Terakhir diperbarui pada 03/01/2022 oleh Timotius Ari
The Medium menjadi salah satu film paling diantisipasi pada 2021 berkat kolaborasi antara sutradara Thailand, Banjong Pisanthanakun dan sutradara Korea, Na Hong-jin. Di Korea Selatan, film itu menarik lebih dari 769 ribu penonton bioskop sejak tayang pada 14 Juli 2021. Hal ini merupakan pencapaian untuk sebuah film yang tayang selama pandemi. Hanya beberapa film yang berhasil melampaui 1 juta penjualan tiket bioskop selama pandemi ini.
Tapi, pujian dari para kritikus film dan jurnalis sebelum film itu tayang dianggap berlebihan bila dibandingkan dengan ulasan para penonton yang sudah menontonnya. Misalnya dari 6.490 ulasan di portal situs Korea, Naver, banyak pengguna mengkritik film itu karena adegan-adegan menjijikkan yang kadang dianggap tidak perlu. Selain itu, mereka mengkritik jika elemen-elemen horor di dalamnya kekanak-kanakan.
[taxopress_relatedposts id=”1″]Tapi, para jurnalis, pecinta film dan kritikus film rupanya sepakat jika aktor pendatang baru Narilya Gulmongkolpech memerankan sosok Mink dengan sangat baik. Mink, seorang gadis biasa yang suatu saat kerasukan banyak roh jahat. Akting artis yang akrab dipanggil Yada itu terlihat benar-benar menakutkan sebagai seorang gadis yang kerasukan.
Selain aktingnya yang menyakinkan, Yada juga menjadi perhatian publik karena keberaniannya beradegan panas dalam film itu. Lucunya selama wawancara dengan Korea JoongAng Daily pada Juli 2021, Yada awalnya tidak tahu jika dia diaudisi untuk film yang diciptakan dua sutradara kenamaan.
“Tapi saya benar-benar gembira saat membaca naskahnya. Film ini adalah sesuatu yang belum pernah saya lakukan atau saya lihat dari film lokal—ceritanya tentang perdukunan lokal Thailand dan tentang agama yang banyak orang, termasuk saya sendiri, yakini dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya begitu nyata, dan saya terpesona membaca naskahnya,” terang Yada. Dia diaudisi selama lima kali sebelum memperoleh peran itu.
Lucunya, sekalipun debut perdana di layar lebar dengan membintangi sebuah film horor, Yada rupanya tidak menyukai genre film horor. Sebagai seorang wanita Thai, Yada sangat percaya dengan keberadaan hantu dan takut dengan hantu.
“Saya tidak bisa memilih adegan yang paling menakutkan buat saya, karena semua adegan menakutkan bagi saya,” kata Yada.
“Bahkan sebelum melihat film finalnya, saya takut hanya dengan melihat diri saya sendiri setelah tim rias selesai mendandani saya. Tapi selama proses syuting, rasanya sangat menyenangkan. Sekalipun sulit, saya selalu suka menantang diri sendiri,” lanjutnya.
Wanita cantik itu merasa terkejut dengan pujian dan dukungan yang dia terima dari para penonton Korea. Hal ini menimbulkan antisipasi para penonton Thailand bertambah kuat saat film itu tayang di negara itu akhir tahun lalu.
“Saya sangat berterima kasih terhadap perhatian yang saya terima dan saya bisa rasakan juga lewat media sosial saya. Dan itu membuat saya berharap jika saya bisa berkomunikasi dengan mereka dalam Bahasa Korea, jadi saya sebenarnya mulai belajar bahasa itu..jadi saya begitu bahagia saya bisa debut juga dalam proyek di Korea, jika saya diberikan kesempatan karena saya tahu jika industri hiburan Korea adalah salah satu yang terbaik di dunia. Hal itu akan menjadi tantangan lain yang saya ingin lakukan,” katanya.