Posted in

Xiao Zhan Bilang Bisa Masak, Perempuan China Tersentuh, Perempuan Indonesia Bercanda Tinggal Order

Bagikan

LayarHijau.com – Pada November 2024 lalu, LayarHijau sempat membagikan kembali cuplikan video lama dari Xiao Zhan, aktor populer asal Tiongkok, yang ketika itu sedang menjawab pertanyaan ringan: apakah ia keberatan jika pasangannya nanti tidak bisa memasak. Dengan senyum tenang, ia menjawab, “Tidak masalah! Karena aku bisa masak.”

Pernyataan singkat ini ternyata menimbulkan gelombang reaksi yang sangat berbeda di antara netizen perempuan di Tiongkok dan Indonesia. Di satu sisi, banyak yang menganggapnya sebagai pernyataan penuh cinta dan kesediaan berbagi peran dalam rumah tangga. Di sisi lain, komentar-komentar yang muncul justru mengalihkan fokus dari romantisme ke soal praktis: “tinggal order saja.”

Dukung Layar Hijau

Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.

Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.


Untuk pengguna di Indonesia

Untuk pengguna internasional

Informasi lebih lanjut, klik di sini.

Xiao Zhan dan Sosok Suami Idaman di Tiongkok

Dalam wawancara yang sama, Xiao Zhan juga menanggapi istilah “耙儿” (bā er), yaitu dalam dialek Sichuan merujuk pada pria ‘takut istri’. Menurutnya, istilah itu bukanlah penghinaan, melainkan ekspresi cinta. “Di luar rumah aku bisa melindunginya dari angin dan hujan, tapi di rumah aku akan mencintainya sepenuh hati,” katanya.

Bagi banyak perempuan muda di Tiongkok, pernyataan seperti ini dianggap “green flag”—tanda bahwa seorang pria dewasa, penuh kasih, dan siap berbagi beban rumah tangga. Komentar seperti, “Kalau cowok kayak gini nyata, langsung nikah hari ini juga”, kerap muncul di Weibo dan Xiaohongshu.

Respons Netizen Indonesia: Romantisme Diubah Jadi Soal Uang

Namun ketika video yang sama dibagikan di Indonesia, komentarnya justru lebih pragmatis:

“Tinggal bayar orang aja yang bisa masak.”
“Yang penting duitnya banyak, urusan dapur bisa GoFood.”
“Aku cuma bisa masak air, tapi bisa bikin kamu bahagia.”

Alih-alih menanggapi sisi romantis dan empatik dari pernyataan Xiao Zhan, banyak netizen Indonesia—baik perempuan maupun laki-laki—justru menanggapi dari sudut kemudahan hidup karena uang. Aktivitas memasak dianggap bisa digantikan jasa atau teknologi.

Fenomena ini mengingatkan pada diskusi viral di TikTok Indonesia, di mana banyak Gen Z perempuan menyatakan tak ingin memasak atau menjadi ibu rumah tangga, namun tetap mengharapkan pasangan yang mapan dan bertanggung jawab penuh dalam hal finansial. Di sisi lain, muncul komentar-komentar dari pria yang merasa kewalahan atau tidak dihargai karena ekspektasi terhadap mereka dianggap semakin berat.

Cerminan dari Layar Kaca: “Pria Ideal” di Drama Tiongkok

Menariknya, harapan para perempuan muda Tiongkok terhadap pasangan ideal tidak datang dari ruang kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, drama-drama China membanjiri layar dengan karakter pria yang bisa memasak, sensitif secara emosional, mendukung karier pasangan, bahkan vokal dalam kesetaraan gender.

Namun sebenarnya, perubahan ini bukan dimulai dari drama—melainkan dari pergeseran nilai dalam masyarakat itu sendiri. Banyak perempuan Gen Z di Tiongkok yang sudah lebih dulu menginginkan pasangan yang suportif, egaliter, dan mampu hadir secara emosional. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka terhadap wacana kesetaraan, pendidikan tinggi, dan ekspektasi relasi yang lebih sehat.

Drama kemudian menangkap tren ini dan menampilkannya lewat karakter-karakter pria baru, meninggalkan stereotip CEO dingin atau pria dominan yang tidak peka. Sebagai gantinya, mereka hadirkan pria yang lembut, suportif, dan aktif berbagi beban rumah tangga.

Setelah karakter seperti itu muncul, ekspektasi publik justru semakin menguat. Banyak perempuan Gen Z merasa lebih berani menyuarakan harapannya karena mereka merasa: “Kalau di drama bisa, kenapa di dunia nyata tidak?”

Penelitian dari East China Normal University (2023) mencatat bahwa 67% perempuan Gen Z di Tiongkok mengaitkan karakter pria ideal dengan kemampuan berbagi beban domestik dan dukungan emosional. Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa tayangan-tayangan drama populer kini berfungsi sebagai “validasi sosial” terhadap nilai-nilai kesetaraan yang mulai berkembang.

Karakter-karakter pria seperti ini pun semakin banyak muncul:

Gu Wei (Xiao Zhan) dalam The Oath of Love – dokter yang juga bisa memanggang kue untuk pacarnya.

Song Sanchuan (Wu Lei) dalam Nothing But You – pria yang memijat pacarnya saat cedera dan jadi pendukung terbesarnya secara emosional dan profesional.

Mo Qingcheng (Tan Jianci) dalam Love Me Love My Voice – dokter sekaligus voice actor yang bisa memasak berbagai masakan rumit.

Jiang Chengyi (Johnny Huang) dalam Love Song in the Winter – berasal dari keluarga di mana memasak adalah tradisi pria.

Shi Yan (Dylan Wang) dalam Only for Love – CEO yang mendukung penuh karier pacarnya.

Sang Yan (Bai Jingting) dalam The First Frost – pria yang diam-diam selalu ada, mendukung, dan menunjukkan cintanya lewat tindakan kecil seperti memasak.

Drama-drama ini disambut hangat oleh penonton perempuan muda. Banyak yang menyebut para tokoh pria ini sebagai “healing boyfriend”—pasangan yang memberi rasa aman, bukan tekanan. Namun, sebagian perempuan yang lebih dewasa menganggap karakter seperti itu terlalu ideal untuk kenyataan, dan lebih memilih sosok seperti Zhou Bingkun dari A Lifelong Journey—tidak sempurna, tapi bertanggung jawab dan konsisten.

Apa Kata Penelitian?

Sementara di Tiongkok, tayangan drama berfungsi sebagai cermin sekaligus penguat nilai baru, di Indonesia tren serupa masih lebih dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi. Survei Jakpat (2022) menunjukkan bahwa perempuan Gen Z Indonesia mulai membuka diri terhadap hubungan yang setara, namun tuntutan agar pria menjadi tulang punggung keuangan tetap kuat.

Dalam praktiknya, banyak relasi masih beroperasi dengan ekspektasi tradisional: pria wajib memberi nafkah, perempuan boleh bekerja tapi tetap diharapkan mengurus rumah—kecuali bila ada bantuan asisten rumah tangga atau layanan online.

Respons Dewasa: Perempuan dan Pria Usia 24–34 di Tiongkok dan Indonesia

Jika diperluas ke kelompok usia 24–34, baik di Tiongkok maupun Indonesia, terlihat dinamika yang lebih realistis dan matang.

Di Tiongkok, perempuan usia ini mulai membangun keseimbangan antara harapan dan realita. Mereka menyukai pria romantis dan suportif, namun lebih terkesan oleh pasangan yang punya inisiatif dan tanggung jawab nyata di rumah. Gestur seperti memasak masih dianggap manis, bukan karena hasilnya, tapi karena maknanya: kesediaan berbagi, bukan dominasi. Namun satu hal yang menonjol—yang benar-benar mereka nilai adalah apakah pasangannya punya arah hidup dan tanggung jawab jangka panjang.

Di Indonesia, perempuan usia ini tetap menaruh prioritas pada kemapanan finansial, namun dengan harapan yang sedikit lebih realistis dibanding Gen Z muda. Mereka tidak menuntut kesempurnaan, tapi ingin pasangan yang punya arah hidup, bisa diajak bekerja sama, dan hadir secara emosional. Romantisme seperti yang ditampilkan Xiao Zhan tetap menarik—namun hanya jika dibarengi kemampuan memberi rasa aman dan tidak lepas tangan.

Riset Katadata Insight Center (2022) menemukan bahwa 64% perempuan Indonesia usia 25–34 menilai penting keterlibatan langsung pasangan dalam urusan rumah tangga, bukan karena tak bisa diselesaikan oleh asisten rumah tangga atau jasa pesan makanan, tetapi karena itu menunjukkan perhatian nyata dan rasa peduli yang tidak bisa dibayar.

Dari sisi pria, di Tiongkok, kelompok 24–34 mengalami pergeseran nilai: mereka tumbuh dalam budaya patriarkal, namun kini menghadapi tuntutan untuk menjadi pasangan setara. Sebagian menerima dengan positif—belajar masak, merawat anak, terbuka secara emosional. Tapi sebagian lain merasa terjepit dan tertekan, antara ekspektasi lama dan idealisme baru.

Di Indonesia, pria usia ini merasa tekanan finansial sangat dominan. Mereka harus bisa menyediakan semua kebutuhan rumah tangga, bahkan ketika pasangannya bekerja. Beberapa dari mereka mengeluh di media sosial, merasa ekspektasi terhadap laki-laki makin tinggi: harus mapan, sabar, romantis, bisa masak, dan paham emosi.

Namun di kedua negara, ada kesamaan: sebagian pria mulai berubah—bukan karena terpaksa, tapi karena mereka menyadari bahwa cinta dan relasi sehat butuh kolaborasi, bukan hanya peran tunggal.

Pertanyaan untuk Kita: Apa Arti Masak dan Pekerjaan Rumah?

Kalau urusan rumah bisa diserahkan ke asisten atau layanan online, apakah itu artinya tak perlu kita lakukan sendiri?

Atau justru di situlah letak nilainya—karena yang kita bagi bukan hanya tugas, tapi juga perhatian, cinta, dan niat untuk membangun kehidupan bersama?

Kesimpulan

Video lawas Xiao Zhan dan respons berbeda antara penonton Tiongkok dan Indonesia mengungkap cara kita masing-masing memaknai cinta dan peran dalam relasi. Bagi sebagian orang, cinta terlihat dari tindakan sederhana seperti memasak. Bagi yang lain, itu hanyalah urusan yang bisa digantikan uang.

Namun di balik semua itu, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting: Apakah kita siap saling berbagi dalam hubungan? Bukan hanya soal makanan, tapi juga soal tanggung jawab, perasaan, dan waktu.

Kaca Pembesar HP

Kaca Pembesar HP
★★★★ 4 Stars

Produk inovatif.

Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.

Kualitas hingga HD, harga murah meriah.

Cek Harga →

Holder Jepit HP

Holder Jepit HP
★★★★½ 4.5 Stars

Aksesoris tonton drama.

Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.

Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.

Cek Harga →

Proyektor HP

Proyektor HP
★★★★½ 4.5 Stars

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.

Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.

Cek Harga →

Bagikan

Tim suka menulis berbagai hal, dan menonton film, serial TV, drama atau sekedar menonton video lainnya di YouTube. Pada waktu senggang, Tim suka belajar membuat ramen.

Your email address will not be published. Required fields are marked *