LayarHijau.com – Drama pendek berbasis kecerdasan buatan (AI) berjudul Chinese Legends: White Snake yang ditayangkan oleh Zhejiang TV menuai kontroversi di kalangan warganet. Judul tersebut merupakan terjemahan bahasa Inggris dari judul Mandarin 中国传说·白蛇 (China Legends: White Snake).
Karakter utama pria bernama Xu Xian menjadi sorotan karena disebut-sebut memiliki wajah yang menggabungkan ciri khas dua aktor populer, Xiao Zhan dan Wang Yibo.

Perdebatan bermula dari poster promosi yang dirilis ke publik. Dalam salah satu poster yang menampilkan dua karakter sekaligus, sosok Xu Xian dinilai sangat mirip dengan profil samping Xiao Zhan. Bahkan, beberapa warganet menyoroti detail seperti tahi lalat di bagian dagu yang dianggap identik. Sementara itu, pada poster lain yang hanya menampilkan satu karakter, wajah tokoh pria tersebut justru dinilai sangat menyerupai Wang Yibo.

Menurut laporan Yangtze Evening News (via World Journal), akun resmi Weibo milik Zhejiang TV sebelumnya sempat memperkenalkan proyek ini sebagai “drama pendek AI pertama yang tayang di televisi nasional”. Namun, unggahan tersebut kini sudah tidak lagi terlihat.

Menariknya, jika melihat tayangan drama yang sudah dirilis, kemiripan karakter dengan Xiao Zhan maupun Wang Yibo tidak tampak sejelas di materi poster. Fenomena ini ternyata cukup sering terjadi dalam produksi drama berbasis AI.
Karakter yang dibuat dengan teknologi AI biasanya memiliki wajah yang berubah secara halus dari satu adegan ke adegan lain. Dalam satu momen bisa terlihat mirip dengan seorang selebritas, tetapi di adegan berikutnya kemiripan itu bisa berkurang atau hilang. Hal ini diduga karena sistem AI mencampurkan berbagai fitur wajah dalam proses pembuatan karakter, bukan sekadar menggunakan teknik penggantian wajah (face swap).
Terlepas dari kontroversi tersebut, drama ini mencatat hasil yang cukup baik dari sisi penayangan. Drama ini disiarkan di Zhejiang TV dan berhasil menempati peringkat kedua secara nasional dalam slot waktu yang sama di 34 stasiun televisi. Selain itu, distribusi juga dilakukan melalui platform digital seperti Douyin dan Z Vision, dengan jumlah penayangan melampaui satu juta dalam tiga hari sejak dirilis. Pendapatan diperoleh melalui iklan serta sistem bagi hasil berbayar.
Dari sisi hukum, penggunaan AI untuk tujuan komersial seperti ini dinilai dapat memperbesar potensi pelanggaran. Pihak artis yang merasa dirugikan berpeluang menuntut ganti rugi, bahkan bisa setara dengan nilai kontrak endorsement.
Pengacara Li Zhenwu dari Shanghai Lizhen Law Firm menjelaskan bahwa dalam hukum saat ini, pelanggaran hak atas wajah oleh AI tidak ditentukan dari apakah hasilnya benar-benar sama persis, melainkan dari apakah sosok tersebut bisa dikenali.
Jika masyarakat umum dapat dengan mudah mengenali bahwa wajah tersebut menyerupai seseorang, maka hal itu sudah bisa dianggap sebagai bentuk pelanggaran. Komentar seperti “ini mirip si A” atau “seperti wajah si B” dapat menjadi salah satu bukti adanya unsur keterkenalan dalam kasus semacam ini.










