Pria Idaman di Drama China: Jago Masak, Setia, dan Mendukung Karier Wanita – Fantasi atau Realita?

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – Dalam beberapa tahun terakhir, drama Tiongkok semakin sering menampilkan karakter pria dengan sifat yang selama ini dianggap “feminin”: jago memasak, penuh toleransi, emosional, dan bahkan mendukung kesetaraan gender. Karakter-karakter ini seolah menjadi bentuk baru dari pria ideal—pengganti figur CEO dingin yang arogan menjadi sosok pria hangat yang siap memijit, memasak, dan mendukung pasangannya tanpa syarat.

Contohnya?

Karakter seperti Gu Wei (Xiao Zhan) dalam The Oath of Love adalah seorang dokter bedah yang piawai membuat kue lembut untuk pacarnya. Song Sanchuan (Wu Lei) dalam Nothing But You tak hanya memberi pijatan saat pacarnya cedera, tapi juga menjadi pendukung utama karier sang wanita dan vokal dalam menolak norma-norma patriarki.

- Advertisement -

Contoh lainnya:

Mo Qingcheng (Tan Jianci) dalam Love Me Love My Voice — seorang dokter sekaligus pengisi suara yang tetap menyempatkan diri memasak berbagai masakan, bahkan bisa meniru resep andalan restoran ternama.

Jiang Chengyi (Johnny Huang) dalam Love Song in the Winter — pria setia yang bukan hanya jago masak, tapi juga berasal dari keluarga di mana para pria memang mewarisi keterampilan memasak turun-temurun. Sang ayah bahkan bercanda bahwa pekerjaan rumah adalah domain para pria.

- Advertisement -

Shi Yan (Dylan Wang) dalam Only for Love — CEO dingin yang ternyata jago masak dan memberikan dukungan penuh terhadap karier kekasihnya (diperankan Bai Lu), bahkan memotivasi dengan kata-kata seperti: “Aku tak sabar melihatmu bersinar di dunia profesional.”

Sang Yan (Bai Jingting) dalam The First Frost — pernah ditolak Wen Yifan saat SMA, tapi tetap diam-diam memperhatikan kehidupan Wen Yifan selama kuliah dari kejauhan meski tinggal di kota berbeda. Ketika akhirnya tinggal serumah, ia secara tidak langsung merawat dan mendukung Wen Yifan lewat masakan dan dukungan karier.

Respons Penonton di China

Di kalangan penonton wanita Tiongkok, reaksi terhadap karakter-karakter ini sangat beragam. Para penonton muda—khususnya perempuan berusia 18–30 tahun—menyambut positif penggambaran pria seperti ini. Bagi mereka, sosok yang hangat, jago masak, dan suportif adalah bentuk ideal pasangan masa kini. Mereka kerap meninggalkan komentar yang memuji seperti, “Andai pacarku bisa masak seperti dia,” atau menyebut karakter-karakter ini sebagai “healing boyfriend” yang memberikan rasa aman dan tenang.

Namun, lain halnya dengan penonton wanita yang lebih dewasa, terutama yang telah menikah atau memiliki pengalaman hidup lebih panjang. Mereka cenderung menganggap penggambaran ini terlalu manis untuk menjadi kenyataan. Beberapa mengkritik bahwa karakter pria seperti itu hanya eksis di dunia fiksi. Seorang pengguna menulis, “Ayahku bahkan tak mau mengambil kecap sendiri di meja makan, bagaimana mungkin ada pria bisa begini?” Ada pula yang menyebut bahwa representasi semacam ini malah bisa membuat perempuan merasa tidak realistis dalam menetapkan ekspektasi terhadap pasangan nyata. Beberapa di antara mereka justru menilai karakter seperti Zhou Bingkun dalam A Lifelong Journey sebagai representasi pria yang lebih realistis—tidak sempurna, tapi konsisten hadir dan berbagi tugas dalam rumah tangga.

Di sisi lain, penonton pria juga memberikan respons beragam. Kaum pria muda sebagian justru menganggap karakter-karakter ini inspiratif dan menggambarkan bentuk maskulinitas yang baru—yang tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik atau dominasi, tetapi juga pada empati dan kehangatan emosional. Namun pria dewasa cenderung lebih skeptis. Ada yang menilai bahwa pria seperti ini tidak nyata dan hanya ditulis untuk memenuhi fantasi perempuan. Komentar seperti “Chef profesional itu banyak pria, tapi bukan berarti kami harus masak di rumah juga” atau “Jadi pria baik kok sekarang malah dibilang fake?” menunjukkan adanya resistensi terhadap pergeseran peran gender ini.

Respons Penonton Internasional

Di luar Tiongkok, banyak penonton—khususnya perempuan muda—menganggap kehadiran karakter pria seperti ini sebagai angin segar. Mereka menyebutnya sebagai alternatif yang lebih menenangkan dibandingkan pria-pria dominan dalam drama Korea atau karakter macho dalam serial Barat. Karakter pria yang jago memasak, perhatian, suportif, dan feminis dianggap sebagai pasangan impian.

- Advertisement -

Namun, tetap ada kritik yang menyebut bahwa pria-pria ini terlalu sempurna dan tidak realistis. Karakter Mo Qingcheng (Tan Jianci), misalnya, dikritik oleh beberapa penonton karena dianggap terlalu obsesif dan “creepy” dalam memperhatikan pemeran utama wanita. Chemistry antara karakter utamanya juga dinilai kurang kuat, membuat kisah cintanya terasa datar.

Sang Yan (Bai Jingting) justru dinilai terlalu sempurna sebagai pria penyayang. Beberapa penonton internasional menyebut karakternya terlalu idealis dan tidak manusiawi karena tidak menunjukkan konflik atau ambisi personal yang nyata.

Jiang Chengyi (Johnny Huang) mendapat pujian atas chemistrynya yang kuat dengan pemeran utama wanita, tapi sebagian juga mengkritik dinamika hubungan mereka yang dianggap terlalu posesif dan membawa kesan toxic.

Sementara itu, Shi Yan (Dylan Wang) dipandang sebagian penonton sebagai representasi pria modern, namun tidak sedikit yang menyebut karakternya terlalu “plastik” dan kurang emosi. Chemistry dengan pemeran wanita juga dirasa kurang alami.

Komentar dari Penulis Naskah

Seorang penulis drama yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan dilema mereka: “Fans membenci karakter pria patriarkal, tapi ketika kami buat pria ideal, mereka bilang terlalu palsu. Sulit sekali menemukan keseimbangan.” Komentar ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi penulis naskah dalam menyeimbangkan antara harapan pasar dan realitas karakter.

Studi Kasus: Nothing But You (2023)

Karakter Song Sanchuan (Wu Lei) dianggap sebagai perwujudan pria modern ideal: bisa memasak, perhatian, emosional, dan menolak norma patriarki. Ia juga tidak tergoda oleh wanita lain meski lebih kaya dan cantik dari kekasihnya. Ia tidak hanya menjadi partner romantis, tapi juga menjadi partner emosional dan profesional.

Drama ini mendapatkan rating tinggi di Douban, dan data menunjukkan 88% penontonnya adalah wanita di bawah usia 35 tahun. Ini menandakan bahwa representasi pria seperti Song Sanchuan sangat resonan di kalangan penonton muda, khususnya wanita yang mendambakan hubungan yang lebih setara dan suportif.

Kesimpulan: Realita atau Fantasi Kolektif?

Karakter-karakter ini memang mencerminkan perubahan budaya, tapi juga bisa dibaca sebagai bentuk fantasi baru. Dulu yang diidamkan adalah CEO dingin dan dominan, kini diganti dengan pria hangat, setia, dan feminis.

Tokoh seperti Zhou Bingkun dalam A Lifelong Journey menawarkan sesuatu yang lebih membumi—tidak sempurna, tapi hadir dan setara dalam rumah tangga. Mungkin, pria ideal bukanlah mereka yang super segalanya, tapi yang bersedia berbagi keseharian.

📍Sekarang giliranmu. Apakah kamu lebih suka karakter pria ideal seperti ini di drama? Apakah mereka terasa realistis atau sekadar pemanis layar?

Yuk diskusi di kolom komentar!

(Berbagai sumber)

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

1 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback
7 months ago

[…] kemudian menangkap tren ini dan menampilkannya lewat karakter-karakter pria baru, meninggalkan stereotip CEO dingin atau pria dominan yang tidak […]