Review Film Condor Hero (2025)

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -
Sutradara: 
Lin Zhen Zhao 
Durasi: 
1 jam 46 menit 
Para pemeran: 
Zhao Hua Wei, Wang Zi Chun, Chen Zi Han, Bruce Leung, Fu Mei, Xing Yu 
Tayang: 
Tencent Video 

Sinopsis:

Yang Guo telah mengembara di dunia sejak kecil. Setelah diterima oleh pahlawan besar Guo Jing, ia menjadi murid Sekte Quanzhen. Namun, ia mengalami perlakuan buruk di Sekte Quanzhen karena latar belakang kehidupannya yang misterius. Tidak tahan dengan penyiksaan tersebut, ia secara kebetulan berpindah guru ke Xiaolongnu, pewaris sekte Kuburan Kuno dan belajar seni bela diri. Tak lama kemudian, ahli bela diri asing dari Mongol, Jinlun Fawang, bersama pengikutnya, datang ke selatan dan bekerja sama dengan murid terbuang dari Sekte Kuburan Kuno, Li Mochou, untuk merebut rahasia seni bela diri dan peta senjata yang tersembunyi di makam. Yang Guo dan Xiaolongnu, yang tanpa sengaja terlibat dalam sengketa di dunia persilatan, mengalami hidup dan mati bersama beberapa kali. Hubungan antara guru dan murid itu perlahan berkembang menjadi cinta yang penuh kepahitan. Selama masa ini, lengan Yang Guo terputus dan ia terjatuh dari tebing, di mana ia bertemu dengan “guru baik dan sahabat yang membantu,” yaitu Elang Raksasa.

Review:

Seperti menonton sebuah highlight pertandingan
Menarik – Padat – Terburu-buru 2.7
Cerita 2
Soundtrack 3
Akting 3

Film Condor Hero tayang di Tencent Video. Tapi para penonton di luar China tidak bisa menontonnya. Saya kebetulan menemukan film ini di Youtube dengan subtitle ala kadarnya. Jadi kenikmatan menonton film ini menurun karena saya kurang mengerti percakapan para karakter di dalamnya.

Novel Return of the Condor Heroes karya Jin Yong merupakan sebuah karya yang memiliki cerita yang kompleks dengan banyak karakter. Tapi tim produksi di balik Condor Hero (2025) berusaha mengangkat cerita yang kompleks dengan banyak karakter menjadi film dengan durasi di bawah dua jam. Setelah saya menonton film ini, saya baru tahu jika akan ada bagian kedua (atau mungkin bagian ketiga).

- Advertisement -

Pada akhirnya, untuk mengatasi tantangan yang ada, Condor Hero (2025) memilih menyajikan cerita yang berbeda dengan jumlah karakter yang dipangkas. Contohnya, nama Hong Qigong disebut oleh Guo Jing dan Huang Rong, tapi sosoknya tidak muncul. Ada beberapa bagian cerita yang ikonik dalam novel juga tidak ditampilkan.

Seri Novel Jin Yong,  RAJAWALI SAKTI & PASANGAN PENDEKAR

Novel Jing Yong tentang Yang Guo dan Xiao Longnu dalam terjemahan Bahasa Indonesia resmi.

Rp675.000Cek Harga

Para penggemar lama Jin Yong yang sudah familiar dengan novelnya dan berbagai adaptasinya tentunya tidak akan kesulitan mengikuti cerita film ini. Tapi mereka yang tidak familiar dengan novel Return of the Condor Heroes atau belum pernah menonton drama atau film yang diadaptasi dari novel itu mungkin akan kesulitan mengikuti alur cerita.

- Advertisement -

Ada beberapa karakter dalam drama ini yang tidak berkesan, contohnya 7 pendekar Quanzhen dan Ouyang Feng terlihat tidak menarik. Tapi beberapa karakter seperti Li Mochou dan Jinlung Fawang (Hakim Roda Emas) terlihat menarik dengan gaya pakaian dan kung fu yang mereka miliki.

Karakter utama kita, Yang Guo dan Xiao Longnu cukup menarik dengan desain yang standar seperti yang digambarkan novel. Tidak sulit untuk menerima Zhao Hua Wei memerankan Yang Guo. Sekalipun penampilan Wang Zi Chun sebagai Xiao Longnu mungkin tidak bisa dikatakan secantik Xiao Longnu seperti yang digambarkan dalam novel.

Karena cerita yang super padat dengan beberapa bagian yang diubah, para penonton sulit untuk merasa dekat atau berempati dengan para karakter dalam film ini. Kita lebih merasa menonton highlight atau sorotan dari sebuah cerita yang panjang. Pasangan utama kita dan dinamika hubungan mereka yang kompleks juga tidak bisa diceritakan dengan cara yang mampu menarik simpati para penonton. Bahkan progres Yang Guo belajar ilmu bela diri terasa seperti kita melihat The Flash berlari, secepat kilat.

Tapi salah satu hal yang menjadi poin positif film ini adalah desain beberapa setting tempat dalam cerita. Misalnya Kuburan Kuno yang biasanya dalam drama digambarkan sebagai tempat yang kecil di bawah kompleks kuburan, dalam film digambarkan menjadi sesuatu yang menarik.

Lebah madu yang dibesarkan Xiao Longnu dalam film berubah menjadi lebah dengan cahaya hijau yang mampu mengaktifkan tulisan dan gambar yang terukir di berbagai tempat di dalam Kuburan Kuno. Penggambaran ini merupakan penggambaran yang baru dan unik yang belum dipakai di adaptasi drama atau film lainnya.

Pertarungan Li Mochou dan Jinlun Fawang melawan Yang Guo dan Xiao Longnu juga menjadi poin positif lainnya. Sebagai penjahat utama dalam film, Jinlun Fawang diperankan dengan apik oleh Xing Yu. Bahkan tim produksi merancangkan kostum dan penampilan menarik untuk penjahat utama kita. Lima roda yang menjadi senjata khas si Hakim Roda Emas dan jurus kung fu juga terlihat menarik.

- Advertisement -

Cara tim drama menggambarkan kung fu khas aliran Kuburan Kuno juga menarik termasuk cara mereka menggambarkan Ilmu Pedang Hati Gadis Suci. Cara Xiao Longnu memakai selendangnya untuk mengikat pedang dan menggunakannya untuk bertarung juga merupakan sebuah hal yang unik dan menyegarkan.

Elang raksasa yang menjadi guru sekaligus sahabat Yang Guo dalam film muncul di bagian akhir. Sekalipun wujudnya tidak terlihat jelas, tapi sepertinya efek spesial untuk elang ini lebih baik dibandingkan versi beberapa drama sebelumnya. Tentunya kita perlu menonton film kedua untuk memastikan hal ini.

Jadi bisa dikatakan desain karakter beberapa karakter dan koreografi aksi dalam film ini menjadi dua bagian positif yang membuat film ini. Seandainya beberapa faktor yang membuat film ini menarik dipakai untuk versi drama, mungkin dramanya akan terlihat lebih menarik.

Setelah menonton beberapa film adaptasi novel Jin Yong seperti Sakra dan kemudian film ini, saya menyimpulkan jika keputusan untuk mengangkat sebuah cerita yang kompleks dengan banyak karakter ke dalam sebuah film singkat adalah keputusan yang salah.

Solusi yang lebih baik adalah mengangkat salah satu bagian cerita novel atau bahkan membuat cerita sampingan atau side story yang tidak ada di novel untuk diangkat ke dalam film. Dengan demikian, tim produksi bisa berkreasi lebih bebas menawarkan sesuatu yang belum dilihat para penonton. Contoh dari solusi ini adalah langkah yang diambil oleh Tsui Hark untuk mengangkat satu bagian dari novel Legend of the Condor Heroes ke dalam film.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments