LayarHijau.com– Attack on Titan memang telah lama menutup kisahnya, baik dalam versi manga maupun anime. Namun memasuki awal 2026, pernyataan terbaru dari sang kreator, Hajime Isayama, justru kembali mengaduk emosi para penggemar. Dalam kesempatan publik terbarunya, Isayama secara terbuka mengakui bahwa dirinya kesulitan untuk kembali berkarya dalam skala besar setelah menyelesaikan serial legendaris tersebut.
Isayama hadir dalam sebuah panel perayaan perilisan ulang film Attack on Titan: The Last Attack. Dalam acara itu, ia membagikan kondisi terkini kehidupannya sekaligus proses kreatif yang ia jalani setelah Attack on Titan berakhir. Seperti dilaporkan Oricon, Isayama menegaskan bahwa dirinya masih sangat sibuk hingga sekarang, meski jenis kesibukan itu sudah berbeda dibandingkan saat masih menjalani serialisasi mingguan.
“Aku sibuk setiap hari. Tolong percaya itu. Kehidupan sehari-hariku jauh dari kehidupan NEET yang dulu kuimpikan saat masih serialisasi,” ujar Isayama. Namun pernyataan yang paling menyentuh justru datang setelahnya. Ia mengakui bahwa meski waktunya lebih longgar, ia merasa tidak lagi mampu menulis karya besar seperti Attack on Titan.
Menurut Isayama, jika ia memaksakan diri menulis cerita panjang baru, hasilnya kemungkinan hanya akan menjadi pengulangan atau potongan dari ide-ide yang sebelumnya sudah ia tuangkan dalam Attack on Titan. Ia menyebut serial tersebut sebagai karya yang menguras seluruh energi dan gagasan kreatifnya hingga benar-benar kosong. Bagi Isayama, Attack on Titan bukan sekadar proyek debut, melainkan sebuah proses di mana ia mencurahkan segalanya.
Pengakuan ini tentu terasa pahit bagi banyak penggemar yang masih berharap Isayama akan kembali dengan manga epik baru. Namun situasi tersebut sebenarnya cukup umum di dunia manga. Banyak kreator besar yang kesulitan menemukan proyek berskala serupa setelah menyelesaikan karya fenomenal mereka. Kreator Demon Slayer, Koyoharu Gotouge, misalnya, belum mengumumkan serial baru sejak manganya tamat lima tahun lalu. Bahkan almarhum Akira Toriyama pun tidak pernah lagi menciptakan karya dengan cakupan sebesar Dragon Ball.
Meski demikian, hal ini bukan berarti Isayama berhenti berkarya. Pada 2024, ia merilis Attack on Titan: Bad Boy, sebuah karya tambahan yang masih berada dalam semesta Attack on Titan. Setahun kemudian, pada 2025, ia juga menulis sebuah one-shot berjudul The Theory of Ill-Natured Men and AI. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa Isayama masih aktif, meski kini lebih memilih format pendek dan eksploratif.
Pernyataan Isayama juga mencerminkan realitas keras kehidupan seorang mangaka di era modern. Sangat jarang ada kreator yang mampu menciptakan dua karya besar yang sama-sama sukses secara masif. Jika generasi sebelumnya mengenal Yoshihiro Togashi yang mampu melampaui Yu Yu Hakusho lewat Hunter x Hunter, kondisi industri saat ini membuat pencapaian serupa semakin sulit. Kasus Masashi Kishimoto dengan Samurai 8: The Tale of Hachimaru yang berakhir singkat setelah Naruto menjadi contoh yang masih sering dibicarakan.
Bagi penggemar Attack on Titan, pengakuan Isayama mungkin terasa menyedihkan. Namun di sisi lain, kejujuran ini justru mempertegas betapa besar harga yang harus dibayar untuk melahirkan sebuah karya monumental. Meski kecil kemungkinan ia kembali dengan manga panjang selevel Attack on Titan, karya-karya pendek Isayama dan perannya dalam menjaga warisan serial tersebut tetap menjadi kontribusi penting bagi dunia manga.
Attack on Titan mungkin memang akan tetap berdiri sebagai satu-satunya mahakarya besar Hajime Isayama. Dan justru karena itulah, kisah tersebut terus hidup sebagai bukti dari seluruh ide, tenaga, dan emosi yang pernah ia curahkan tanpa sisa.










