tapi dalam drama hal ini hanya dibahas secara sekilas dan terkesan ambigu. Ada kemungkinan elemen cerita ini dihilangkan karena sensor atau karena tim drama ini menyederhanakan cerita.
Pertarungan final dalam drama antara kelompok iblis bumi melawan pemburu Gunung Nan sebenarnya merupakan pertarungan epik dengan skala yang besar karena keberadaan pasukan Iblis Putih/ Iblis Mata Putih. Kedua kelompok ini terkejut dengan kemunculan pasukan Iblis Putih yang menunggangi makhluk tertentu. Pasukan dalam jumlah besar ini menghilangkan eksistensi iblis bumi satu demi satu dan menculik tim Pemburu Gunung Nan satu demi satu. Kedua kelompok ini tidak berdaya melawan pasukan iblis putih karena perbedaan kekuatan yang mencolok. Pasukan ini memiliki kekuatan dan kecepatan beberapa kali lipat lebih unggul dibanding kelompok iblis bumi. Manusia biasa tidak punya kesempatan untuk melawan makhluk supernatural yang memiliki kekuatan super seperti ini.
Tim Pemburu Gunung Nan dan kelompok iblis bumi yang tersisa benar-benar merasa putus asa dan berusaha untuk keluar dari jurang Hitam dan Putih. Saat Nie Jiuluo memakan obat terlarang dan berubah menjadi Pisau Gila, pertarungan mengalami perubahan keseimbangan. Kekuatan dan kecepatan Nie Jiuluo naik berkali-kali lipat, bahkan melebihi kekuatan iblis putih.
Dari penggambaran di novel, kita bisa membayangkan pertarungan epik sekelas film aksi seperti Avengers. Tapi sepertinya keterbatasan anggaran dan waktu membuat tim drama menyederhanakan pertarungan ini. Kita tidak melihat pasukan iblis putih, hanya beberapa iblis putih termasuk Pei Ke. Pertarungan final hanya terjadi antara tim pemburu melawan kelompok iblis bumi. Kekuatan Nie Jiuluo sebagai Pisau Gila juga mengalami penyederhanaan.
Secara keseluruhan, Love on the Turquoise Land merupakan drama yang memberikan keseimbangan antara kisah yang menyentuh hati tentang cinta, keluarga, kemanusiaan serta kegigihan melawan ancaman dalam balutan supernatural, misteri dan ketegangan. Dengan batasan sensor dan anggaran, Love on the Turquoise Land mampu memberikan sesuatu yang berkesan untuk para penonton dan penggemar novel.











Kurang Suka sama Ending’nya , Min..
Harus’nya yang Bunuh Bibi Lin itu si Nie Jiuluo donk , khan dia yang di gadang² Pisah Gila terhebat , bukan malah Ibu’nya Nie Jiuluo yang bunuh..
Klo’ Ibu’nya , cukup mbantu aja , ga perlu dia yang menyelesaikan Tugas si Pemeran Utama..
Trus soal YanTuo sama Bibi Lin pas di Gua itu harus’nya paling nggak ada Komunikasi lah yaa antara Mereka , mau gimana pun khan Mereka tinggal bareng selama Puluhan Tahun..
Bisa juga di buat agak Dramatis , si YanTuo tanya ke Bibi’ Lin kenapa dia ngebuang Adik’nya ke sana , kenapa Mereka ga di asuh bersama , trus Bibi’ Lin dengan angkuh’nya kasih tau dech alasan kenapa Adik’nya di buang , entah itu karena Adik’nya ga guna , atau Adik’nya melakukan hal fatal , nah di situ biar YanTuo meluapkan kebencian’nya ke Bibi’ Lin..
Jadi ada alasan yang pas buat YanTuo untuk benci ke Bibi’ Lin..
Klo’ seperti yang di Drama itu terkesan si YanTuo macem Anak Durhaka yang ga tau terimakasih jadi’nya..
Adegan Nie Jiuluo yang hilang ingatan mending ga usah ada sich , mending Fokus ke Adegan Peperangan antara Makhluk Gelap dan Pemburu Gunung Nam aja klo’ kata Gw mah , nunjukin keberhasilan Mereka gitu lah..