Kepopuleran Drama Song Weilong dan Zhao Jinmai, Shine on Me Dongkrak Pariwisata Jiangsu

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – Drama China Shine on Me (驕陽似我) yang dibintangi Song Weilong dan Zhao Jinmai tengah menjadi perbincangan hangat. Tak hanya karena interaksi manis kedua pemeran utamanya, drama ini juga secara tak terduga memberi dampak positif pada sektor pariwisata Jiangsu, lewat deretan lelucon khas daerah yang meledek diri sendiri dan terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Popularitas elemen lokal dalam drama ini tak lepas dari sosok penulis naskahnya, Gu Man, yang berasal dari Yixing, Jiangsu. Ia memilih sejumlah lokasi di Wuxi dan sekitarnya sebagai latar cerita, sekaligus memasukkan kebiasaan hidup orang Jiangsu ke dalam dialog dan situasi komedi yang mengalir natural. Pendekatan ini membuat banyak penonton merasa “terwakili” sekaligus terhibur.

Salah satu adegan paling ikonik adalah momen “penentuan hubungan” di Rongshi Meiyuan, Wuxi. Dalam adegan tersebut, Lin Yusen yang diperankan Song Weilong dan Nie Xiguang yang diperankan Zhao Jinmai akhirnya saling mengungkapkan perasaan. Kesalahpahaman yang berlangsung selama dua tahun—bermula dari undangan melihat bunga plum yang sempat disalahgunakan orang lain—akhirnya terurai. Adegan bernuansa romantis dan penuh emosi ini dijuluki penonton sebagai “momen bersejarah terbesar pasangan Sen-Guang”.

- Advertisement -

Adegan tersebut turut mendongkrak popularitas lokasi syutingnya. Rongshi Meiyuan di Wuxi langsung menjadi sorotan, bahkan akun resmi taman itu ikut menanggapi antusiasme penonton dengan komentar, “Dari menonton Shine on Me sampai benar-benar datang ke Meiyuan Wuxi.”

Tak berhenti di situ, dialog sederhana dalam drama ini juga memicu diskusi luas di dunia nyata. Salah satunya adalah kalimat tokoh utama pria yang menyebut bahwa Perpustakaan Suzhou hanya memperbolehkan peminjaman lima buku. Pernyataan ini segera ditanggapi oleh akun resmi Perpustakaan Suzhou yang menjelaskan bahwa batas peminjaman untuk kartu pembaca dewasa saat ini mencapai 20 buku. Respons cepat tersebut langsung viral dan dijuluki netizen sebagai “humas tercepat tahun 2026”.

Alih-alih menjadi kontroversi, perbedaan antara dialog drama dan fakta di lapangan justru berubah menjadi momen edukatif yang menghibur. Popularitas drama dimanfaatkan untuk sekaligus menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi publik.

- Advertisement -

Humor lain yang tak kalah ramai dibicarakan muncul saat kedua tokoh utama sedang dinas ke Guangzhou. Ketika mereka ingin menyantap bebek panggang pukul sepuluh malam, karakter Zhao Jinmai tampak heran dan berkata, “Sudah jam sepuluh, masih dibilang awal?” yang langsung dibalas oleh karakter Song Weilong, “Ini kan Guangzhou, bukan Jiangsu.”

Dialog ini langsung mengena karena menyinggung stereotip Jiangsu sebagai daerah dengan budaya tidur lebih awal. Netizen pun ramai bercanda, menyebut pasar malam Suzhou “pukul delapan setengah bukan mulai, tapi tanda mau tutup”. Sejumlah komentar juga mengaitkannya dengan candaan publik figur seperti Dong Yuhui, yang pernah menyebut bahwa pukul sebelas malam jalanan di Jiangsu sudah sepi. Ada pula yang berkelakar, “Kehidupan malam orang Jiangsu itu sebenarnya pulang ke rumah untuk menemani anak mengerjakan PR.”

Deretan lelucon meledek diri sendiri ini memperkuat identitas lokal Jiangsu dalam Shine on Me. Seperti karya-karya Gu Man sebelumnya, nuansa daerah hadir tanpa terasa dipaksakan. Bedanya, kali ini ia secara terang-terangan membawa penonton berkeliling lokasi nyata seperti Wuxi Taihu New City, Danau Jinji, hingga Nianhua Bay.

Tanpa disangka, sentuhan lokal yang dibalut romansa dan humor ini justru menjadi promosi efektif bagi pariwisata Jiangsu. Shine on Me bukan hanya sukses sebagai drama romantis, tetapi juga berhasil mengubah lelucon khas daerah menjadi daya tarik nyata bagi penonton untuk mengenal dan mengunjungi Jiangsu.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments