Netizen Korea Tuduh Kostum Pursuit of Jade Meniru Hanbok, Warganet Internasional Justru Ramai Membela Drama Ini

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – Drama China Pursuit of Jade (逐玉) kembali menjadi sorotan setelah topik ini memanas di media sosial. Pemicunya adalah pencapaian drama tersebut yang menduduki posisi kedua dalam daftar serial populer Netflix di Korea, yang justru memicu kecurigaan sebagian netizen setempat. Mereka menuduh bahwa capaian tersebut merupakan hasil rekayasa atau manipulasi data.

 

- Advertisement -

Perdebatan ini sempat menjadi trending di Weibo pada 17 Maret, dengan dua isu yang mencuat bersamaan: tuduhan manipulasi data penayangan dan tudingan peniruan budaya dalam desain kostum drama. Kedua isu ini kemudian saling berkelindan dan mendorong diskusi yang lebih luas di berbagai platform.

- Advertisement -

Kontroversi ini bermula dari klaim bahwa detail “kerah putih” atau pelindung leher dalam kostum karakter dianggap sebagai elemen khas pakaian tradisional Korea. Sejumlah pengguna media sosial di Korea menyebut desain tersebut sebagai ciri khas hanbok dan menuduh pihak produksi drama melakukan peniruan.

Isu tersebut dengan cepat meluas ke platform internasional seperti X (Twitter) dan Instagram. Namun alih-alih hanya menjadi perdebatan antara dua negara, diskusi ini berkembang ketika warganet dari berbagai negara ikut memberikan tanggapan dan membantah klaim tersebut.

Sejumlah pengguna dari Asia Tenggara hingga Amerika Selatan membagikan referensi sejarah dan perbandingan visual, menjelaskan bahwa elemen pelindung leher berwarna putih telah lama dikenal dalam sistem busana hanfu, khususnya pada era Dinasti Ming. Dalam praktiknya, bagian ini tidak hanya berfungsi menjaga kebersihan kerah, tetapi juga menjadi elemen estetika yang umum digunakan.

Penjelasan tersebut memperluas perspektif publik bahwa kesamaan elemen desain dalam pakaian tradisional tidak selalu berarti peniruan. Dalam konteks sejarah, interaksi budaya antara Tiongkok dan Semenanjung Korea memang telah berlangsung selama berabad-abad, termasuk dalam hal sistem busana.

- Advertisement -

Pada masa Dinasti Ming dan era Joseon di Korea, tercatat adanya hubungan diplomatik yang turut memengaruhi perkembangan budaya, termasuk dalam hal pakaian. Beberapa bentuk pertukaran tersebut bahkan melibatkan pemberian busana resmi dari kekaisaran Tiongkok kepada kerajaan Korea.

Perbedaan mendasar antara hanfu dan hanbok juga kembali menjadi bahan diskusi. Hanfu umumnya memiliki potongan menyilang dengan bentuk menyerupai huruf Y dan panjang hingga pinggang, sementara hanbok—khususnya atasan jeogori—memiliki bentuk lebih pendek dengan garis kerah berbentuk V dan pita yang diikat di bagian depan dada.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perdebatan tidak lagi sekadar soal desain, tetapi telah berkembang menjadi diskusi mengenai sejarah, identitas budaya, hingga klaim kepemilikan terhadap warisan tradisional.

Menariknya, keterlibatan warganet internasional dalam perdebatan ini turut menciptakan efek tidak langsung bagi popularitas drama. Peningkatan pencarian, diskusi di media sosial, hingga lonjakan penonton di platform streaming menunjukkan bahwa kontroversi justru memperluas jangkauan audiens.

Di berbagai negara, Pursuit of Jade dilaporkan mengalami peningkatan perhatian publik selama masa kontroversi berlangsung. Topik terkait drama ini juga menjadi trending di berbagai platform, memperlihatkan bagaimana isu budaya dapat mendorong eksposur sebuah karya secara signifikan.

Meski demikian, fenomena ini juga menyoroti tantangan dalam distribusi budaya di era digital. Tuduhan apropriasi budaya kerap muncul di tengah arus informasi yang cepat, terutama ketika interpretasi sejarah berbeda di tiap negara.

Pengamat menilai bahwa kunci dalam menghadapi situasi semacam ini terletak pada keseimbangan antara kepercayaan diri budaya dan keterbukaan terhadap dialog. Pendekatan berbasis riset sejarah, ditambah dengan komunikasi yang jelas kepada publik global, dinilai penting untuk menghindari kesalahpahaman serupa di masa depan.

Kontroversi ini pada akhirnya mencerminkan realitas baru dalam industri hiburan global: bahwa sebuah detail kecil dalam produksi dapat memicu diskusi besar lintas budaya. Di tengah derasnya arus globalisasi, kemampuan untuk menjelaskan, mengomunikasikan, dan membingkai budaya sendiri menjadi semakin krusial.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments