LayarHijau.com – Sutradara drama China Overdo, Yi Jun, tengah menjadi sorotan setelah drama garapannya menuai kritik terkait kualitas produksi. Di tengah kontroversi tersebut, muncul pula rumor bahwa ia kemungkinan tidak lagi menjadi sutradara drama kolosal Revenge, memicu perdebatan mengenai apakah standar pemilihan sutradara drama China kini mulai berubah.
Sejak Overdo tayang, kualitas produksinya menjadi sasaran kritik. Tagar #正片不如路透 atau “versi tayang tidak sebagus cuplikan syuting” dengan cepat menjadi perbincangan di media sosial Tiongkok. Banyak penonton menilai hasil akhir drama tidak mampu memenuhi ekspektasi yang sebelumnya dibangun melalui foto dan video di balik layar.

Osmanthus Honey Ala Luke The Early Spring
Osmanthus honey terinspirasi dari drama The Early Spring. Minuman yang sering dibuatkan Luke untuk Flora.
Bentuk produknya seperti selai. Penggunaannya tinggal dicampurkan air hangat atau susu.
Kami memperoleh komisi kecil setiap kali kalian melakukan pembelian melalui link yang kami berikan, tanpa ada tambahan biaya untuk kalian.
Tak lama setelah itu, beredar kabar bahwa Revenge, yang sebelumnya direncanakan disutradarai Yi Jun, mulai menyiapkan opsi sutradara lain. Menurut rumor yang beredar, dua nama yang masuk dalam pembicaraan adalah Zhi Zhu dan Zeng Qingjie.
Apabila rumor pergantian sutradara tersebut benar, banyak pihak menilai hal itu bisa menjadi pertanda bahwa industri drama China mulai mengubah standar dalam memilih sutradara untuk proyek-proyek drama idol berskala besar.
Overdo Dianggap Gagal Memenuhi Ekspektasi
Saat ini, Overdo memperoleh skor 5,1 di Douban dari sekitar 48 ribu pengguna.
Penurunan respons penonton juga terlihat dari data popularitas di platform streaming. Hingga 29 Juli, indeks popularitas drama tersebut di iQIYI turun dari puncak 8.228 menjadi 7.546, sementara di Tencent Video turun dari 24.506 menjadi 23.506.
Padahal, sebelum tayang, Overdo sempat menarik perhatian besar berkat cuplikan syuting yang beredar luas di media sosial. Platform dan tim produksi juga menggelontorkan sumber daya promosi yang besar sehingga hasil akhirnya dinilai jauh dari ekspektasi pasar.
Meski menjadi sasaran kritik, kegagalan satu drama belum tentu membuat seorang sutradara kehilangan kesempatan menangani proyek besar berikutnya.
Kritik terhadap Sutradara Bukan Hal Baru
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah sutradara drama populer juga pernah menghadapi situasi serupa.
Zhu Ruibin, yang menyutradarai Ashes of Love, sempat dikritik karena dianggap terlalu mengandalkan pola penyutradaraan yang sama. Saat Story of Kunning Palace tayang pada 2023, gaya penyutradaraannya kembali diperdebatkan oleh penonton.
Sementara itu, Guo Hu yang sebelumnya sukses lewat Mysterious Lotus Casebook juga menuai kritik ketika menyutradarai Only for Love. Penonton menyoroti penggunaan warna, teknik pengambilan gambar, hingga penataan kostum yang dinilai kurang memuaskan.
Meski demikian, kritik tersebut tidak menghentikan karier keduanya.
Dalam dua tahun terakhir, Zhu Ruibin masih dipercaya menggarap Blossoms in Adversity, Moonlight Mystique, dan Fated Hearts. Ia juga memiliki proyek mendatang Love in Red Dust dan Yunchu’s Vengeance.
Guo Hu pun tetap aktif menyutradarai A Moment But Forever, A Dream Within a Dream, dan Fate Chooses You. Sementara itu, drama terbarunya, Nirvana in Flames (Feng Bu Qi) yang dibintangi Wu Jinyan dan Wei Zheming, telah memulai proses produksi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kritik terhadap sebuah karya tidak selalu berujung pada berakhirnya karier seorang sutradara.
Industri Lebih Mengutamakan Kemampuan Mengelola Proyek
Seorang produser yang diwawancarai Sohu Entertainment menjelaskan bahwa drama idol pada dasarnya merupakan produk hiburan yang sangat bergantung pada kepastian produksi.
Karena itu, aspek pertama yang dinilai bukanlah gaya visual, melainkan kemampuan sutradara menangani proyek berskala besar, mengelola anggaran, memimpin ratusan kru, menjaga efisiensi produksi, serta menyelesaikan syuting sesuai jadwal.
Barulah setelah itu industri mempertimbangkan gaya kreatif dan kecocokan sutradara dengan jenis proyek yang akan digarap.
Standar inilah yang membuat Yi Jun dipercaya menangani sejumlah proyek penting.
Sebelum menggarap Overdo, ia membangun reputasi melalui Bloody Romance pada 2018. Drama tersebut mendapat banyak pujian sebagai salah satu web drama berkualitas pada masanya.
Pada 2022, ia kembali menarik perhatian lewat Lost Track of Time, yang memperoleh respons positif dan banyak dibicarakan di media sosial.
Berkat rekam jejak tersebut, Yi Jun kemudian dipercaya menggarap proyek-proyek besar, mulai dari The Princess’s Gambit, Overdo, hingga Floating Life yang dibintangi Chen Zheyuan dan Wang Churan.
Selera Penonton Mulai Bergeser
Yi Jun merupakan salah satu perwakilan generasi sutradara yang berkembang ketika industri drama China sedang memasuki masa ekspansi.
Pada masa itu, efisiensi produksi menjadi prioritas utama. Banyak drama populer ditangani sutradara berpengalaman dari Hong Kong dan Taiwan, seperti Li Guoli, Wu Jinyuan, Li Huizhu, Liang Shengquan, Huang Junwen, dan Lin Yufen.
Seiring berkembangnya industri, muncul generasi baru yang sebelumnya berkarier sebagai sinematografer, asisten sutradara, maupun sutradara pelaksana. Selain Yi Jun, terdapat Guo Hu, Ren Haitao, hingga Fei Zhenxiang yang dikenal lewat Love Like the Galaxy dan seri Candle in the Tomb.
Namun, tuntutan penonton kini jauh lebih tinggi.
Selain cerita, penonton semakin memperhatikan kualitas sinematografi, komposisi gambar, tata cahaya, tata artistik, desain kostum, hingga akurasi detail sejarah, terutama pada drama kolosal. Formula visual yang dulu dianggap aman kini justru lebih mudah menjadi sasaran kritik.
Sutradara dengan Gaya Visual Kuat Semakin Dilirik
Perubahan selera penonton juga mulai memengaruhi cara platform memilih sutradara.
Dua nama yang dikabarkan menjadi kandidat pengganti Yi Jun di Revenge, yakni Zhi Zhu dan Zeng Qingjie, dikenal karena kekuatan visual dalam karya-karya mereka.
Zhi Zhu mendapat perhatian lewat Love in the Clouds, yang dipuji berkat atmosfer visualnya. Sementara itu, Zeng Qingjie sukses mencatat dua hit berturut-turut melalui The Rise of Ning dan Pursuit of Jade. Ia dikenal mampu menghadirkan visual yang kuat sekaligus menciptakan adegan-adegan ikonik bagi para pemainnya.
Meski demikian, banyak pelaku industri menilai kemampuan mengendalikan biaya produksi, menyelesaikan proyek tepat waktu, serta mengoordinasikan kepentingan platform, investor, dan para aktor tetap menjadi nilai yang sangat penting.
Karena itu, sutradara berpengalaman dengan rekam jejak menangani proyek berskala besar masih akan terus dibutuhkan.
Meski begitu, arah industri drama China tampaknya memang mulai bergeser. Jika sebelumnya efisiensi produksi menjadi pertimbangan utama, kini kualitas artistik dan estetika visual semakin menentukan dalam memilih sutradara. Perubahan tersebut mencerminkan transformasi industri drama China yang mulai bergerak dari era yang mengutamakan kuantitas dan popularitas menuju persaingan yang lebih menekankan kualitas karya.
Kaca Pembesar HP

Produk inovatif.
Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.
Kualitas hingga HD, harga murah meriah.
Holder Jepit HP

Aksesoris tonton drama.
Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.
Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.
Proyektor HP

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.
Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.

