LayarHijau.com – Para pelaku industri hiburan China ramai membahas teknologi AI dan dampaknya terhadap produksi film dan drama setelah platform Seedance 2.0 melakukan uji coba terbatas pada 7 Februari. Seedance adalah layanan milik ByteDance, perusahaan teknologi besar asal China yang juga mengelola TikTok. Platform ini memungkinkan pembuatan video, film, dan drama dengan bantuan AI atau kecerdasan buatan—teknologi komputer yang bisa membantu membuat adegan atau cerita seperti yang biasanya dibuat manusia.
Banyak orang kini menyadari bahwa AI bisa memengaruhi atau bahkan menggantikan sebagian proses kreatif di industri hiburan lebih cepat dari yang dibayangkan. Sebelumnya, pembuat film dan drama masih bertanya-tanya apakah hasil AI cukup realistis, apakah bisa menggantikan aktor, atau apakah kualitasnya memadai. Dengan teknologi terbaru ini, banyak perusahaan sudah mulai menyiapkan strategi untuk menggunakan AI dalam produksi mereka.
Beberapa pelaku industri menyebutkan bahwa AI paling terasa pengaruhnya pada film dan drama panjang, terutama dalam menekan biaya. Sekarang, beberapa adegan yang dulunya harus dibuat secara nyata bisa diganti dengan bantuan AI, sehingga pengeluaran menjadi lebih efisien.

Namun yang paling mengejutkan terjadi pada film dan drama pendek. Masalah lama produksi video AI adalah konsistensi dan kesinambungan: apakah karakter dan elemen di adegan sebelumnya tetap sama di adegan berikutnya, dan apakah alur cerita tetap mulus tanpa terlihat “berantakan”. Masalah ini sekarang sudah banyak teratasi, memungkinkan produksi film dan drama pendek berkualitas tinggi menggunakan AI.
Pertanyaan besar muncul di industri: apakah masih layak membuat film atau drama dengan biaya di bawah 500.000 yuan (sekitar Rp1,2 miliar)?
Saat ini, produksi premium biasanya membutuhkan biaya lebih dari 1.000.000 yuan (sekitar Rp2,4 miliar) per judul. Film atau drama di bawah 500.000 yuan sering kali kualitasnya kurang, dari naskah hingga dekorasi. Dengan hadirnya AI, produksi serupa bisa digantikan sepenuhnya dengan biaya yang jauh lebih rendah, bahkan bisa ditekan hingga di bawah 50.000 yuan (sekitar Rp120 juta) untuk seluruh episode. Beberapa animasi pendek tahun lalu bahkan berhasil membuat satu episode hanya dengan biaya sekitar 500 yuan (sekitar Rp1,2 juta).
Ke depan, pasar film dan drama kemungkinan terbagi menjadi dua: satu, produksi nyata dengan aktor terkenal, menggunakan AI sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas, dengan biaya tinggi; dua, produksi yang sepenuhnya dibuat dengan AI, menggantikan produksi berskala menengah yang sebelumnya membutuhkan puluhan hingga ratusan ribu yuan.
Meski produksi nyata tetap mendominasi pasar, AI akan menyasar banyak perusahaan dan tim kecil yang kini berisiko tertinggal. Beberapa tim mahasiswa bahkan mampu membuat film atau drama pendek berkualitas tinggi hanya dengan beberapa orang dan bantuan AI.
Seorang sutradara menyebutkan, “Enam bulan ke depan akan menjadi titik pembeda: perusahaan produksi menengah dan kecil harus cepat beradaptasi dengan AI, atau mereka akan tutup.”
Memang, Seedance 2.0 masih dalam tahap pengembangan awal dan belum sepenuhnya bisa menggantikan manusia. Namun, arah perkembangan AI menunjukkan kemungkinan era di mana satu orang bisa membuat film atau drama sendiri, dengan ide dan estetika pribadinya dibantu oleh AI untuk menghasilkan karya berkualitas, tanpa memerlukan tim besar atau anggaran tinggi.
Keunggulan tetap dimiliki oleh perusahaan besar: kreativitas, perencanaan, naskah matang, dan selera estetika tinggi akan menjadi kunci kompetitif. Yang tidak berubah adalah penonton: mereka hanya mau membayar untuk konten berkualitas. Di tengah perubahan besar ini, kualitas konten tetap menjadi patokan utama.










