Dari Trailer Palsu Avengers hingga Hoaks Drama China: Dampak Video AI Menyesatkan di YouTube

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

LayarHijau.com – Pada 16 Desember, para penggemar film dihebohkan dengan beredarnya video yang diklaim sebagai trailer Avengers: Doomsday. Video tersebut menampilkan nasib Captain America/Steve Rogers setelah peristiwa Endgame, sehingga dengan cepat menarik perhatian luas.

Video ini segera menyebar dan menjadi viral di berbagai platform, termasuk media sosial China, Weibo. Sejumlah media kemudian memberitakan bahwa Marvel Studios secara aktif melaporkan video tersebut agar dihapus dari berbagai platform dengan alasan pelanggaran hak cipta.

Namun, ketika LayarHijau mencoba menelusuri keberadaan video bocoran trailer itu di YouTube, hasilnya justru berbeda. Alih-alih menemukan trailer yang dimaksud, YouTube dipenuhi oleh berbagai video trailer palsu buatan AI (artificial intelligence). Video-video tersebut memiliki kualitas yang beragam, dengan sebagian di antaranya tampak cukup meyakinkan bagi penonton awam.

- Advertisement -

Salah satu video trailer palsu yang diunggah dua hari sebelumnya bahkan telah ditonton lebih dari 2,6 juta kali. Video tersebut tampak sebagai gabungan dari cuplikan bocoran yang sebelumnya beredar di Weibo, namun dengan kualitas gambar yang lebih baik. Kecurigaan penonton mulai muncul ketika terlihat kesalahan penulisan pada teks di video, serta kemunculan karakter Dr. Doom di bagian akhir trailer, yang tidak pernah dikonfirmasi secara resmi.

Fenomena trailer palsu sebenarnya bukan hal baru. Sebelum teknologi AI berkembang pesat, video semacam ini sudah kerap beredar di internet. Perbedaannya, dengan bantuan AI, trailer palsu kini dapat dibuat dengan tingkat realisme yang jauh lebih tinggi, sehingga semakin sulit dibedakan dari konten resmi.

- Advertisement -

Selain trailer palsu, YouTube juga dipenuhi berbagai video palsu lainnya, termasuk adegan post-credit palsu. Misalnya, setelah pengumuman kembalinya Robert Downey Jr. ke MCU sebagai Dr. Doom di Avengers: Doomsday, beredar video yang diklaim sebagai adegan post-credit dari beberapa film Marvel terbaru. Video-video ini sengaja dibuat dengan resolusi buram, seolah-olah direkam dari dalam studio bioskop, untuk memberi kesan autentik.

Bagi penggemar berat Marvel dan DC, membedakan konten resmi dan palsu relatif lebih mudah karena mereka mengetahui sumber-sumber terpercaya. Namun bagi penonton umum, video-video semacam ini sering kali sulit dikenali.

Lantas, bagaimana respons industri terhadap maraknya video trailer palsu buatan AI?

Berdasarkan laporan investigasi sejumlah media internasional, pada 2025 terungkap bahwa sebagian studio besar Hollywood memilih pendekatan yang lebih pragmatis dalam menghadapi trailer palsu yang memiliki trafik tinggi. Alih-alih langsung menghapus seluruh konten tersebut, beberapa studio dilaporkan memanfaatkan sistem klaim hak cipta YouTube untuk mengalihkan pendapatan iklan dari video-video tersebut.

Pendekatan ini tidak diterapkan secara terbuka maupun seragam, dan tidak pernah diumumkan sebagai kebijakan resmi. Namun praktik tersebut menuai kritik, terutama dari serikat aktor SAG-AFTRA, yang menilai bahwa langkah ini berpotensi mendorong penyalahgunaan teknologi AI dan eksploitasi kemiripan wajah para aktor.

Situasi ini mulai berubah pada akhir 2025. YouTube kemudian mengambil langkah tegas terhadap channel-channel yang secara konsisten mengunggah trailer film palsu buatan AI dan mengemasnya seolah-olah sebagai trailer resmi.

- Advertisement -

Pada 19 Desember 2025, YouTube secara permanen menutup sejumlah channel besar, termasuk Screen Culture dan KH Studio. Kedua channel ini dikenal luas karena memproduksi trailer palsu berbasis AI, yang menggabungkan cuplikan film lama, hasil rekayasa visual, serta judul dan tampilan yang menyesatkan penonton.

Sebelumnya, kedua channel tersebut sempat ditangguhkan pada Maret 2025. Mereka kemudian diizinkan kembali bergabung dengan Program Partner YouTube dengan syarat mencantumkan keterangan yang jelas bahwa video yang diunggah hanyalah trailer “konsep” atau “buatan penggemar”, bukan trailer resmi. Namun, setelah kembali dimonetisasi, kedua channel tersebut dilaporkan menghapus keterangan tersebut dan kembali menyajikan video palsu mereka seolah-olah konten resmi.

Tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kebijakan YouTube, khususnya terkait spam dan metadata menyesatkan, karena judul, deskripsi, dan penyajian video sengaja dibuat untuk mengelabui algoritma serta penonton. Akibatnya, YouTube memutuskan untuk menutup akun mereka secara permanen.

Penutupan tersebut kemudian dikonfirmasi oleh YouTube kepada CNET. Dalam pernyataannya, juru bicara YouTube menjelaskan bahwa meskipun kedua channel sempat melakukan perbaikan agar dapat kembali dimonetisasi, mereka kembali melanggar kebijakan platform setelah itu. Menurut laporan Deadline yang dikutip CNET, Screen Culture dan KH Studio yang berbasis di India dan Georgia memiliki total sekitar dua juta pelanggan dan secara kolektif telah meraih lebih dari satu miliar penayangan sebelum akhirnya ditutup.

Langkah YouTube ini juga beriringan dengan perubahan sikap Disney. Pada Desember 2025, Disney dilaporkan mengirimkan surat peringatan resmi kepada Google untuk menuntut penghapusan video AI yang menggunakan karakter milik mereka. Langkah ini menandai pergeseran dari pendekatan pasif menuju upaya penghapusan aktif di platform milik Google.

Fenomena konten palsu berbasis AI ini ternyata lebih sulit ditangani dalam konteks hiburan Asia, khususnya drama China. Selama beberapa tahun terakhir, LayarHijau menemukan banyak video palsu terkait drama China yang beredar di YouTube.

Salah satu yang paling sering dijumpai adalah penggunaan thumbnail poster palsu yang memasangkan aktor-aktor populer, seperti Zhao Lusi dan Xiao Zhan, seolah-olah mereka membintangi sebuah drama bersama. Setelah ditelusuri, video tersebut ternyata berisi drama lain yang kurang dikenal. Video-video semacam ini kerap dimonetisasi dan diunggah dalam durasi penuh, sehingga tetap menghasilkan pendapatan iklan.

Selain itu, beredar pula berbagai berita hoaks. Contohnya, setelah tragedi kematian Yu Menglong, muncul rumor bahwa Yang Mi berusaha merekrut aktor tersebut ke dalam agensinya sebanyak tiga kali. Tak lama kemudian, muncul video hoaks lain yang mengklaim Yang Mi terlibat kecelakaan. Salah satu video hoaks tersebut bahkan ditonton hampir 600 ribu kali.

Contoh lain adalah video hoaks yang mengklaim Wu Lei dan Zhao Lusi telah mengumumkan hubungan asmara mereka secara resmi. Sebuah channel YouTube dengan nama pengguna berbahasa Korea mengunggah video berjudul “It’s official! Zhao Lusi and Leo Wu have finally gone public with their relationship on social media” (Resmi! Zhao Lusi dan Leo Wu akhirnya mengumumkan hubungan mereka di media sosial).

Video tersebut ditonton lebih dari 20 ribu kali, sementara channel tersebut memiliki sekitar 19,7 ribu subscriber. Saat ditonton, video tersebut berisi kumpulan foto asli dan foto hasil editan, disertai narasi suara buatan AI.

Respons penonton terhadap video semacam ini pun beragam. Sebagian memberikan ucapan selamat tanpa menyadari bahwa informasi tersebut palsu, sementara sebagian lain mencoba memperingatkan bahwa video tersebut merupakan hoaks.

Fenomena video palsu buatan AI dan berita hoaks ini sering kali ditonton dan tersebar luas bukan semata karena kualitasnya meyakinkan, melainkan karena cara konten tersebut dikemas. Judul sensasional, thumbnail provokatif, serta klaim “resmi” atau “bocoran eksklusif” mendorong rasa penasaran penonton dan memicu klik cepat. Dalam banyak kasus, algoritma platform justru mempercepat penyebarannya karena tingkat interaksi awal yang tinggi, tanpa sempat membedakan apakah informasi tersebut valid atau menyesatkan.

Di tengah kondisi ini, batas antara konten hiburan, spekulasi, dan manipulasi semakin kabur. Video yang sejak awal dibuat sebagai hoaks atau rekayasa AI tidak hanya menyesatkan penonton, tetapi juga berpotensi membentuk persepsi keliru dalam jangka panjang, terutama ketika tidak ada klarifikasi yang menjangkau audiens seluas video aslinya.

Bagi penggemar drama China, memverifikasi informasi terkait idola dan industri hiburan China bukanlah hal mudah, terutama bagi mereka yang tidak mengetahui sumber-sumber resmi yang dapat dipercaya.

Jika studio besar Hollywood dan platform seperti YouTube memiliki sumber daya dan kepentingan untuk mengawasi serta menangani konten palsu buatan AI, kondisi yang sama belum tentu berlaku untuk konten hiburan China. Sebagai contoh, Tencent Video kerap bergerak cepat melaporkan video yang menggunakan cuplikan trailer drama mereka meskipun hanya beberapa detik, yang berujung pada pemberian strike kepada pengunggah. Namun di sisi lain, masih ditemukan channel yang mengunggah episode drama secara utuh tanpa tindakan tegas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan konten palsu dan berita hoaks di YouTube masih belum merata, khususnya untuk konten hiburan non-Hollywood, dan menjadi tantangan tersendiri bagi penonton yang ingin memperoleh informasi yang akurat.

Kasus trailer palsu Avengers: Doomsday hingga maraknya hoaks seputar drama China menunjukkan bahwa di era AI, kecepatan penyebaran sering kali mengalahkan akurasi. Platform dan studio besar dapat bertindak tegas ketika kepentingan bisnis mereka terancam, tetapi untuk konten hiburan non-Hollywood, pengawasan masih jauh dari merata. Pada akhirnya, penonton kerap menjadi penyaring terakhir—dipaksa untuk lebih waspada dan kritis, di tengah banjir konten yang semakin sulit dibedakan antara fakta, spekulasi, dan rekayasa digital.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments