LayarHijau.com – Kostum drama Blood River (暗河传) dijual seharga 20.000 yuan per set (sekitar Rp44,8 juta), dengan total 214 set ditawarkan dan 202 set terjual cepat, menghasilkan total penjualan 404 juta yuan atau sekitar Rp904 juta. Angka ini tentu membuat banyak pihak terkejut.
Berdasarkan informasi publik, penjualan berlangsung sangat cepat. Setelah barang-barang ini muncul di akun resmi platform Xianyu, tanpa promosi sebelumnya, 202 set langsung habis terjual. Beberapa item bahkan sempat menarik lebih dari 300 orang yang menunggu untuk membelinya. Beberapa penggemar menuturkan, “Begitu melihat info dan klik, langsung habis. Sedetik terlambat saja, kesempatan hilang.”

Di industri film, menjual kostum dan properti yang telah dipakai dalam syuting bukan hal baru. Di luar negeri, praktik ini bahkan sudah sangat maju. Misalnya, gaun putih Marilyn Monroe dalam film ikoniknya terjual seharga 552 ribu dolar AS (sekitar Rp8,8 miliar), dan dijual ulang hingga 460 ribu dolar AS (sekitar Rp7,36 miliar); untuk properti, takhta besi dari Game of Thrones pernah dilelang dengan harga 149 ribu dolar AS (sekitar Rp2,38 miliar), dibeli oleh sutradara The Lord of the Rings, Peter Jackson.
Di dalam negeri, kostum film biasanya dilelang. Misalnya, kostum yang dipakai Li Yifeng dan Yang Mi dalam Sword of Legends (古剑奇谭) pernah dilelang di atas 10 ribu yuan (Rp22,4 juta); pada 2017, gaun bordir cantik yang dipakai Sun Li dalam Nothing Gold Can Stay (那年花开月正圆) terjual 21.400 yuan (Rp47,9 juta), pembelinya menggunakannya sebagai gaun untuk acara pernikahan.
Awalnya, model ini lebih sebagai cara interaksi antara aktor dan penggemar. Namun, seiring berkembangnya industri dan strategi monetisasi IP, penjualan kostum berubah menjadi bisnis nyata. Contohnya, kostum karakter utama Wen Kexing dalam drama Word of Honor (山河令) dilelang seharga 224.600 yuan (Rp503 juta); termasuk 11 properti lain seperti perhiasan dan cangkir, total transaksi mencapai 882.500 yuan (Rp1,97 miliar), meski kemudian dilelang dihentikan karena kontroversi harga.
Industri kini bahkan mulai membentuk rantai bisnis tersendiri—perusahaan produksi film menyerahkan kostum bekas syuting ke perusahaan lelang, yang mengurus penyimpanan dan penjualan, mendapatkan keuntungan dari biaya komisi atau selisih kenaikan harga kostum.
Blood River menggunakan metode penjualan dengan harga tetap, sehingga bisa menghindari kontroversi harga tinggi yang biasa muncul dalam lelang, sekaligus menandakan praktik ini mulai lebih formal.
Meski begitu, sebagian pihak menilai perilaku ini termasuk cara memanfaatkan penggemar, karena menguras emosi dan loyalitas mereka. Sebelumnya, saat drama Being a Hero (冰雨火) tayang, kostum yang dipakai aktor Wang Yibo dan Chen Xiao dijual per bagian, bahkan T-shirt yang dipakai dibagi menjadi sekitar 30 bagian, dengan harga mulai 200 yuan (Rp448 ribu) per potong, memicu penolakan dari penggemar.
Penentuan harga kostum dan properti kini menjadi hal penting. Dengan biaya produksi drama yang tinggi, termasuk penggunaan kerajinan tradisional non-material sejak Story of Yanxi Palace (延禧攻略), nilai kostum memang semakin diakui. Banyak penggemar justru melihat pembelian kostum sebagai bentuk dukungan emosional dan kenang-kenangan, memberikan nilai sentimental yang signifikan.
Selain itu, pasar merchandise film semakin berkembang. Tidak hanya poster atau gantungan kunci, tapi juga kostum, properti, soundtrack resmi, dan bahkan digital collectible yang dijual sebagai merchandise penggemar. Contohnya, Legend of Zang Hai (藏海传) pernah menjual kostum digital karakter Xiao Zhan seharga 99 yuan (Rp222 ribu) dan langsung habis terjual.
Model lain termasuk kolaborasi lintas industri, misalnya dengan brand fashion, kecantikan, atau lifestyle, untuk menghadirkan merchandise eksklusif. Tren ini memperluas ekosistem bisnis IP film dan menghidupkan kembali pasar tradisional.
Kontroversi akan tetap ada, namun pasar merchandise film, terutama penjualan kostum, bergerak dari “cinta kecil” menuju konsumsi yang lebih luas, menggabungkan nilai emosional dan pengalaman inovatif. Jika sebuah karya berhasil menembus pasar luas, potensi pendapatannya bisa sangat besar.
Namun, media China, Sohu Entertainment News mengungkapkan jika ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, menggunakan penjualan merchandise sebagai bukti keberhasilan karya bisa menjadi strategi pemasaran yang menyesatkan. Kedua, bagi penggemar, konsumsi rasional tetap harus dijaga—emosi tidak bisa dijadikan alasan belanja melebihi kemampuan finansial.
Bagi industri film, meningkatnya pasar merchandise adalah hal positif. Hal ini menunjukkan umur karya tidak lagi terbatas pada masa tayang, dan ke depan diharapkan tercipta ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan.










