LayarHijau.com— Bulan ini, pengguna internet di China dihebohkan dengan postingan penulis novel My Queen yang secara terang-terangan mengungkapkan ketidakpuasannya pada drama yang mengadaptasi karyanya, Love and Crown. Postingannya itu menimbulkan kontroversi dan membuatnya bersitegang dengan pemeran utama wanita drama tersebut, Peng Xiaoran.
Di sisi lain, penulis novel Ashes of Love mengaku terkejut saat produser mengumumkan adaptasi drama pendek dari karyanya. Sang penulis mengaku jika dia tidak tahu menahu soal proyek itu dan tidak merasa memberikan izin.

Sementara itu, Wei Yu, yang salah satu novelnya diadaptasi ke dalam drama Love on the Turquoise Land justru ikut nonton bareng drama tersebut. Para pengguna internet menganggap jika tindakannya itu secara tidak langsung menunjukkan jika dia merestui adaptasi drama yang dibintangi oleh Dilraba Dilmurat dan Oliver Chen.

Beberapa kejadian yang terjadi dalam kurun waktu dua bulan terakhir itu hanyalah sebagian kecil yang menunjukkan apa yang dialami para penulis novel saat karya mereka diangkat ke dalam drama.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak novel populer diadaptasi menjadi drama dan film. Namun di balik maraknya arus adaptasi IP (intellectual property) ini, posisi para penulis asli justru semakin terlihat rapuh: minim kendali, minim informasi, tapi sering kali menjadi pihak yang disalahkan atau diperalat untuk validasi.
Penulis Tidak Diberi Informasi, Tidak Dilibatkan
Banyak penulis bahkan baru tahu proyek adaptasi berjalan… dari trending Weibo. Seperti yang dialami penulis Xu Wei Juquan, yang novel Tomorrowland diadaptasi menjadi drama Us in Wonderland dan baru mengetahuinya setelah pengumuman resmi keluar. Di kolom komentar, seorang pembaca sampai berkata: “Kok kamu malah lebih telat tahu dari kami?”
Penulis A Zhou menegaskan bahwa situasi seperti ini bukanlah pengecualian: “Ini kondisi yang normal. Karena sudah menjual hak adaptasi, pihak produksi bisa memberi tahu, tapi juga bisa tidak. Itu bukan kewajiban, hanya bentuk menjaga hubungan baik.”
Penulis Mailuo,yang enam karyanya pernah diadaptasi, punya pengalaman serupa. Ia pernah menjual hak adaptasi radio drama dan baru tahu siapa pengisi suara setelah tayang. “Saya tahu hanya perkiraan jadwal rilisnya pada awalnya,” katanya kepada Sohu Entertainment News.
Para penulis pada dasarnya dianggap sudah “selesai perannya” begitu kontrak ditandatangani.
Dukungan penulis novel jadi senjata pemasaran
Sebuah fenomena lain adalah tim produksi yang sengaja memakai dukungan penulis novel, baik langsung maupun tidak langsung sebagai bentuk promosi. Tetapi pendapat mereka soal casting? Jarang dipinta. Meski persetujuan penulis sering diperlakukan sebagai stempel kecocokan tertinggi oleh para penggemar, rumah produksi jarang melibatkan mereka dalam pemilihan pemeran.
Mailuo mengakui: “Mereka mungkin memberitahu ide adaptasinya atau ingin saya ikut menulis naskahnya, tapi soal aktor pemerannya siapa, tidak ada yang minta pendapat.” A Zhou menjelaskan siapa yang mengendalikan keputusan sebenarnya: “Hak itu milik para investor — yaitu platform (penayang). Mereka yang pegang otoritas memilih aktor.”
Bahkan untuk urusan cerita, para penulis novel sering kehilangan suara terkait naskah. Contohnya, penulis Da Feng Gua Guo secara halus menyatakan drama A League of Nobleman (君子盟) yang dibintangi Jing Boran dan Song Weilong, hanya menyisakan judul dan sebagian nama karakter dari novelnya.

Penulis Wei Yu pernah mengungkapkan jika ada banyak rumah produksi yang ingin mengadaptasi novelnya. Tapi dia tidak puas dengan banyak naskah drama yang diberikan berbagai rumah produksi padanya, kecuali naskah drama Rattan. Drama itu dibintangi oleh Jing Tian dan Vin Zhang dan memperoleh rating tinggi saat tayang.

Lebih jauh dia mengungkap dia pernah menolak dua adaptasi novelnya yang masih berjalan karena merasa: “Naskahnya benar-benar tidak bisa diterima. Sebagai penulis asli saja, saya tidak bisa mengenali rasa dari karya saya sendiri.”
Di akhir tulisannya di Weibo dia mengatakan jika dia lebih memilih tidak menjual hak adaptasi karyanya atau meminta hak untuk mengulas dan mengedit naskah drama atau film adaptasi karyanya dalam kontrak.
Kekuasaan Ditentukan Kontrak (dan Data Pasar)
Banyak penulis novel menyerahkan negosiasi hak pada platform penayang, tetapi ini sering membuat mereka semakin tidak berdaya. Mailuo menjelaskan: “Kalau platform streaming yang menjual, harganya harus lebih tinggi karena mereka mengambil bagian. Kalau saya bisa terima 200 ribu yuan, platform mungkin akan minta 400 ribu yuan — lalu pembeli batal.”
Sementara A Zhou — yang juga pernah berkarier sebagai produser — menegaskan pentingnya kontrak: “Kalau mereka mengganti penulis skenario di tengah jalan, saya akan tarik kembali haknya dan hentikan kerja sama.”
Namun sejumlah aturan kontrak sering dicari celahnya oleh pihak produksi. Seorang konsultan literasi, Mi, mengungkap: “Kalau kontraknya bilang 80% tidak boleh diubah, mereka akan bilang bagian yang diubah itu melanggar kepantasan umum atau ada kondisi luar biasa yang memaksa.”
Ia menyimpulkan: “Penulis tidak bisa mengalahkan perusahaan yang licik soal konten.” Dia kemudian menjelaskan satu-satunya cara untuk penulis novel bisa memiliki kendali untuk cerita adalah dengan menjadi penulis naskah drama yang mengadaptasi karyanya.
Hanya sangat sedikit penulis kelas papan atas yang bisa meminta hak kontrol naratif — contoh yang sering dikutip adalah Gu Man, Tong Hua, dan Wei Yu. Tapi bahkan mereka tidak bisa menentukan aktor.
Ketika adaptasi drama melenceng jauh dari novel
Ada banyak drama adaptasi novel di China yang melenceng jauh dari novel aslinya. A Zhou menyebutkan contohnya: The Legend of Heroes: Hot Blooded. “Latarnya dipotong, hubungan keluarga yang penting hilang. Ceritanya jadi sangat kering.”

Mailuo juga pernah mengalami novel karyanya yang diubah menjadi film online: “Selain nama karakter, saya tidak kenal cerita dalam film itu. Tapi apa boleh buat? Uangnya sudah dibayar.”
Namun, ketidakpuasan penulis tidak boleh diumbar saat drama atau film tayang. Mi menjelaskan aturan tak tertulis dunia industri: “Selama drama tayang, semua pihak terkait harus mendukung drama dulu. Kalau penulis memicu sentimen negatif saat penayangan, ke depan ia akan sulit menjual IP lagi.”
Karena itulah, meski kerap kecewa, banyak penulis novel memilih diam saat drama atau film yang mengadaptasi karya mereka tayang.
Adaptasi drama sukses, penulis novel akan untung
Selain itu, begitu penulis novel memberikan hak untuk karyanya diangkat ke dalam sebuah drama atau film, kesuksesan drama atau film itu berdampak langsung pada karir mereka. Hal ini karena drama atau film itu menjadi mesin promosi terbesar untuk sang penulis.
Mi mengatakan: “Kalau novelmu sudah punya satu adaptasi yang sukses, adaptasi berikutnya penulisnya akan diperlakukan jauh lebih baik.” Sebab ketika dramanya laris, penjualan novel ikut naik — dan IP lainnya ikut diburu.
Maka pada akhirnya, industri ini berdiri pada logika: “Ini bisnis. Harus sama-sama untung.”
Tetapi faktanya, yang paling sering dikorbankan justru sang kreator asli — orang pertama yang menyalakan api imajinasi dunia yang kini menjadi konsumsi massal.
(Beberapa nama penulis novel dalam wawancara memakai nama samaran)










