LayarHijau.com – Drama kostum terbaru Glory (玉茗茶骨) yang dibintangi Guli Nazha dan Hou Minghao resmi tayang dan langsung mencuri perhatian publik. Berdasarkan data Yunhe, jumlah penayangan episode utama di hari pertama menembus 10 juta, sementara data dari Kuyun mencatat angka 5,36 juta. Perbedaan angka antarplatform ini pun memicu perdebatan di kalangan penggemar dan pengamat industri, meski secara umum performa awal drama tersebut dinilai cukup solid.
Di luar polemik data, jalan cerita yang memadukan intrik kekuasaan dan konflik internal keluarga besar sukses membuat penonton terpikat. Perhatian utama tertuju pada karakter Rong Shanbao, putri keluarga penguasa bisnis teh yang diperankan Guli Nazha. Sejak kemunculan perdananya, sosok “tuan putri” ini tampil dengan aura dominan dan penuh kendali, meninggalkan kesan kuat sekaligus mematahkan label lama Nazha sebagai aktris yang hanya mengandalkan visual.
Glory merupakan proyek garapan produser Yu Zheng, yang sebelumnya dikenal lewat kesuksesan Story of Yanxi Palace. Drama ini mengisahkan Lu Jianglai (Hou Minghao), seorang zhuangyuan (lulusan tertinggi ujian negara) yang dikenal cerdas serta menguasai ilmu sastra dan bela diri. Setelah diangkat menjadi bupati Kabupaten Chun’an, ia kerap memecahkan berbagai kasus pelik hingga akhirnya menjadi target pembunuhan. Dalam kondisi kritis, Lu Jianglai diselamatkan oleh Rong Shanbao, putri pemilik usaha teh terbesar. Dari hubungan yang diawali kecurigaan dan adu strategi, keduanya perlahan bekerja sama membereskan konflik dalam keluarga besar pengusaha teh sekaligus memperluas pengaruh mereka.
Akting Guli Nazha menuai banyak pujian dari penonton. Di media sosial, ia disebut berhasil “merobek label boneka cantik” lewat permainan emosi yang lebih matang dan terkontrol. Detail ekspresi menjadi sorotan, mulai dari gestur jemari saat meracik teh yang mencerminkan perhitungan, hingga sorot mata dan gerakan alis ketika berhadapan dengan lawan. Dibandingkan karya-karya sebelumnya, penonton menilai penyampaian emosinya kini terasa lebih berlapis dan meyakinkan.
Pada hari penayangan perdana, topik “akting Nazha” langsung meroket dengan jumlah pembaca menembus ratusan juta hanya dalam setengah hari. Lebih dari 80 persen komentar menyebut penampilannya “mengejutkan” dan “sangat sesuai dengan karakter”. Sejumlah pengamat industri menilai Guli Nazha akhirnya menemukan jalur yang tepat dalam kariernya, sementara Yu Zheng secara terbuka menyebut performanya di drama ini sudah mendekati level aktris peraih penghargaan.
Namun, respons positif tersebut tidak sepenuhnya merata. Pada bagian cerita seleksi calon menantu keluarga Rong, banyak penonton justru melontarkan kritik tajam terhadap penampilan para aktor pendukung pria. Berbagai komentar bernada sindiran beredar luas di media sosial, bahkan sempat menjadi topik hangat, dengan sebagian penonton mempertanyakan kualitas visual para pemeran pendukung.
Sebagian warganet menduga pihak produksi terlalu menekan biaya dengan melibatkan aktor dari dunia drama pendek. Ada pula yang menilai Glory terlalu meniru pola cerita The Double (墨雨云间), dengan fokus pada sensasi kepuasan emosional penonton melalui alur balas dendam yang cepat. Kritik ini menyebut bahwa pengejaran “rasa puas” dan kemenangan instan kerap dilakukan dengan mengorbankan detail visual serta ketelitian dalam pemilihan pemeran.
Meski menuai pro dan kontra, Glory tetap menjadi salah satu drama kostum yang paling banyak dibicarakan sejak penayangan perdananya. Penampilan Guli Nazha dianggap sebagai kekuatan utama drama ini, sementara aspek lain seperti pemilihan aktor pendukung masih menjadi bahan perdebatan hangat di kalangan penonton.










