Sinopsis dan Review Stranger Things Season 1

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

Daftar Episode 

Chapter One: The Vanishing Of Will Byers

Chapter Two: The Weirdo on Maple Street

Chapter Three: Holly, Jolly

- Advertisement -

Chapter Four: The Body

Chapter Five: The Flea and The Acrobat

Chapter Six: The Monster

- Advertisement -

Chapter Seven: The Bathtub

Chapter Eight: The Upside Down

Season 1 Stranger Things cukup brilian; perpaduan unik antara perkembangan karakter yang rumit dan penulisan yang cerdas membuat serial ini menjadi salah satu serial yang menonjol pada 2016. Serial ini mampu menjaga keseimbangan beberapa grup tokoh utama dan mengulitinya dengan detail yang cukup untuk membuat mereka lebih realistis dan lebih penting, menolong kita peduli tentang mereka sepanjang 8 episode ini.

Saat Will Byers ( Noah Schnap) muda menghilang secara misterius, hal-hal aneh mulai terjadi di kota saat penyelidikan tentang menghilangnya Will sedang berlangsung. Jelas terlihat serial ini terinspirasi dari X-Files, the Goonies, Stephen King dan pesona Steven Spielberg  di sepanjang season, tercampur bersama dan disajikan dengan cara yang membuat Stranger Things muncul sebagai serial yang solid dengan gaya khasnya.

Hanya dengan 8 episode, ada rasa terburu-buru di dalamnya; hasrat untuk membawa cerita maju dan fokus pada dinamika karakter di dalamnya. Kualitas akting dan performa para pemain terlihat jelas. Empat aktor anak, di luar Eleven (Millie Bobby Brown), ditulis dengan baik dengan dinamika yang realistis di antara mereka– kalian merasa anak-anak ini adalah sahabat baik. Hal ini didukung naskah serial yang ditulis dengan baik, dengan dialog yang realistis dan kecepatan alur cerita yang baik. 

Pertikaian kecil, ketegangan yang naik secara dramatis dan tekanan yang muncul yang menumpuk pada anak-anak ini membuat kita semakin asyik menontonnya.

- Advertisement -

 Salah satu bagian terbaik dari Stranger Things adalah penggambarannya yang akurat terhadap tahun 80-an. Contohnya ada karakter yang memukul TV supaya gambarnya jelas, anak-anak bermain dungeons and dragons di ruang bawah tanah atau soundtrack 1980-an. Stranger Things mampu melakukan hal yang baik dalam menggambarkan dunia yang realistis. Elemen horor dan ketegangan di dalamnya dikemas dengan pas sehingga membuat kita terkejut, merasakan sensasi seram dan horor. Seperti pepatah di luar negeri mengatakan, “tunjukkan, jangan katakan”. Pepatah ini benar-benar dipraktekkan dalam serial ini. Misteri di dalam serial tetap tersimpan rapat dan monster yang membuntuti anak-anak itu baru terlihat pada episode akhir.

Sulit untuk mencari kelemahan season pertama ini. Efek CGI untuk film ini mungkin terasa sedikit mengecewakan. Tapi kelemahan ini bisa dikatakan sebagai sesuatu yang kecil dan tidak mengganggu. Sulit untuk tidak merekomendasikan Stranger Things season 1 untuk ditonton. Season kedua tentunya menjadi season yang patut dilihat juga.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments