LayarHijau.com – Perbincangan soal penggunaan kecerdasan buatan kembali memanas di Weibo pada 18 Maret 2026. Sebuah topik terkait kemungkinan penggunaan AI untuk menggantikan pemeran pendukung dalam industri drama dan film China bahkan sempat menempati posisi ketiga dalam daftar hot search.

Isu ini bermula dari laporan sejumlah sumber di jaringan produksi yang menyebutkan bahwa banyak proyek drama dan film tahun ini mengalami pemangkasan anggaran besar-besaran. Salah satu langkah yang mulai dipertimbangkan adalah mengganti peran-peran kecil—yakni karakter di bawah pemeran utama kedua—dengan AI, alih-alih menggunakan aktor manusia. Selain menekan biaya hingga diklaim mencapai 90 persen, metode ini juga dinilai bisa menghindari risiko seperti konflik jadwal hingga potensi skandal.
Kabar tersebut langsung memicu reaksi beragam dari para pengguna Weibo. Sebagian meragukan implementasinya. “Apakah aktor di bawah pemeran kedua tidak lagi diperankan manusia sungguhan? Sulit dipercaya,” tulis seorang pengguna.

Namun, ada juga yang melihat tren ini sebagai sesuatu yang realistis di masa depan industri hiburan. “Drama pendek berbasis AI sekarang bahkan bisa menciptakan pasangan di layar dan merekam behind-the-scenes tanpa khawatir soal skandal. Rasanya beberapa aktor benar-benar akan kehilangan pekerjaan,” komentar pengguna lain.
Di tengah perdebatan tersebut, produser ternama China, Yu Zheng, turut angkat bicara. Ia dikenal sebagai sosok di balik berbagai drama populer dan juga seorang penulis skenario yang cukup berpengaruh di industri hiburan China.
Dalam pernyataannya, Yu Zheng menilai bahwa penggunaan AI mungkin hanya akan menjadi tren sementara. Menurutnya, akting manusia serta kebutuhan penonton terhadap sosok nyata tidak akan bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Ia juga menyinggung bahwa fenomena ini mirip dengan perkembangan animasi. “Selalu ada orang yang menyukai karakter virtual, tapi juga ada yang tetap menyukai aktor nyata,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa dunia yang sepenuhnya diciptakan AI mungkin akan menarik untuk sementara waktu, tetapi penonton pada akhirnya akan kembali merindukan realitas.
Meski demikian, Yu Zheng menegaskan bahwa dirinya tidak menolak kehadiran AI. Ia bahkan mengaku juga tengah mengembangkan proyek berbasis AI. Baginya, teknologi ini justru membawa lebih banyak manfaat bagi industri, termasuk mendorong peningkatan kualitas karena hanya talenta yang benar-benar memiliki kemampuan yang akan bertahan.
“Bagi aktor yang punya kemampuan akting, penulis berbakat, dan sutradara yang kompeten, tidak perlu khawatir,” ujarnya. Ia menutup dengan optimisme bahwa industri tetap akan menemukan keseimbangan antara teknologi dan kreativitas manusia.










