LayarHijau.com – Drama era Born to Be Alive (生命树) yang dibintangi Yang Zi dan Hu Ge memulai tayangan perdananya pada 30 Januari, dan langsung mencatat posisi rating tinggi sejak awal. Drama ini menduduki peringkat pertama di platform Maoyan saat tayang perdana dan juga pada hari berikutnya, Senin, 2 Februari, menunjukkan antusiasme penonton yang signifikan. Di televisi nasional, CCTV‑8 mencatat puncak rating real-time untuk episode pertama sebesar 2,3859%, rekor tertinggi untuk saluran tersebut tahun ini, meskipun episode kedua turun menjadi rata-rata 1,77% sebelum kembali meningkat pada episode berikutnya dengan pangsa pasar gabungan 8,3% dan lonjakan hari ke hari 137%, serta episode kelima mencatatkan rekor tertinggi sejak awal tayang di channel ini.
Born to Be Alive bercerita tentang Duojie (Hu Ge), Wakil Bupati di Kabupaten Maji, Qinghai, yang membentuk tim patroli untuk menangani maraknya pemburu liar antelop di dataran tinggi. Bai Ju (Yang Zi), seorang polisi yang ditempatkan di sana setelah lulus akademi, sangat ingin ikut dalam patroli gunung namun awalnya tidak diizinkan, sehingga ia merasa kurang diperhatikan dalam tim. Bai Ju memiliki satu kakak perempuan dan satu adik laki‑laki, Bai Ji, yang pernah terlibat dengan pemburu liar demi uang dan bahkan nyaris dijual, namun berhasil diselamatkan oleh Bai Ju — menampilkan dinamika keluarga yang emosional.
Drama ini mengambil lokasi syuting di dataran tinggi Qinghai termasuk Golmud dan Delingha dengan ketinggian rata‑rata lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut. Yang Zi menjalani sekitar 188 hari syuting di kondisi ekstrem itu, termasuk penurunan berat badan signifikan demi peran tersebut. Biaya produksi per episode diperkirakan mencapai 8 juta yuan (sekitar Rp 19,3 miliar berdasarkan kurs Yuan–Rupiah ≈ Rp 2.415 per yuan), dengan total biaya produksi mencapai 32 juta yuan (sekitar Rp 77,2 miliar) untuk keseluruhan seri 40 episode.
Respons penonton terhadap drama ini cukup beragam. Banyak yang memuji aktualitas akting Hu Ge dan Yang Zi serta kualitas sinematografi yang mirip film, terutama dalam menggambarkan lanskap dataran tinggi dan hubungan emosional antar karakter. Adegan ketika Bai Ju menyaksikan keterlibatan adiknya dalam perburuan liar menampilkan ekspresi wajah yang kuat dan dinilai sebagai contoh akting yang patut diapresiasi, sementara dialog seperti “Ini adalah daerah tak bertuan, bukan daerah yang tak bisa ditangani” menunjukkan ketegangan yang meyakinkan.
Namun, drama ini juga menghadapi kritik. Sebagian penonton menilai alur cerita terasa longgar dan datar, serta ada perdebatan tentang tata rias karakter Bai Ju, yang dianggap kurang realistis dengan penggunaan lensa kontak kosmetik dan elemen makeup yang tidak sepenuhnya sesuai dengan setting lingkungan keras dataran tinggi. Kritik ini bahkan terbawa ke platform ulasan seperti Douban, di mana ratusan bahkan ribuan ulasan bintang satu muncul dalam waktu singkat, memicu perdebatan tentang ulasan negatif sengaja (“review bombing”).
Meski begitu, secara keseluruhan Born to Be Alive tetap dianggap sebagai drama penuh potensi, dengan kombinasi cerita yang emosional, akting yang mendalam, dan produksi berskala besar yang membuatnya menjadi salah satu tayangan yang paling banyak dibicarakan sejak awal musim penayangan ini.










