LayarHijau.com – Aktris muda Zhou Ye tengah berada dalam pusaran kontroversi bertubi-tubi, memperlihatkan betapa rapuhnya citra bintang yang sedang menanjak di ekosistem media sosial Tiongkok.
Kronologi Serangan: Dari Perkataan Anak Selebritas hingga Memutar Mata
Dalam waktu dua hari, Zhou Ye terseret dalam dua insiden berbeda. Pertama, ia menjadi bahan perbincangan setelah suara putri pembawa acara terkenal Li Xiang, Wang Shiling, terdengar dalam siaran langsung mengatakan, “Aku tidak suka Zhou Ye.” Video pendek tersebut segera viral dan memicu perdebatan tentang reputasi sang aktris, tulis World Journal.

Belum reda kehebohan itu, Zhou Ye kembali menjadi sorotan panas setelah diduga “memutar bola mata” ke arah Dilraba Dilmurat saat menghadiri acara Dior di Paris Fashion Week. Potongan video berdurasi beberapa detik itu diunggah oleh sejumlah akun pemasaran (marketing account) dan segera menempati posisi teratas pencarian populer (hot search) Weibo dengan judul provokatif.
Meski beberapa penggemar mencoba meluruskan bahwa ekspresi tersebut ditujukan kepada staf di lokasi, narasi “ketidaksabaran” dan “ketidaksukaan terhadap Dilraba” sudah terlanjur menyebar luas.
Ini bukan pertama kalinya Zhou Ye disebut-sebut “kehilangan kendali terhadap ekspresi wajahnya.” Sebelumnya, ia dilaporkan menunjukkan tatapan dingin kepada reporter dan memutar bola mata di belakang panggung saat menghadiri sebuah acara CCTV. Beberapa orang dalam industri bahkan menggambarkan dirinya sebagai sosok yang “dingin dan sulit didekati.”
Isu seputar ekspresinya kali ini muncul tak lama setelah kesuksesan drama terbarunya, Legend of the Female General, yang telah menempatkannya di jajaran aktris muda paling diperhitungkan tahun ini. Di tengah gelombang rumor, Zhou Ye memilih untuk tidak menanggapi. Keputusan diam ini dinilai sebagai langkah hati-hati di dunia Weibo yang sangat cepat memproduksi isu baru — semakin dijelaskan, semakin panjang usia rumor.
Pola Serangan Ganda: Dari Kasus Wang Churan hingga Efek Domino Reputasi
Kasus Zhou Ye membuat publik teringat pada Wang Churan, contoh nyata bagaimana narasi negatif dapat berkembang menjadi kampanye hitam yang berkelanjutan.
Serangan terhadap Wang Churan bermula dari rumor asmara dengan Yang Yang yang beredar sebelum drama mereka tayang. Saat drama tersebut dirilis, persepsi publik sudah terbentuk negatif, menuduhnya menunggangi popularitas lawan main. Opini ini kemudian diperkuat oleh rangkaian visual dan gosip yang menyerang sikapnya.
Kampanye hitam terhadap Wang Churan menjadi efektif karena menyerang dua sisi:
Sikap terhadap publik dan staf: tersebarnya video siaran langsung yang memperlihatkan ia seolah memutar bola mata. Ekspresi ambigu ini diartikan sebagai tanda arogansi atau ketidaksabaran terhadap penggemar.
Sikap terhadap rekan kerja: tuduhan lain menyebutkan ia memperlihatkan ekspresi masam dalam acara yang juga dihadiri aktor Tan Jianci, memperkuat kesan bahwa ia sulit diajak bekerja sama.
Analisis: Mengapa Video “Memutar Mata” Begitu Efektif?
Kasus Zhou Ye dan Wang Churan memperlihatkan pola serupa di industri hiburan Tiongkok — bagaimana akun pemasaran dan warganet gemar membangun narasi persaingan antar-aktris serta menonjolkan sikap buruk sebagai bahan konsumsi digital.
Model kampanye visual seperti video “memutar bola mata” efektif karena daya tarik psikologisnya:
Akses Emosi Cepat: ekspresi nonverbal adalah bahasa universal untuk rasa jijik atau kesal. Potongan video singkat memicu reaksi emosional spontan tanpa membutuhkan konteks.
Bias Konfirmasi: begitu rumor negatif terbentuk, video ambigu ini berfungsi sebagai “bukti” visual yang memperkuat prasangka awal warganet.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana satu ekspresi wajah dapat disalahgunakan menjadi bahan perdebatan nasional, mempermainkan persepsi publik terhadap figur perempuan muda di industri hiburan.
Membangun Sikap Bijak di Era Video Pendek
Di tengah derasnya arus informasi hiburan Tiongkok, warganet disarankan menilai setiap video dengan konteks yang lebih utuh. Cuplikan singkat sering kali tidak mewakili keseluruhan situasi, apalagi jika berasal dari akun pemasaran yang mengandalkan sensasi.
Alih-alih langsung menarik kesimpulan, publik dapat menelusuri sumber video, waktu pengambilan, dan pihak pertama yang menyebarkannya. Langkah sederhana semacam ini membantu menghindari kesalahpahaman terhadap figur publik yang kerap menjadi pusat sorotan daring.
Narasi seperti “dua aktris yang saling bersaing” juga sudah lama menjadi pola berulang di media sosial Tiongkok. Dalam banyak kasus, pilihan seorang aktris untuk tidak menanggapi rumor bukanlah bentuk pembenaran, melainkan cara menjaga agar isu tersebut tidak terus bergulir di tengah algoritma yang gemar memperpanjang konflik.










