Ending Drama Sword and Beloved Buat Hati Penonton Berkecamuk: Akhir yang Bahagia atau Sedih?

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – Drama terbaru Cheng Yi dan Li Yitong, Sword and Beloved (天地劍心, Tiāndì Jiànxīn), menayangkan episode terakhirnya semalam dan berhasil mencatat total tayangan lebih dari 626 juta. Drama ini kembali menempati posisi kedua di tangga drama China Maoyan, hanya di bawah Fight for Love (山河枕, Shānhé Zhěn, Perang untuk Cinta), serta mengalahkan Strange Tales of Tang Dynasty III: To Chang’an (唐朝詭事錄之長安, Tángcháo Guǐshì Lù zhī Cháng’ān), Blood River (暗河傳, Àn Hé Zhuàn, Sungai Darah), dan Whispers of Fate (水龍吟, Shuǐ Lóng Yín, Nyanyian Naga Air).

Peringatan spoiler: bacalah dengan pertimbangan, karena isi berikut membahas adegan klimaks dan ending drama.

Di episode terakhir, Li Yitong secara sukarela membiarkan Cheng Yi mengambil “benih rasa sakit” dalam tubuhnya untuk membantu mengalahkan antagonis terakhir, Black Fox. Akibatnya, ia kembali ke wujud laba-laba menunggu kelahiran kembali. Cheng Yi, memikul amanat orang tua dan Masked Sect (面具团, miànjù tuán, Sekte Bertopeng), mengorbankan nyawanya untuk mengaktifkan “Heaven and Earth Sword” (天地一劍, Tiāndì Yī Jiàn, Pedang Langit dan Bumi) yang memadukan Pedang Kekuasaan dan Sinar Matahari Murni, sambil meninggalkan pesan terakhir: “Prajurit lahir sebagai persembahan, diberikan untuk langit dan bumi, tanpa penyesalan!”

- Advertisement -

Peringatan spoiler tambahan: adegan berikut mengandung momen tragis dan emosional yang kuat.

Mereka berdua akhirnya menaiki perahu menuju Huai Shui Bamboo Pavilion (淮水竹亭, Huáishuǐ Zhú Tíng, Paviliun Bambu Sungai Huai) untuk menyaksikan matahari terbenam terakhir, sesuai permintaan Li Yitong. Dalam momen itu, percakapan mereka dipenuhi kesedihan dan keikhlasan: Wang Quan Fugui berkata, “Matahari terbenam ini indah, keinginan terakhirmu sudah tercapai.” Li Yitong meneteskan air mata, “Matahari terbenam, burung-burung kembali ke sarang, dan laba-laba kecil juga harus pergi ke tempatnya. Kehidupan ini sudah cukup.”

Li Yitong kemudian mengorbankan diri; tubuhnya dipenuhi darah saat benih cinta diambil, sambil meninggalkan kata-kata terakhir: “Terima kasih sudah memberiku hidup yang begitu indah. Selamat tinggal, Tuan Fugui-ku.” Cheng Yi menanggapi dengan tenang, “Terima kasih atas pengorbananmu.”

- Advertisement -

Setelah itu, Cheng Yi menghadapi Black Fox sendirian, mengenakan baju perang putih dengan rambut memutih. Suara Li Yitong dalam benih cinta yang tersisa membantunya bangkit. Duel sengit terjadi, dan akhirnya Wang Quan Fugui memilih mengorbankan diri untuk mengaktifkan “Heaven and Earth Sword” (天地一劍, Tiāndì Yī Jiàn, Pedang Langit dan Bumi), menghancurkan Black Fox. Sebelum meninggal, ia menyalurkan sisa tenaga spiritual ke dalam benih cinta Li Yitong, memungkinkan Li Yitong kembali sebagai laba-laba di bawah Pohon Penderitaan menunggu kelahiran kembali. Adegan ini membuat banyak netizen menangis haru.

Selain pasangan utama, karakter lain juga menghadapi ending tragis: Quan Rumu (郭俊辰, Guō Jùnchén) dibunuh oleh ayah dan istrinya, Quan Jingteng (譚凱, Tán Kǎi), sedangkan Long Weiyun (何瑞賢, Hé Ruìxián) mengakhiri hidupnya dalam balutan gaun pengantin berdarah, meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.

Ending ini menegaskan tema pengorbanan, kesetiaan, dan takdir berat, sekaligus menjadi penutup epik untuk drama fantasi aksi yang penuh emosi ini.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments