Nostalgia Jadi Tren Baru, Dream of Golden Years hingga Love Story in the 1970s Angkat Romansa Era Lama

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – Sepanjang tahun ini, industri drama China mulai menunjukkan tren yang cukup mencolok. Sejumlah drama seperti Dream of Golden Years, Love Story in the 1970s, dan My Page in the 90s hadir dengan latar waktu era 1970-an hingga 1990-an, menandai meningkatnya popularitas drama romantis yang dibungkus nuansa masa lalu.

Di tengah kejenuhan penonton terhadap drama modern yang terasa terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari dan drama kostum yang sering dianggap repetitif, kombinasi kisah cinta dengan latar era lama justru menghadirkan sensasi baru. Nuansa nostalgia yang dipadukan dengan romansa menciptakan jarak emosional yang pas—cukup realistis untuk terasa relevan, tetapi juga cukup berbeda untuk memberi pengalaman segar.

- Advertisement -

Salah satu contoh yang tengah ramai dibicarakan adalah Dream of Golden Years. Drama ini mengikuti kisah Xia Xiaolan, seorang wanita modern yang tiba-tiba terlempar ke tahun 1983 dan menjadi gadis desa berusia 18 tahun. Dari titik nol, ia memulai hidup dengan menjual telur bebek dan gorengan, sebelum perlahan merambah bisnis pakaian hingga properti. Perjalanan ini membawanya pada kesuksesan sekaligus kisah cinta yang tumbuh bersama Zhou Cheng, seorang pria berbakat di bidang hukum.

Daya tarik utama drama seperti ini terletak pada upaya mereka merekonstruksi suasana zaman. Hal ini terlihat dari detail seperti kostum, tata panggung, hingga musik latar. Dalam Dream of Golden Years, misalnya, Xia Xiaolan awalnya mengenakan kemeja bunga sederhana khas pedesaan, lalu beralih ke gaun retro berwarna cerah setelah sukses di bisnis fashion. Gaya rambutnya pun berubah mengikuti tren keriting populer pada masa itu.

Namun, yang lebih penting adalah semangat zaman yang dihadirkan. Drama ini menggambarkan era di mana optimisme terasa nyata—sebuah masa ketika kerja keras diyakini bisa mengubah nasib. Kesuksesan Xia Xiaolan tidak hanya berasal dari usahanya sendiri, tetapi juga dari momentum zaman yang mendukung. Kombinasi antara realitas sejarah dan jarak dari kehidupan modern membuat penonton lebih mudah merasakan kepuasan emosional saat melihat perjuangannya.

- Advertisement -

Kisah cinta dalam drama era ini juga memiliki ciri khas tersendiri. Zhou Cheng, misalnya, tidak menggunakan pendekatan romantis yang berlebihan. Ia menyatakan perasaannya dengan serius, dan setelah ditolak, memilih memulai hubungan sebagai sahabat pena dan partner belajar. Sementara itu, Xia Xiaolan yang memiliki pola pikir modern sering kali mengucapkan hal-hal yang sulit dipahami Zhou Cheng, menciptakan dinamika menarik antara dua generasi yang berbeda.

Sementara itu, Love Story in the 1970s yang belum lama ini tamat mengambil latar akhir 1970-an. Drama ini berpusat pada Fei Ni, seorang buruh pabrik topi, yang terlibat pernikahan pura-pura dengan Fang Muyang—seorang pria yang kehilangan ingatan setelah aksi heroiknya menyelamatkan orang lain. Meski awalnya hanya berbagi tempat tinggal demi kepentingan masing-masing, keduanya perlahan mengembangkan perasaan tulus.

Perjalanan cinta mereka tidak bisa dipisahkan dari latar zamannya. Keduanya sebenarnya pernah menjadi teman sekolah sebelum Fang Muyang dikirim ke desa. Saat dewasa, mereka bertemu kembali dalam kondisi yang sangat berbeda. Demi mendapatkan kesempatan masuk universitas, Fei Ni mencoba merawat Fang Muyang yang saat itu dikenal sebagai pahlawan, berharap mendapatkan rekomendasi. Dari hubungan yang awalnya penuh kepentingan, tumbuh ikatan emosional yang semakin dalam. Pada akhirnya, Fei Ni berhasil meraih mimpinya untuk kuliah, sementara Fang Muyang mewujudkan cita-citanya sebagai pelukis.

Dua drama ini dinilai cukup solid dalam menghadirkan nuansa era, baik dari sisi visual maupun alur cerita, melanjutkan tradisi drama keluarga berlatar masa lalu yang sudah lebih dulu populer.

- Advertisement -

Sebaliknya, My Page in the 90s justru mendapat kritik karena dianggap kurang maksimal dalam menampilkan atmosfer zamannya. Drama ini mengisahkan Lin Huan’er, seorang penyiar konten hubungan di tahun 2025, yang masuk ke dalam novel romansa lama dan bertemu dengan Gao Haiming, sosok pria kaya dari tahun 1999. Demi kembali ke dunia nyata, ia harus menjalankan berbagai strategi untuk “menaklukkan” karakter tersebut.

Meski berlatar di masa peralihan menuju tahun 2000, banyak penonton merasa nuansa era dalam drama ini kurang terasa. Tanpa penjelasan awal, latarnya bahkan mudah disalahartikan sebagai setting modern biasa. Perkembangan hubungan antara kedua karakter utama pun dinilai tidak terlalu terikat dengan konteks zamannya, sehingga hanya menyisakan elemen nostalgia yang tipis. Hal ini menjadi salah satu kritik paling sering muncul selama penayangannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa drama romantis mulai mencari cara baru untuk tetap relevan, salah satunya melalui eksplorasi elemen nostalgia. Respons pasar yang cukup positif mengindikasikan bahwa pendekatan ini memiliki potensi besar, meskipun hingga kini belum ada judul yang benar-benar mencapai status fenomenal. Bagi para kreator, tren ini masih membuka ruang luas untuk pengembangan yang lebih matang di masa depan.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments