LayarHijau.com— Syuting drama historis megah Northern Wei Dynasty (江山大同) telah resmi dimulai sejak akhir Maret lalu, membawa beban ekspektasi tinggi dengan investasi fantastis mencapai 300 juta Yuan. Proyek ini diposisikan sebagai drama sejarah pertama yang menyoroti perspektif seorang permaisuri agung, di mana aktris papan atas Yang Mi memerankan peran ganda sebagai Feng Sui dan keponakannya, Feng Yan’er. Ia dipasangkan dengan Liu Xueyi yang memerankan karakter Tuoba Jun, sang cucu kaisar. Namun, di balik kemegahan produksinya yang juga menarik perhatian CCTV, drama ini justru diterjang badai kontroversi mulai dari penghapusan atribut penggemar hingga perdebatan panas mengenai integritas naskah yang dianggap meminggirkan peran utama wanita.
Keputusan Yang Mi untuk mengambil proyek ini dipandang sebagai langkah krusial dalam evolusi kariernya setelah meninggalkan agensi Jay Walk Studio. Tahun lalu, aktris ini berhasil memulihkan reputasi aktingnya melalui drama pedesaan This Thriving Land (生万物), yang menghapus memori kurang menyenangkan dari kegagalan Fox Spirit Matchmaker: Red Moon Pact (狐妖小红娘月红篇). Dengan dukungan basis penggemar yang masif, mereka menyambut dimulainya Northern Wei Dynasty dengan ribuan bendera dukungan di lokasi syuting. Sayangnya, suasana pesta itu berubah menjadi kemarahan ketika staf produksi secara diam-diam mencabut bendera-bendera tersebut dengan alasan menjaga keseimbangan emosional antar aktor, sebuah tindakan yang dianggap penggemar sebagai diskriminasi terhadap status kebintangan Yang Mi demi mengakomodasi perasaan pemeran lainnya.
Masalah naskah menjadi titik api yang jauh lebih membara bagi keberlangsungan Northern Wei Dynasty (江山大同). Alur ceritanya berlatar pada masa Dinasti Wei Utara, mengisahkan pengorbanan Putri Feng Sui demi perdamaian, yang kemudian berlanjut pada perjuangan Feng Yan’er dalam menavigasi intrik politik istana. Kabarnya, penulis naskah Jin Haishu telah menyiapkan draf ini sejak sepuluh tahun lalu dengan judul asli Beiwei Wangchao (北魏王朝). Meskipun dipasarkan sebagai drama “female-centric”, bocoran naskah terbaru menunjukkan adanya pergeseran fokus yang signifikan. Momen-momen krusial yang memperlihatkan kecerdasan politik Feng Yan’er diduga telah dipangkas atau diubah menjadi pencapaian bersama dengan Tuoba Jun, sehingga mereduksi karisma sang permaisuri sebagai negarawan yang independen.
Di sisi lain, tim produksi berusaha menerapkan “seni keseimbangan” agar drama ini tidak hanya terlihat sebagai panggung tunggal satu aktor. Karakter Tuoba Jun yang diperankan Liu Xueyi kini digambarkan memiliki garis keturunan keluarga yang lebih dieksplorasi secara mendalam, menjadikannya pilar cerita yang setara. Penyesuaian ini memicu tuduhan adanya naskah “yin-yang”, di mana sinopsis resmi yang dirilis Tencent cenderung melukiskan Feng Yan’er sebagai sosok wanita tradisional yang hanya meneruskan warisan suaminya, bukan penguasa yang memiliki visi politik sendiri. “Drama ini seharusnya menjadi monumen bagi kekuatan wanita dalam sejarah, namun jika naskahnya terus mengalami perubahan yang meminggirkan esensi tersebut, kita hanya akan mendapatkan melodrama romansa biasa dengan kostum sejarah,” ungkap salah satu pengamat drama di media sosial Tiongkok.
Ketegangan antara dua kubu penggemar saat ini telah mencapai puncaknya di jagat maya, menciptakan ketidakpastian bagi masa depan drama yang menelan biaya hampir Rp650 miliar ini. Pendukung Yang Mi bersikeras bahwa idola mereka harus memiliki ruang untuk menunjukkan transformasi karakter dari gadis muda hingga menjadi penguasa tangguh selama empat dekade, sementara pendukung Liu Xueyi meyakini bahwa dinamika kekuasaan di Dinasti Wei Utara memang memerlukan kehadiran karakter pria yang kuat. Sebagai sebuah karya yang diharapkan menjadi mahakarya sejarah, Northern Wei Dynasty kini berada di persimpangan jalan. Keberhasilannya di masa depan sangat bergantung pada keberanian tim kreatif untuk kembali ke inti cerita yang jujur tanpa harus terjebak dalam tuntutan modal atau upaya penyetaraan porsi layar yang justru merusak logika narasi sejarah itu sendiri.










