LayarHijau.com – Woo Do-hwan kembali mencuri perhatian lewat musim kedua Bloodhounds yang kini semakin intens dan brutal. Aktor asal Korea Selatan itu mengaku harus mengerahkan seluruh kemampuan fisik dan mentalnya demi menghadirkan aksi yang lebih besar dibanding musim pertama.
Kesuksesan musim pertama membawa drama kriminal ini ke panggung global, sekaligus meningkatkan ekspektasi terhadap kelanjutannya. Namun di balik itu, Woo mengungkap bahwa setelah menyelesaikan musim pertama, ia sempat merasa kelelahan luar biasa hingga meragukan dirinya bisa kembali menjalani proyek serupa. Meski begitu, saat musim kedua resmi diproduksi, semangatnya justru bangkit.
Ia menggambarkan proses syuting sebagai “medan perang” yang menuntut totalitas tanpa kompromi. Bahkan di hari libur sekalipun, ia tetap harus berlatih fisik demi menjaga kondisi tubuh. Tekanan tersebut justru membuatnya semakin terpacu untuk tampil maksimal.
Dalam Bloodhounds 2, karakter Gun-woo yang ia perankan bersama Lee Sang-yi sebagai Woo-jin, kini terjun ke dunia tinju ilegal berskala global. Arena tersebut dipenuhi kekerasan dan taruhan besar, menghadirkan konflik yang jauh lebih berbahaya dibanding sebelumnya.
Untuk mendukung transformasi karakternya, Woo menaikkan berat badan hingga 13 kilogram melalui latihan yang lebih terstruktur. Ia menjelaskan bahwa Gun-woo di musim pertama masih terkesan polos dan belum matang secara emosional. Sementara di musim kedua, karakter tersebut sudah berkembang menjadi petarung yang lebih kuat dan berpengalaman, bahkan langsung dihadapkan pada pertandingan kelas dunia.
Perubahan ini juga terlihat dari sisi kepribadian. Kehilangan yang dialami di musim pertama membuat Gun-woo menjadi lebih keras. Ia tidak lagi bisa bersikap lembut jika ingin melindungi orang-orang yang ia sayangi. Dalam pertarungan terakhir, gaya bertarungnya pun berubah menjadi lebih taktis dan agresif, menunjukkan bahwa bagi Gun-woo, yang terpenting bukan lagi sekadar aturan, melainkan hasil dan perlindungan terhadap orang terdekat.
Woo juga menyoroti keunikan Bloodhounds dibanding drama aksi lainnya. Menurutnya, kekuatan utama serial ini terletak pada tempo cepat dan ritme adegan aksi yang dirancang seperti memainkan drum—penuh ketukan, irama, dan momentum yang harus dijaga agar tetap intens.
Di balik layar, perjuangan yang ia jalani tidak kalah berat. Ia harus bertahan dengan obat pelemas otot, menghadapi rasa sakit hampir setiap hari, hingga mengalami cedera seperti leher yang terkunci setelah menjalani adegan aksi berat. Bahkan ia kerap meminta tim fisioterapi untuk membantu memulihkan kondisi tubuhnya agar bisa kembali berlari dan syuting.
Meski begitu, Woo mengaku justru menemukan kepuasan tersendiri dalam genre aksi. Berbeda dengan drama romantis atau komedi yang mengandalkan musik dan editing untuk membangun emosi, adegan aksi menurutnya bisa langsung dinilai sejak di lokasi syuting. Jika berhasil, hasilnya langsung terasa. Jika tidak, harus diulang saat itu juga.
Ia menggambarkan momen ketika adegan berjalan sempurna dalam satu kali pengambilan sebagai pengalaman yang sangat memuaskan—campuran rasa tegang, lega, dan semangat yang langsung memuncak saat itu juga. Setelahnya, ia dan lawan mainnya bahkan sering saling memberi high-five karena merasa berhasil menaklukkan adegan berat bersama.
Pengalaman itu juga membuatnya mulai memahami daya tarik aksi ekstrem yang selama ini ia lihat dari aktor seperti Tom Cruise.
Menariknya, musim kedua ditutup dengan petunjuk yang mengarah ke kelanjutan cerita. Woo sendiri berharap kisah ini tidak berhenti terlalu cepat. Ia bahkan membayangkan Bloodhounds bisa berkembang sepanjang kisah karakter seperti Wolverine dari franchise X-Men, dengan kemungkinan cerita yang terus berlanjut tanpa batas.









