LayarHijau.com – Sebuah foto sempat menjadi viral di Weibo dengan tagar #短剧可以不要虐待老人吗 (Bisakah drama pendek berhenti melecehkan para lansia?). Foto tersebut terlihat seperti momen konferensi pers untuk sebuah drama pendek. Namun yang membuat publik heboh bukan hanya judul dramanya, tetapi juga poster dan sosok yang hadir dalam konferensi pers itu.
Judul drama pendek tersebut adalah My Tycoon Lover & My Cerebellar Atrophy. Di atas judul, terdapat keterangan yang membuat banyak orang terbelalak: “Seorang CEO yang dominan jatuh cinta dengan seorang nenek penderita cerebellar otak yang mesum.”
Dalam poster versi viral, sang CEO terlihat memegang pundak seorang nenek yang memperlihatkan ekspresi wajah bingung. Sosok nenek itu juga tampak hadir di acara konferensi pers sambil memegang mikrofon, memperkuat kesan bahwa drama ini benar-benar melibatkan lansia sebagai pemeran utama dalam plot yang dianggap tidak pantas.
Kasus ini mulai mencuat setelah pengakuan viral seorang aktor ganteng yang dipasangkan dengan seorang nenek. Aktor Zheng Kai mengungkap dalam sebuah siaran langsung bahwa ia baru saja menerima tawaran untuk bermain dalam sebuah drama pendek bergenre “romansa wanita lebih tua – pria lebih muda” — dan awalnya ia mengira lawan mainnya akan seorang wanita dewasa yang cukup “mapan”. Tetapi saat syuting berlangsung, ia dikejutkan karena sang lawan main ternyata seorang aktris senior berusia 68 tahun. Pengakuan ini langsung menjadi bahan perbincangan panas di media sosial dan memunculkan gelombang kritik soal praktik casting ekstrem dalam industri drama pendek.
Reaksi keras dari para pengguna Weibo pun langsung bermunculan.
“Drama pendek zaman sekarang penuh plot aneh yang dibuat-buat. Anak muda tidak bisa menonton model drama ini untuk melepas stres, dan orang tua tidak seharusnya dieksploitasi seperti ini. Bisakah kalian membuat sesuatu dengan usaha sedikit saja? Drama panjang pun sekarang harus lebih normal,” tulis seorang pengguna.

Namun tak lama kemudian, pengguna Weibo lain mengungkap bahwa foto tersebut merupakan hasil editan, kemungkinan menggunakan teknologi AI. Ia mengunggah foto asli: sang CEO berdiri di samping seorang wanita muda yang juga tampak kebingungan. Judul dramanya tetap sama, tetapi keterangannya berbunyi: “Seorang CEO yang dominan jatuh cinta dengan diriku yang mengalami cerebellar atrophy.”
Saat LayarHijau mencoba menelusuri lebih jauh mengenai drama pendek ini di Weibo dan Baidu, tidak ditemukan informasi apa pun terkait produksi nyata yang menggunakan judul tersebut. Fenomena semacam ini bukan sesuatu yang baru dalam industri drama pendek Tiongkok. Banyak drama pendek menggunakan judul-judul ekstrem seperti “CEO Jatuh Cinta pada Diriku yang Mengalami Menopause,” “Pernikahan Kilat dengan Pria Kaya Berusia 50 Tahun,” hingga “Nenek Penderita Cerebellar Atrophy Jatuh Cinta pada CEO Dominan.” Tema-tema seperti ini dianggap memelintir penderitaan akibat usia lanjut dan penyakit menjadi alat untuk mendulang trafik.
Tren tersebut merupakan penyimpangan dari formula klasik “CEO dominan” yang sebelumnya masih dapat memenuhi kebutuhan emosional penonton, misalnya lewat cerita seperti Falling in Love with Cinderella atau Divorced with a Child. Kini konsepnya kian tergelincir menuju sensasionalisme yang berlebihan, dengan plot-plot tak masuk akal seperti “CEO berusia 27 tahun jatuh cinta pada wanita pembersih berusia 45 tahun.”
Beberapa plot bahkan sengaja memperbesar konflik seperti “anak yang menelantarkan orang tua” atau “pertikaian ibu mertua dan menantu wanita,” yang kemudian berdampak pada kehidupan nyata. Sebagian lansia disebut menjadi curiga terhadap keluarga mereka sendiri karena memproyeksikan skenario yang mereka tonton, hingga memicu krisis kepercayaan dalam rumah tangga. Konten seperti ini sering dikritik sebagai “kekerasan elektronik,” karena memperlakukan kelompok rentan sebagai komoditas.
Padahal, kondisi cerebellar atrophy di kehidupan nyata jauh lebih berat dari yang digambarkan drama. Pasien biasanya mengalami gangguan keseimbangan, langkah kaki yang goyah, bicara tidak jelas, dan kesulitan menjalankan aktivitas harian. Kondisi tersebut sering disertai tekanan psikologis. Menjadikannya bahan komedi atau gimmick romans dianggap tidak menghormati pasien dan menunjukkan dangkalnya pendekatan sebagian kreator drama pendek.
Kasus foto viral ini semakin menegaskan kekhawatiran publik mengenai arah konten drama pendek Tiongkok yang semakin ekstrem—menggabungkan sensasi, penderitaan nyata, dan kelompok rentan sebagai bahan eksploitasi demi perhatian sesaat.










