Viral, Netizen China Tolak Penggunaan AI dalam Industri Hiburan Paska Wacana Aktor Diganti AI

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com –Belakangan, netizen China ramai menolak penggunaan AI dalam akting, memuncaki trending dengan diskusi yang menembus ratusan juta pembaca. Penolakan ini muncul bersamaan dengan wacana besar di industri perfilman China terkait perubahan struktur pembayaran aktor, di mana top-tier actor berpotensi mengalami pemotongan honor di muka hingga 70 persen akibat efisiensi produksi dan kemajuan teknologi.

Di China Television Production Industry Conference 2026 pada 13 Maret, CEO YiKai Capital, Wang Ran, menegaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk AI, memungkinkan banyak pekerjaan repetitif digantikan oleh sistem digital. Peran pendukung, figuran, hingga stunt yang berulang bisa digantikan AI, mengurangi biaya dan risiko bagi produksi. Namun, sementara dari sisi produksi ini menguntungkan, penonton justru merasa ada yang hilang: akting AI tampak “sempurna secara teknis tapi hampa,” tanpa emosi atau kedalaman karakter.

Banyak netizen menekankan, “Lebih baik menonton aktor baru yang canggung daripada AI yang tampak sempurna tapi kosong.” Mereka menolak akting AI karena kehilangan “jiwa”—resonansi emosional yang hanya bisa dibawa oleh manusia. Satu adegan perpisahan dramatis oleh AI, misalnya, menampilkan alis berkerut dan air mata jatuh tanpa rasa sedih yang menembus layar, membuat penonton sulit berempati. Sebaliknya, aktor manusia bisa menyalurkan emosi lewat tatapan, jeda, atau desah halus, menciptakan kedalaman yang menyentuh hati.

- Advertisement -

Fenomena ini bukan sekadar anti-teknologi, tetapi panggilan kolektif untuk mempertahankan inti akting: penyampaian emosi manusia. Walau AI bisa menghemat biaya produksi, menggantikan adegan berisiko, atau menambah efisiensi, esensi pertunjukan tetap manusiawi. Penonton ingin menjaga agar cerita dan karakter tetap hidup, bukan digantikan algoritma.

Selain isu AI, wacana pemotongan honor aktor top juga memicu diskusi. Struktur pembayaran baru kemungkinan menggeser pendapatan dari upfront fee besar ke model bagi hasil, termasuk dari lisensi karakter, distribusi, streaming, dan kerja sama komersial. Dengan sistem ini, kesuksesan proyek akan menentukan besarnya pendapatan aktor, sekaligus membuka peluang bagi talenta baru yang membangun pengaruh lewat media sosial sebelum mendapat peran besar.

Netizen menegaskan, yang mereka jaga bukan sekadar industri yang efisien, tetapi kualitas emosional dari akting. Akting manusia—meski tidak sempurna—tetap lebih menyentuh daripada performa AI yang dingin. Penolakan ini menjadi pengingat bagi industri: teknologi harus melayani cerita dan emosi, bukan menggantikannya. Masa depan perfilman China mungkin akan menampilkan kolaborasi manusia dan teknologi, di mana AI menangani tugas standar dan repetitif, sementara manusia tetap menjadi pusat untuk menyampaikan kedalaman karakter, konflik emosional, dan nuansa yang tak bisa digantikan mesin.

- Advertisement -
Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments