LayarHijau.com — Pada 2 Desember, drama kostum romansa Love and Crown (凤凰台上) resmi menayangkan episode terakhirnya. Ren Jialun berperan sebagai Kaisar Xiao Huan yang tubuhnya dipenuhi racun misterius bernama Yue Shiyin. Racun ini dapat memperpanjang usia, tetapi seiring waktu akan menggerogoti pikiran hingga membuat penderitanya kehilangan nalar dan membunuh siapa pun yang berada di dekatnya.
Peringatan spoiler: Artikel ini membahas adegan penting dan ending drama Love and Crown. Jika kamu belum menonton episode terakhir, baca dengan pertimbangan sendiri.
Demi mencegah dirinya berubah menjadi monster dan mencelakai orang yang ia cintai, Xiao Huan menggunakan tangan Ling Cangcang (Peng Xiaoran) untuk menusukkan belati ke jantungnya sendiri. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia menatapnya dengan senyum penuh luka. “Jangan takut. Hidupku memiliki dirimu, aku tak menyesal.” Momen itu membuat penonton banjir air mata.
Sejak tayang perdana, reputasi drama ini sayangnya terus merosot. Banyak penonton di Tiongkok menduga proses syuting dilakukan secara terburu-buru untuk mengejar masa berlakunya hak produksi. Disebutkan pula bahwa naskah belum selesai saat syuting dimulai sehingga penulis harus menyusun cerita sambil berjalan. Dugaan inilah yang membuat alur drama terasa kacau, dipenuhi kesalahpahaman yang terkesan dipaksakan.
Drama ini hanya meraih skor 4,8 di Douban dan bahkan dijuluki sebagai salah satu drama romansa kostum paling mengecewakan tahun ini. Awalnya episode terakhir akan tayang pada 8 Desember, namun karena performanya buruk, platform menayangkannya lebih awal pada 2 Desember.
Padahal penonton banyak memuji akting Ren Jialun dan Peng Xiaoran yang dinilai mampu menghidupkan karakter mereka. Namun kualitas produksi dan penyusunan cerita yang amburadul membuat potensi drama ini terbuang percuma.
Dalam episode pamungkas, Xiao Huan sengaja membiarkan Yue Shiyin menguasai tubuhnya agar Putri Suci sekte sesat muncul ke hadapan publik. Namun saat racun itu sepenuhnya merusak kesadarannya, Ling Cangcang justru baru kembali ke istana. Xiao Huan memohon agar ia menghabisi dirinya sebelum ia hilang kendali. Ling Cangcang tak sanggup melakukannya, hingga akhirnya Xiao Huan memegang tangannya dan menusukkan belati ke dadanya. Ia tewas dalam dekapan orang yang ia cintai.
Ling Cangcang ternyata sedang mengandung anak Xiao Huan. Ia melahirkan dan membesarkan putra mereka hingga berusia lima tahun. Selama 49 hari, ia menari pedang di Phoenix Terrace sebagai penghormatan untuk sang kaisar. Namun jebakan Du Tingxin (Estelle Chen Yihan) di masa lalu telah merusak fondasi tubuhnya, membuatnya sejak awal tidak cocok untuk hamil. Memaksa hidup demi membesarkan putranya selama lima tahun, tubuhnya akhirnya benar-benar kehabisan tenaga.
Di ambang ajal, ia menatap putranya — Xiao Ning — dan berpesan agar kelak menjaga negeri dengan baik. Dengan senyum tenang seolah melihat sosok Xiao Huan berdiri di hadapannya, ia berbisik, “Xiao Huan, Cangcang datang.” Ia pun meninggal dunia, menyisakan Xiao Qianqing (Zhang Yao) sebagai pendamping sang kaisar cilik naik takhta.
Selain akhir yang tragis, dua kelemahan terbesar drama ini menjadi titik amarah penonton. Pertama, kematian kedua tokoh utama dinilai terlalu dipaksakan hanya untuk membuat penonton tersiksa secara emosional. Ling Cangcang yang sebelumnya pernah keguguran dan masih mampu bertahan hingga lima tahun setelah melahirkan, digambarkan tiba-tiba meninggal begitu saja tanpa penjelasan medis yang kuat.
Kedua, tokoh antagonis utama Du Tingxin — yang telah mengacaukan politik istana, bahkan menjebak Permaisuri agar membunuh Putri Xiao Ying — hanya berakhir dipenjara tanpa hukuman yang setimpal. Banyak penonton menilai penyelesaian ini sangat tidak adil dan menunjukkan lemahnya konsistensi penulisan naskah.
Pada akhirnya, Love and Crown menuai kritik karena alur ceritanya yang dianggap serampangan, membuat akting Ren Jialun dan Peng Xiaoran yang seharusnya menjadi nilai plus justru terbuang sia-sia.










