Ending The Vendetta of An: Duel Hidup-Mati Cheng Yi dan Wang Jinsong Tuai Air Mata, Tapi Dua Kekurangan Ini Diprotes Penonton

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – Drama kostum terbaru The Vendetta of An (長安二十四計) yang dibintangi Cheng Yi resmi menayangkan episode terakhirnya pada 25 Desember. Empat episode penutup menghadirkan rangkaian plot twist yang terus berbalik arah hingga akhirnya mengungkap hubungan sebenarnya di antara para tokoh. Secara keseluruhan, ending drama ini menuai banyak pujian karena dinilai emosional, penuh perhitungan, dan berhasil membangun ketegangan hingga menit terakhir. Namun di balik respons positif tersebut, dua titik lemah dalam alur cerita justru memicu gelombang kritik dari penonton.

(Peringatan: Penjelasan di bawah mengandung spoiler mengenai akhir drama)

Dalam episode 25 hingga 28, karakter Xie Huai’an yang diperankan Cheng Yi ditampilkan sebagai sosok strategis yang rela mengorbankan segalanya demi melindungi Chang’an dari invasi negara musuh, Tie Mo. Puncak emosi terjadi ketika ia harus berhadapan langsung dengan guru masa kecilnya, yang ternyata merupakan Raja Tie Mo, diperankan oleh Wang Jinsong. Pertarungan hidup-mati antara murid dan guru ini disebut banyak penonton sebagai salah satu adegan paling menyayat hati sepanjang drama, sekaligus menjadi ajang unjuk kemampuan akting Cheng Yi dan Wang Jinsong yang menuai pujian luas.

- Advertisement -

Meski demikian, penayangan akhir The Vendetta of An tidak sepenuhnya lepas dari kontroversi. Dua kelemahan utama dalam penulisan cerita dinilai merusak logika yang sebelumnya dibangun dengan rapi.

Kritik pertama mengarah pada upaya yang dianggap terlalu memaksakan citra “pahlawan tragis” pada Xie Huai’an. Demi menjalankan rencana besarnya, ia bahkan memilih berdamai dengan musuh bebuyutannya, Yan Fengshan (diperankan Zhang Hanyu), dan menjadikan pria tersebut bagian penting dari rencana penangkapan Raja Tie Mo. Ia juga rela mempertaruhkan nyawanya sendiri sebagai alat untuk membuka jalan bagi Guru Negara (diperankan Ni Dahong) agar mendapatkan kepercayaan penuh dari Raja Tie Mo.

Diceritakan bahwa Guru Negara dan Raja Tie Mo sebenarnya adalah sesama budak Tie Mo di masa kecil. Dua puluh tahun lalu, mereka bersepakat menyusup ke Chang’an sebagai mata-mata demi masa depan Tie Mo, dan hanya akan bertemu kembali setelah misi berhasil. Namun seiring waktu, Guru Negara menyadari bahwa Raja Tie Mo telah berubah menjadi penguasa yang menindas rakyat, tak berbeda dari kaum bangsawan yang dahulu mereka benci. Kesadaran inilah yang mendorongnya bekerja sama dengan Xie Huai’an untuk menjebak Raja Tie Mo di sebuah lumbung gandum.

- Advertisement -

Masalah muncul setelah rencana tersebut berjalan. Meski Raja Tie Mo sempat bertarung sengit dengan Yan Fengshan di dalam lumbung dan keluar sebagai pemenang, Xie Huai’an justru memilih jalan ekstrem dengan memicu ledakan besar melalui pembakaran debu tepung di gudang. Ledakan itu menewaskan dirinya dan Raja Tie Mo sekaligus. Adegan ini memang dimaksudkan sebagai pengulangan simbolis dari pelajaran “bahaya debu dan api” yang pernah diajarkan Raja Tie Mo ketika masih menjadi guru Xie Huai’an di masa lalu.

Namun, banyak penonton mempertanyakan logika keputusan tersebut. Mereka menilai Xie Huai’an, yang selama ini digambarkan sebagai sosok sangat cerdas dan penuh perhitungan, seharusnya memiliki cara lain untuk menghabisi Raja Tie Mo tanpa harus memilih jalan paling ekstrem. Terlebih lagi, saat memasuki lumbung, ia masih dalam kondisi terluka parah dengan belati yang belum dicabut dari tubuhnya. Kritik pun bermunculan, menilai kematian tersebut terasa dipaksakan demi membentuk sosok pahlawan tragis, bukan hasil dari strategi yang masuk akal secara cerita.

Kritik kedua menyasar kondisi fisik Xie Huai’an yang dinilai tidak realistis. Untuk mendapatkan kepercayaan Raja Tie Mo, ia lebih dulu ditusuk oleh Guru Negara, lalu belatinya bahkan diputar oleh Raja Tie Mo untuk memastikan luka tersebut fatal. Xie Huai’an sebenarnya telah mengatur agar tabib andal Yi Zhihu (Chen Shujun) serta Zuo Xiaoqing (Wang Zixuan) datang sebagai tim penyelamat.

Namun dalam penyajiannya, dua karakter tersebut hanya muncul untuk membantu menghalau musuh dengan panah, tanpa ada adegan pengobatan sama sekali. Ketika Xie Huai’an kembali muncul di lumbung gandum, belati itu masih tertancap di tubuhnya. Keahlian medis Yi Zhihu sama sekali tidak dimanfaatkan, sementara Xie Huai’an tetap digambarkan mampu bergerak bebas dan menjalankan rencana besar dalam kondisi luka berat, yang membuat banyak penonton mengernyitkan dahi.

Meski begitu, sebagian penonton mencoba menafsirkan alur ini sebagai petunjuk bahwa semua tindakan tersebut adalah bagian dari rencana “kematian palsu”. Tafsir ini diperkuat oleh adegan tambahan di akhir drama yang memberi kesan bahwa Xie Huai’an mungkin belum benar-benar tewas, sekaligus membuka kemungkinan hadirnya musim kedua.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, The Vendetta of An tetap diakui sebagai drama dengan cerita kompleks dan jajaran aktor senior yang tampil solid. Namun kritik terhadap dua kelemahan di ending ini juga menunjukkan besarnya ekspektasi penonton, yang menilai potensi akting Cheng Yi, Wang Jinsong, Ni Dahong, hingga Zhang Hanyu seharusnya dapat didukung dengan penulisan cerita yang lebih konsisten hingga akhir.

- Advertisement -
Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments