LayarHijau.com – Informasi tentang rencana kegiatan bertema Pokémon yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Januari di Kuil Yasukuni memicu perhatian luas di media sosial China dan internasional. Topik “Pokémon Yasukuni Shrine” sempat masuk daftar trending, dengan banyak warganet menilai kegiatan tersebut menyentuh isu sensitif sejarah dan menuntut penjelasan serta permintaan maaf dari pihak terkait.
Pokémon merupakan IP game dan anime terkenal yang dikembangkan oleh Game Freak dan Creatures, serta diterbitkan oleh Nintendo. Karakter seperti Pikachu dan Psyduck dikenal luas di seluruh dunia, dan pasar China selama ini menjadi salah satu pilar penting strategi global Pokémon.

Osmanthus Honey Ala Luke The Early Spring
Osmanthus honey terinspirasi dari drama The Early Spring. Minuman yang sering dibuatkan Luke untuk Flora.
Bentuk produknya seperti selai. Penggunaannya tinggal dicampurkan air hangat atau susu.
Kami memperoleh komisi kecil setiap kali kalian melakukan pembelian melalui link yang kami berikan, tanpa ada tambahan biaya untuk kalian.
Kegiatan di Kuil Yasukuni dan Kontroversinya
Kegiatan yang dimaksud adalah acara bertajuk “Pokémon Card Children Experience Classroom”, sebuah aktivitas keluarga yang direncanakan berlangsung di area Kuil Yasukuni. Kegiatan tersebut bukan diselenggarakan langsung oleh Pokémon atau Nintendo, melainkan oleh pihak klub olahraga di Distrik Chiyoda Tokyo, perusahaan perantara FRD, serta organisasi Sake Of Peace. Pengalaman bermain kartu Pokémon hanya menjadi salah satu rangkaian acara.
Namun, informasi kegiatan tersebut sempat dipublikasikan di situs resmi Pokémon sebelum akhirnya dihapus setelah menuai kecaman. Hal ini membuat banyak pihak mempertanyakan proses peninjauan dan persetujuan dari pihak resmi Pokémon.

Menurut penjelasan yang beredar, kegiatan kartu Pokémon biasanya terbagi menjadi dua jenis: acara resmi yang diselenggarakan langsung oleh Nintendo atau Pokémon, serta kegiatan “approved independent event” yang diajukan oleh pemain kartu bersertifikat sebagai penyelenggara mandiri. Dalam kategori kedua, penyelenggara menyediakan tempat dan tenaga sendiri, sementara pihak Pokémon hanya menampilkan informasi di situs resmi dan memberikan dukungan terbatas seperti hadiah kecil. Acara di Kuil Yasukuni disebut termasuk kategori ini.
Meski demikian, sejumlah warganet menilai bahwa selama kegiatan tersebut muncul di situs resmi Pokémon, pihak perusahaan tetap tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab karena proses publikasi memerlukan persetujuan internal.
Kritik dan Reaksi Publik
Dua pengaju kegiatan diketahui adalah pemain kartu Pokémon dengan nama daring “Nagoshi” dan “P”. Setelah kontroversi muncul, Nagoshi menghapus pengumuman acara dan menyatakan pembatalan kegiatan, sekaligus meminta maaf kepada pihak yang berharap hadir. Sementara itu, tautan kegiatan masih terlihat di akun media sosial “P”.

Hingga saat ini, Nintendo dan Pokémon belum memberikan penjelasan atau permintaan maaf resmi. Kritik publik terutama terfokus pada tiga hal:
Pertama, kegagalan sistem peninjauan sehingga acara di lokasi sensitif bisa disetujui dan dipublikasikan.
Kedua, penghapusan halaman acara dianggap menunjukkan pihak Pokémon memahami sensitivitas isu tersebut, namun tidak menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi.
Ketiga, banyak warganet menilai perusahaan Jepang tidak seharusnya meraup keuntungan dari pasar China sambil mengabaikan perasaan publik terkait isu sejarah.
Bukan Kontroversi Pertama
Ini bukan kali pertama Pokémon dikaitkan dengan Kuil Yasukuni. Pada 2016, ketika Pokémon Go dirilis di Jepang, lokasi kuil tersebut sempat dijadikan gym dan PokéStop dalam permainan berbasis peta nyata itu, yang kemudian memicu reaksi keras dari pemain China.
Pada 2019, sejumlah karyawan Creatures—salah satu pemegang saham Pokémon—juga dilaporkan mengunjungi Kuil Yasukuni dan mempublikasikan kunjungan mereka di media sosial. Setelah mendapat kritik, unggahan tersebut dihapus tanpa permintaan maaf yang jelas.
Sensitivitas Sejarah yang Kembali Disorot
Kuil Yasukuni dikenal sebagai simbol spiritual militerisme Jepang, karena mengabadikan para pelaku kejahatan perang kelas A. Isu ini selama bertahun-tahun menjadi luka sejarah bagi banyak negara Asia, termasuk China.
Laporan terbaru juga mengungkap bahwa patung singa batu di gerbang kuil diduga merupakan artefak Dinasti Qing yang dijarah Jepang selama Perang Tiongkok-Jepang 1895, serta meriam dari Benteng Lüshun yang dipajang sebagai “trophy perang” di museum Yūshūkan. Hal-hal ini kembali memicu kritik terhadap cara Jepang menangani sejarah agresinya di Asia.
Tuntutan Penjelasan dari Nintendo dan Pokémon
Peristiwa ini membuat banyak pihak menilai Nintendo tidak bisa hanya menghapus informasi kegiatan tanpa memberikan pernyataan resmi. Dengan pengaruh global Pokémon yang besar dan basis penggemar yang kuat di China, perusahaan dinilai perlu menunjukkan sikap jelas terhadap sensitivitas sejarah.
Sejumlah warganet menilai bahwa Pokémon dan Pikachu selama ini menjadi salah satu simbol budaya populer Jepang yang diterima dengan baik oleh generasi muda China, namun isu sejarah tetap dianggap sebagai garis merah yang tidak boleh disentuh.
Kasus ini juga dipandang sebagai peringatan bagi perusahaan Jepang lain yang ingin memperluas bisnis di China agar lebih berhati-hati dalam menyikapi isu sejarah dan sentimen publik.
Kaca Pembesar HP

Produk inovatif.
Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.
Kualitas hingga HD, harga murah meriah.
Holder Jepit HP

Aksesoris tonton drama.
Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.
Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.
Proyektor HP

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.
Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.

