LayarHijau.com — Hari ini, jagat maya di China ramai memperbincangkan tiga drama yang mengumumkan jadwal penayangan mereka secara bersamaan. Seperti yang diberitakan akun Instagram Layar Hijau pada 12 Mei, Legend of Zang Zhai yang dibintangi oleh Xiao Zhan dan Zhang Jingyi resmi mengumumkan tanggal tayangnya, yakni 18 Mei 2025 di platform Youku.
Sementara itu, drama The Prisoner of Beauty yang dibintangi Liu Yuning dan Song Zuer mulai tayang hari ini, 13 Mei pukul 12:00 waktu setempat di Tencent Video dan WeTV.
Drama ketiga adalah A Love Never Lost, yang dibintangi Li Xian, Wei Daxun, dan Jessi Li. Drama ini juga mulai tayang hari ini, 13 Mei pukul 12:00 di iQiyi China. Yang menarik, penayangannya langsung memicu diskusi hangat di media sosial Weibo.
Tagar #李现魏大勋双男主# (Li Xian dan Wei Daxun adalah dua pemeran utama pria) masuk ke daftar pencarian populer (hot search) dan memicu perdebatan di kalangan netizen. Beberapa penggemar Li Xian mempertanyakan kebenaran tagar tersebut, karena mereka meyakini bahwa Li Xian adalah pemeran utama pria tunggal dalam drama ini.
Di sisi lain, sebagian pihak menyayangkan jika perdebatan ini kembali menyeret nama Wei Daxun. Ini bukan kali pertama aktor tersebut dituduh mencoba “mencuri sorotan” dari pemeran utama dalam drama yang dibintanginya.
Sebelumnya, penampilan Wei Daxun dalam Fireworks of My Heart mendapat banyak pujian dari netizen. Namun, ironisnya, dua pemeran utama drama tersebut—Yang Yang dan Wang Churan—justru menuai banyak kritik. Kontrasnya penerimaan publik ini memunculkan dugaan adanya kampanye terselubung yang secara sengaja menyerang pemeran utama sambil mengangkat aktor pendukung.
Sebagian pengamat menilai bahwa meskipun kampanye semacam itu membuat popularitas Wei Daxun melonjak dalam waktu singkat, dampak jangka panjangnya bisa merugikan. Tim produksi dan para aktor utama mungkin akan lebih berhati-hati untuk bekerja sama dengannya di proyek berikutnya, karena khawatir drama yang mereka bintangi kembali menjadi sasaran kampanye serupa. Tentu saja, tak ada tim produksi atau aktor utama yang ingin perhatian publik terhadap proyek mereka malah beralih ke pemeran pendukung.
Proses Panjang Menuju Penayangan
Akun resmi Beijing Literature and Art Radio menulis di Weibo bahwa A Love Never Lost telah melewati proses panjang sebelum akhirnya resmi tayang hari ini. Pada 17 Juli 2022, drama ini sempat dijadwalkan untuk tayang di Hunan TV pada 18 Juli 2022. Namun, jadwal tersebut kemudian ditunda. Drama ini sempat tayang enam episode di iQiyi sebelum akhirnya ditarik dari platform.
Menurut pernyataan resmi saat itu, penundaan dan penarikan drama dari platform disebabkan oleh “masalah teknis.” Kini, pada 13 Mei 2025, drama ini membuat akun Weibo baru dan mengumumkan kembali jadwal penayangannya secara resmi.
Sinopsis A Love Never Lost
Setelah runtuhnya Dinasti Gengzi, Tiongkok berada dalam kehancuran. Di tengah situasi itu, para pemuda dengan idealisme tinggi bangkit untuk menyelamatkan tanah air. Liang Xiang, seorang pemuda bangsawan; Yang Kai Zhi, anggota partai revolusioner; dan Li Ren Jun, penjaga Beiyang Wuyou, termasuk dalam kelompok pertama pemuda progresif yang dikirim ke Jepang untuk menempuh pendidikan di sekolah bintara. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan para eksil revolusioner, Yu Tian Bai dan Qiu Hong, di atas kapal pesiar. Pertemuan itu menjadi awal keterikatan nasib kelima pemuda tersebut.
Di Tokyo, berbagai pemikiran modern mengguncang pandangan mereka. Bersama-sama, mereka memperjuangkan keadilan, mengejar cinta, dan berjuang demi kebangkitan Tiongkok. Sekembalinya ke tanah air, Liang Xiang berambisi untuk memajukan negara dan memperkuat militer, namun terseret dalam pusaran politik. Semangatnya besar, namun tidak mendapat ruang untuk diwujudkan. Ia akhirnya menyadari arah zaman dan memilih untuk mengundurkan diri secara diam-diam.
Sementara itu, Yang Kai Zhi mencetak kemenangan penting dalam pertempuran di Yanji, menundukkan kesombongan imperialisme Jepang, dan mendapat julukan sebagai “Pahlawan Penjaga Perbatasan.”
Persaingan antara partai revolusioner, faksi konstitusional, dan kubu Beiyang terus berlanjut. Saat Revolusi 1911 meletus, para patriot revolusioner bertempur dengan gagah berani, menggulingkan tatanan lama yang telah bertahan selama ribuan tahun. Terinspirasi oleh semangat zaman, Qiu Hong, Yang Yi Fan, dan rekan-rekan mereka menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan bangsa adalah dengan terus melanjutkan perjuangan demi membangun kembali kejayaan Tiongkok.










