Para Praktisi Hukum China Bahas Sengketa Kontrak Zhao Lusi dan Agensinya

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

LayarHijau.com – Sengketa pemutusan kontrak antara aktris Zhao Lusi dan agensinya, Galaxy Cool Entertainment, kini berubah menjadi drama besar di ranah opini publik.

Di satu sisi, Zhao Lusi menuduh perusahaan melakukan pelanggaran ekonomi dan mengabaikan kesehatan dirinya. Ia mengklaim pihak agensi menarik 2,05 juta yuan (sekitar Rp4,7 miliar) dari rekening studionya tanpa persetujuan, tidak membawanya berobat ketika sakit, bahkan mengurungnya di kamar hotel untuk melakukan ritual mistis. Zhao Lusi juga menyebut saat ia ingin mengakhiri kontrak, perusahaan menunda dengan alasan seperti “anggota keluarga sakit”.

Di sisi lain, Galaxy Cool Entertainment membantah semua tuduhan pelanggaran kontrak. Mereka menyatakan selalu mengutamakan keinginan artis, namun tidak menjawab isu substansial seperti penarikan dana 2,05 juta yuan tersebut.

- Advertisement -

Kontrak Zhao Lusi kabarnya berlaku dari 2023 hingga 2030. Perseteruan ini membuat kedua pihak menuai citra negatif. Perusahaan diterpa tudingan mengeksploitasi artis, membiarkan kekerasan daring, dan mengalihkan utang. Sementara Zhao Lusi dikritik sebagian warganet karena dianggap “memakai sumber daya publik” dan terlalu emosional dalam membela haknya, bahkan dijuluki “Shuangzi” yang merusak reputasinya.

Pengacara Yi Shenghua, pendiri firma hukum Beijing Yongzhe, menjelaskan bahwa alasan artis memutus kontrak bervariasi: masalah kesehatan, perubahan rencana karier, hingga pelanggaran kontrak oleh perusahaan. Namun, alasan yang paling sering adalah ketidakpuasan artis setelah terkenal, merasa syarat kontrak terlalu berat atau platform agensi terlalu kecil.

“Alasan kesehatan memang ada, tapi jarang sekali berhasil di pengadilan. Terutama bila berkaitan dengan gangguan mental, karena sulit membuktikan sebab-akibatnya,” jelas Yi. Ia menambahkan, untuk memutus kontrak karena kesehatan, artis harus membuktikan masalah itu timbul akibat pekerjaan yang diberikan agensi, berlangsung lama, dan membuatnya tidak bisa melanjutkan kontrak.

- Advertisement -

Yi juga mengingatkan risiko jika artis segera kembali bekerja setelah memutus kontrak dengan alasan kesehatan. “Integritasnya akan dipertanyakan dan nilai komersialnya bisa turun drastis,” katanya.

Isu Penalti Bernilai Fantastis

Rumor lain yang beredar menyebut Zhao Lusi mungkin harus membayar penalti hingga 400 juta yuan (sekitar Rp920 miliar) jika ingin sukses memutus kontrak. Angka fantastis ini mengingatkan publik pada kasus-kasus sebelumnya: Chen Chusheng pernah digosipkan menghadapi tuntutan ganti rugi 22,7 miliar yuan (sekitar Rp52 triliun), sementara Jiang Jinfu dituntut lebih dari 10 juta yuan (sekitar Rp23 miliar) oleh Tangren Film & Television.

Menurut Yi Shenghua, jumlah penalti memang sengaja dibuat besar oleh agensi untuk melindungi investasi mereka terhadap artis. Namun, di praktik peradilan, pengadilan biasanya hanya mengabulkan kurang dari 30% dari angka yang tercantum di kontrak. Misalnya, Chen Chusheng akhirnya hanya membayar 6,5 juta yuan (sekitar Rp14,9 miliar), sementara Jiang Jinfu membayar 2 juta yuan (sekitar Rp4,6 miliar).

Meski begitu, kerugian terbesar artis sering kali bukan uang, melainkan waktu. “Karier artis itu singkat. Menghabiskan waktu bertahun-tahun di pengadilan bisa membuat popularitas mereka merosot,” jelas Yi. Beberapa artis bahkan harus membayar “harga” tertentu agar bisa keluar damai, seperti menyelesaikan proyek drama yang diminta agensi sebelum kontrak benar-benar berakhir.

Yi menyarankan agar masalah kontrak diselesaikan lewat negosiasi. “Gugatan hukum hampir pasti merugikan kedua pihak,” tegasnya. Ia juga memberi nasihat hukum bagi para artis, seperti mewaspadai klausul perpanjangan otomatis dan perjanjian agensi penuh, serta selalu memiliki pengacara pribadi yang berpihak pada artis untuk meninjau kontrak kerja.

Sumber: Sohu

TAGGED:
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted