LayarHijau.com – Beijing Culture, perusahan investor dan produser utama seri film Creation of the Gods, merilis proyeksi kinerja keuangan yang menunjukkan tekanan signifikan pada 2025. Dalam laporan kinerja yang diumumkan pada 30 Januari, perusahaan tercatat tersebut memperkirakan kerugian bersih sebesar 350–410 juta yuan, atau setara sekitar Rp850 miliar hingga mendekati Rp1 triliun.
Dalam keterangannya, Beijing Culture menyebutkan bahwa salah satu faktor utama penyumbang kerugian berasal dari proyek film Creation of the Gods 2: Demon Force (封神第二部:战火西岐). Film tersebut tidak mampu mencapai target pendapatan box office yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga proyek berakhir dengan pencatatan kerugian.
Perusahaan menjelaskan bahwa durasi produksi yang panjang, ditambah persaingan ketat di pasar film musim libur Imlek, menyebabkan biaya produksi serta promosi dan distribusi membengkak. Kombinasi faktor tersebut memberikan tekanan besar terhadap kinerja finansial proyek secara keseluruhan.
Selain itu, selama periode pelaporan, Beijing Culture juga melakukan peninjauan dan analisis atas berbagai aset sesuai dengan ketentuan Standar Akuntansi Perusahaan. Berdasarkan prinsip kehati-hatian, perusahaan mencadangkan penurunan nilai aset terhadap sejumlah aset yang berpotensi mengalami kerugian. Besaran akhir dari pencadangan tersebut masih akan ditentukan melalui penilaian lembaga independen serta audit akuntan publik.
Sebagai film lanjutan dari proyek IP besar Fengshen, Creation of the Gods II: Demon Force pada masa penayangannya memunculkan respons yang terbelah di kalangan penonton dan kritikus. Di satu sisi, film ini menerima banyak pujian atas representasi tokoh wanita dan penguatan tema cinta tanah air; di sisi lain, kritik tajam mengarah pada kualitas efek visual dan pengolahan jalan cerita.
Sorotan utama film ini terletak pada pembentukan karakter wanita yang lebih progresif. Interpretasi ulang tokoh Deng Chanyu menjadi kejutan terbesar, karena melepaskan diri dari peran tradisional yang bergantung pada tokoh laki-laki dan dipadukan dengan aura sejarah seorang wanita prajurit Dinasti Shang, Fu Hao. Nashi menjalani 506 hari pelatihan intensif, termasuk berkuda dan bela diri, untuk membentuk sosok prajurit tangguh di medan perang. Dialognya yang berbunyi, “Kau pernah melihat ayahku membunuh tanpa ampun?”, dinilai menegaskan karakter yang tegas dan berani. Adaptasi ini dianggap selaras dengan selera penonton modern dan mendapat apresiasi luas.
Ekspresi cinta tanah air juga menjadi nilai tambah film ini. Narasi tidak hanya menampilkan kontras antara baik dan jahat, tetapi menyoroti solidaritas warga dan tentara Xiqi, serta kerinduan mereka akan kedamaian. Kesetiaan dan pengorbanan Wen Taishi, serta transformasi Ji Fa dari pemuda bersemangat menjadi komandan yang lebih bijak, memberi lapisan emosional di tengah konflik peperangan. Konsep “tumbuh sambil kehilangan” pada karakter Ji Fa mengaitkan keputusan personal dengan nasib negara, dan dinilai sebagai salah satu inti emosional film.
Namun, aspek efek visual justru menjadi sumber kontroversi terbesar. Sebagai film epik mitologi, kualitas visual diharapkan menjadi keunggulan, tetapi hasil yang tidak konsisten memicu kritik. Patung dewa Yinjiao dengan “tiga kepala enam lengan”, yang dibangun selama 18 bulan oleh tim internasional, dikritik karena pencahayaan biru dan bentuknya yang dianggap janggal. Desain karakter empat jenderal Mo dinilai kurang bermakna dan tidak dioptimalkan dengan baik, sementara formasi Sepuluh Absolut yang direduksi menjadi cahaya dan bentuk geometris dianggap kehilangan aura kekuatan sebagaimana digambarkan dalam materi aslinya.
Jalan cerita juga menuai perdebatan. Hubungan antara Ji Fa dan Deng Chanyu dinilai sebagian penonton terasa dipaksakan dan kurang memiliki landasan naratif yang kuat, sehingga mengganggu fokus cerita utama. Penggemar setia novel Fengshen Yanyi turut mengkritik pemangkasan peran tokoh populer seperti Nezha dan Yang Jian, sementara karakter Zhou Wang dan Shen Gongbao dianggap hanya berfungsi sebagai latar. Adegan Yuanshi Tianzun yang kekuatannya terserap oleh mayat manusia juga dipandang melanggar logika karakter dan terlalu memaksakan konflik dramatis.
Sutradara Wu Ershan menanggapi kritik tersebut dengan menyatakan bahwa desain karakter Yinjiao bertujuan mengekspresikan konflik batin, serta menegaskan bahwa relasi Ji Fa dan Deng Chanyu dimaksudkan sebagai bentuk saling menghargai antarsesama pejuang, bukan hubungan romantis. Meski demikian, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya meredakan perdebatan. Dalam sejumlah kegiatan promosi, sebagian penonton tetap menyampaikan ketidakpuasan, sementara yang lain memahami pendekatan kreatif tersebut dan berharap bagian ketiga dapat memperbaiki reputasi seri ini.
Dengan raihan box office sekitar 1,225 miliar yuan, Creation of the Gods II: Demon Force tetap menunjukkan kekuatan IP Fengshen. Namun, tingginya biaya produksi dan pemasaran membuat capaian tersebut belum cukup untuk menghindarkan proyek ini dari kerugian, sekaligus menegaskan risiko finansial besar yang melekat pada film berskala epik.










