LayarHijau.com – Drama Reborn (焕羽) menjadi sorotan sejak penayangannya dimulai. Dibintangi oleh Zhang Jingyi dan Zhou Yiran, drama ini tampil beda dari drama remaja kebanyakan. Bukan hanya soal cinta dan masa muda, Reborn mengangkat kisah misteri dan trauma keluarga dengan pendekatan emosional yang mendalam. Inilah yang membuatnya terasa istimewa dan semakin disukai oleh penonton wanita, terutama mereka yang sebelumnya terhubung dengan drama sejenis seperti Reborn.
Dalam cerita, Qiao Qingyu (Zhang Jingyi), seorang siswi pindahan berusia 16 tahun, berusaha mengungkap misteri kematian kakaknya enam tahun lalu yang diselimuti rumor dan diamnya satu desa. Ia ditemani oleh Mingsheng (Zhou Yiran), siswa populer yang tampak dingin dan memberontak, namun menyimpan hati yang lembut. Bersama-sama, mereka menghadapi luka masa lalu dan menemukan kekuatan dalam proses saling menyembuhkan.
Ketika ditanya tentang pemahaman terhadap karakter masing-masing, Zhang Jingyi menyebut bahwa Reborn lebih dari sekadar pencarian kebenaran. “Saya rasa konflik Qingyu dengan orang tuanya mencerminkan jarak emosional antar generasi. Tapi lewat penyelidikan ini, dia juga belajar memahami orang tuanya dan generasi kakaknya,” ungkapnya kepada Sohu. Drama ini bagi Zhang adalah proses refleksi—tentang empati, luka yang tidak terlihat, dan perlahan-lahan memaafkan.
Zhou Yiran pun melihat Mingsheng sebagai seseorang yang “berduri di luar tapi sangat lembut di dalam.” Sosok yang terlihat acuh, tapi diam-diam selalu hadir dan mendampingi, terutama di saat-saat paling sulit. Ia menggambarkan Mingsheng sebagai 60% pendamping, 20% kekanak-kanakan, dan 20% santai—perpaduan yang membuat karakter ini sangat hidup di mata penonton.
Chemistry antara keduanya terasa sangat alami. Meski sama-sama introvert, mereka mengaku akrab karena sering berbagi waktu di lokasi syuting. Zhang mengingat momen pertama yang tak terlupakan: “Waktu syuting hari pertama, saya melihat dia sedang rebahan di lantai. Saya pikir, wah, orang ini menarik—santai banget, nggak punya beban.” Bahkan mereka saling menyimpan foto satu sama lain saat tertidur, menunjukkan kedekatan yang tulus.
Ketika ditanya tentang adegan yang paling berkesan, keduanya kompak menyebut bagian akhir ketika mereka bermain di taman hiburan saat matahari terbenam. “Waktu itu senja, kami syuting seharian tapi suasananya hangat. Rasanya benar-benar seperti penutupan yang damai untuk perjalanan emosional mereka,” ujar Zhang. Zhou juga menyebut adegan saat salju turun menjelang akhir episode sebagai momen yang layak ditonton berulang-ulang.
Lebih dari sekadar kisah, Reborn ternyata juga menjadi titik refleksi personal bagi Zhang Jingyi. Ia sempat merilis lagu solo yang direkam empat tahun lalu, dan akhirnya memilih merilisnya sekarang sebagai cara untuk melepaskan masa lalu. “Waktu pertama kali mulai akting, saya bingung, tidak tahu apa yang saya lakukan. Tapi sekarang saya sudah bisa berdamai dengan masa itu, dan lagu itu merekam sisi diri saya yang sangat jujur dan rapuh.”
Sementara itu, Zhou Yiran menceritakan perjalanannya ke Islandia sebagai bentuk pelarian dan jeda dari rutinitas syuting. Ia membawa makanan sendiri—mi instan dan saus Lao Gan Ma—karena tidak cocok dengan makanan lokal, sambil tertawa malu-malu. “Saya suka berbagi hidup saya di sela waktu kerja. Itu bukan gaya pacar-pacaran seperti yang dibilang netizen, tapi memang saya suka memberi kabar.”
Ketika ditanya apakah ingin kembali berkolaborasi, keduanya menjawab dengan antusias. “Tapi jangan SMA lagi,” celetuk Zhang. Zhou menambahkan, “Coba drama fiksi ilmiah, atau jadi partner balap. Dia navigator, aku yang nyetir.” Mereka juga sepakat tidak ingin memainkan karakter yang saling bermusuhan. “Lebih enak jadi rekan seperjuangan,” ucap Zhang.
Dengan visual yang memikat, dinamika karakter yang kuat, dan alur misteri yang terus berkembang, Reborn memberi ruang bagi penonton untuk ikut merasakan luka, pencarian, dan penyembuhan yang dialami tokoh-tokohnya. Drama ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga mengajak kita merenung—tentang keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk menghadapi kebenaran.










