LayarHijau.com — Seorang penyanyi virtual mengungkap betapa mahalnya membuat lagu cover (lagu orang lain yang dinyanyikan ulang), sementara pendapatannya nyaris tidak ada. Media Taiwan melaporkan unggahan Evelynn Red di X, seorang VTuber bertema cyberpunk yang aktif bernyanyi. VTuber (Virtual YouTuber) adalah kreator konten yang tampil dengan avatar animasi 2D atau 3D, bukan wajah aslinya. Penyanyi virtual disebut juga VSinger. Menurut Evelynn Red, VSinger adalah salah satu jenis VTuber yang paling merugi, dan merilis musik hampir sama dengan membuang uang.
Diskon Besar Hari Ini
4 produk · Tap panah untuk lihat selengkapnya
DISKON
HINGGA
81%
Link afiliasi, kami mungkin mendapat komisi dari pembelian melalui tautan ini.
Evelynn Red menjelaskan bahwa penonton kini menuntut kualitas tinggi untuk lagu cover, minimal dengan mixing (penyeimbangan dan penyempurnaan rekaman suara) yang layak, musik pengiring, ilustrasi, dan video musik. Berdasarkan penawaran harga kreator yang pernah ia temui, ia memperkirakan biaya satu lagu cover sebagai berikut:
- Pembuatan ulang musik pengiring: sekitar US$300 (sekitar Rp4,8 juta)
- Mixing: mulai US$100 (sekitar Rp1,6 juta), ditambah US$30 (sekitar Rp480 ribu) bila memerlukan harmoni dan vokal pemandu
- Ilustrasi: sekitar US$80 (sekitar Rp1,3 juta) untuk harga termurah
- Video musik: sekitar US$80 (sekitar Rp1,3 juta) untuk harga termurah
Totalnya sekitar US$560 (sekitar Rp9 juta) per lagu. Menurut Evelynn Red, uang itu kemungkinan besar tidak akan pernah kembali.
Pendapatannya jauh dari sebanding. Menurut Evelynn Red, lagu cover terakhirnya di Spotify hanya menghasilkan US$1,67 (sekitar Rp27 ribu), dan cover dengan penonton terbanyak di kanal YouTube-nya, lebih dari 60 ribu kali ditonton, hanya menghasilkan US$10 (sekitar Rp160 ribu). Ia berprofesi sebagai teknisi audio sekaligus produser musik sehingga bisa membuat musik pengiring dan mixing sendiri, dan menyebut dirinya tergolong beruntung.
Ia juga menyebut risiko hak cipta. Memakai musik pengiring resmi membuat YouTube mendeteksi pelanggaran hak cipta sehingga video tidak bisa dimonetisasi. Meski sudah membayar lisensi dan membuat ulang musik pengiring, menurutnya keuntungan tetap tidak terjamin.
VSinger bernama lime ikut menanggapi dengan pengalamannya di akun YouTube miliknya. Menurut lime, videonya ditonton sekitar 1 juta kali per bulan, tetapi pendapatannya hanya sekitar US$90 (sekitar Rp1,4 juta). Belum diketahui apakah lime memonetisasi akun tersebut lewat program iklan YouTube (AdSense), apakah video yang dimaksud berisi lagu cover berhak cipta, atau apakah angka itu berlaku untuk seluruh penayangan. Lime menyebut memerlukan pemasukan dari platform lain untuk menutup biaya pembuatan cover. Soal saran “belajar sendiri saja”, lime menilai dirinya memang bisa mempelajarinya, tetapi sangat menyita waktu dan menyulitkan rilis yang rutin.
VTuber lain menyebut bahwa bahkan talenta agensi besar seperti hololive dan Nijisanji hampir tidak mungkin balik modal dari jumlah penayangan untuk lagu cover maupun lagu orisinal. Lagu-lagu itu lebih berfungsi sebagai bentuk apresiasi bagi penggemar atau cara menarik penggemar baru. Pemasukan tetap bertumpu pada penjualan merchandise, kerja sama dengan sponsor, dan donasi penonton. Untuk VTuber kecil dan menengah, membiayai lagu cover umumnya memerlukan pekerjaan penuh waktu lain, belum termasuk risiko mendapat peringatan hak cipta dari YouTube yang membuat seluruh biaya hangus.
Seorang VTuber Jepang turut merangkum harga di negaranya. Menurutnya, studio rekaman, ilustrasi, mixing, dan video masing-masing dimulai dari sekitar ¥10.000 (sekitar Rp1 juta), sehingga proyek lagu cover di Jepang pun tergolong mahal.
Dukung Layar Hijau
Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.
Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.
Untuk pengguna di Indonesia
Untuk pengguna internasional
Informasi lebih lanjut, klik di sini.









