LayarHijau.com – Drama China Against the Current (Lan Xiang Ru Gu) yang dibintangi Tan Songyun dan Liu Xueyi resmi tayang di CCTV-8 pada 11 September 2026 dan disiarkan eksklusif melalui Tencent Video. Drama ini diadaptasi dari novel Lan Xiang Yuan karya He Yanshan. Sebelum tayang, jumlah reservasi drama tersebut telah menembus 3 juta. Namun, di balik perhatian besar terhadap produksi ini, muncul kontroversi mengenai proses adaptasi yang sudah membayanginya sejak masa produksi pada 2025, terutama terkait perubahan nama karakter dan pencantuman nama penulis asli dalam materi promosi.
Novel Lan Xiang Yuan karya He Yanshan sebelumnya memiliki basis pembaca yang besar di genre roman sejarah dan memperoleh rating di atas 8 di Douban. Dalam novel, tokoh utama perempuan bernama Chen Xianglan, sedangkan tokoh utama laki-lakinya adalah Lin Jinlou. Dalam versi drama, kedua karakter tersebut masing-masing berganti nama menjadi Xu Lanxiang dan Lin Jinqi.
Perubahan nama tersebut menjadi salah satu sumber keberatan He Yanshan. Melalui akun Weibo pribadinya, ia menyampaikan ketidakpuasan karena perubahan nama karakter utama dilakukan tanpa komunikasi yang memadai. Menurut penjelasannya, nama Chen Xianglan memiliki makna filosofis yang dalam. Kata “Chen Xiang” mengacu pada kayu gaharu yang baru mengeluarkan aroma wangi saat ditimpa proses pembakaran—melambangkan ketahanan karakter perempuan di tengah penderitaan—sementara “Lan” merujuk pada bunga anggrek yang melambangkan keanggunan dan martabat. Dengan mengganti nama menjadi Xu Lanxiang, lapisan makna filosofis mengenai karakter yang tegar dan bermartabat itu dinilai ikut lenyap.
He Yanshan juga menjelaskan bahwa nama Lin Jinlou memiliki keterkaitan dengan makna “paviliun yang indah” serta ungkapan klasik mengenai kesederhanaan dan kebajikan. Perubahan nama karakter menurutnya ikut merusak identitas yang sejak awal dibangun dalam novel. Perubahan tersebut tidak berhenti pada dua pemeran utama; Zhao Yuechan diubah menjadi Zhao Xingtang, sementara Yuan Shaoren menjadi Yuan Shaohui. Sejumlah karakter lain dari keluarga Lin juga mengalami perubahan nama.
Perbedaan cerita antara novel dan drama juga cukup besar. Novel Lan Xiang Yuan menggunakan alur perjalanan jiwa dan kelahiran kembali. Tokoh perempuan Chen Xianglan membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya ketika memasuki keluarga Lin sebagai seorang pelayan. Ceritanya juga memuat unsur perebutan paksa, konflik rumah tangga, serta tekanan berdasarkan kelas sosial.
Against the Current mengambil jalur cerita berbeda. Tokoh perempuan versi drama, Shen Jialan, kehilangan keluarganya dan diselamatkan oleh pasangan pelayan bernama Xu Wanquan dan istrinya. Setelah putri pasangan tersebut meninggal karena sakit, Shen Jialan mengambil identitas Xu Lanxiang dan masuk ke kediaman keluarga Lin sebagai pelayan kelas tiga.
Perubahan tersebut memengaruhi hubungan antara dua karakter utama. Dalam novel, Lin Jinlou merupakan tunangan tokoh perempuan dan hubungan mereka berkaitan dengan alur perebutan paksa. Dalam drama, Liu Xueyi memerankan Lin Jinqi sebagai cucu tertua keluarga Lin, dengan hubungan yang lebih banyak dibangun melalui penyamaran, penyelidikan, dan upaya membersihkan nama.
Selain persoalan nama dan jalan cerita, polemik juga mencuat akibat ketidakkonsistenan pihak produksi dalam mencantumkan nama He Yanshan pada materi promosi. He Yanshan sempat melayangkan tuntutan terbuka agar materi promosi dan bagian pembuka drama setidaknya mencantumkan keterangan tegas bahwa Against the Current diadaptasi dari novel Lan Xiang Yuan karyanya.
Persoalan ini membuat perdebatan berkembang dari sekadar perubahan nama menjadi pertanyaan mengenai posisi karya asli dalam proses adaptasi. Bagi sebagian pembaca, perubahan nama dan hubungan antarkarakter dianggap mengubah terlalu banyak unsur yang sebelumnya menjadi bagian penting dari novel. Ada pula yang menilai bahwa drama tersebut memasukkan gagasan mengenai kesadaran perempuan modern ke dalam latar masyarakat feodal sehingga karakter versi drama terasa berbeda dari versi novel.
Di sisi lain, perubahan merupakan bagian dari proses adaptasi televisi. Versi drama tidak selalu harus menyalin novel secara utuh karena kebutuhan produksi dan narasi audiovisual berbeda. Perbedaan antara kedua versi tersebut kemudian menjadi persoalan mengenai sejauh mana sebuah adaptasi masih mempertahankan unsur inti karya sumber.
Persoalan pencantuman nama penulis ini juga memiliki dimensi hukum yang berbeda. Pengacara Zhao Hu dari Beijing Zhongwen Lawyers menyatakan bahwa tidak dicantumkannya nama penulis pada poster atau materi promosi tidak secara langsung dapat disamakan dengan pelanggaran hak pencantuman nama pada karya televisi. Menurut penjelasan tersebut, salah satu hal penting yang perlu dilihat adalah apakah nama penulis asli dicantumkan pada bagian pembuka karya yang telah selesai saat ditayangkan.
Ia juga menjelaskan bahwa apabila sebuah drama hanya mencantumkan keterangan diadaptasi dari Lan Xiang Yuan tanpa menyebut nama penulis, atau apabila perubahan dalam adaptasi sampai mengubah karya secara signifikan, persoalan hak pencantuman nama dan hak untuk melindungi keutuhan karya dapat menjadi bahan perdebatan. Namun, penilaiannya tetap bergantung pada kontrak serta isi versi akhir drama. Perdebatan mengenai perlindungan keutuhan karya sebelumnya juga pernah muncul dalam perkara adaptasi film The Nine-Story Demon Tower yang berkaitan dengan The Lost Tomb.
Di luar polemik perihal adaptasi dan hukum tersebut, drama ini tetap mendapat perhatian karena skala produksinya. Tim produksi membangun taman bergaya Dinasti Ming seluas sekitar 40 mu dan menghabiskan waktu 155 hari untuk pengerjaannya. Tan Songyun disebut mengenakan lebih dari 80 set kostum, sementara Liu Xueyi menjalani proses syuting dengan mengenakan zirah seberat sekitar 30 jin ketika menunggang kuda.
Kostum, tata rias, dan properti juga dibuat mengacu pada unsur sejarah. Beberapa kostum menggunakan sulaman Suzhou dan teknik kain tenun tradisional, sementara desain kediaman pejabat, jalanan, peralatan upacara, serta elemen lingkungan lainnya dibuat dengan merujuk pada materi sejarah. Materi promosi juga menggambarkan perjalanan karakter Tan Songyun dari perempuan bangsawan menjadi pelayan hingga akhirnya berperan sebagai nyonya rumah.
Sementara itu, Against the Current dipasarkan dengan tema pertumbuhan perempuan, penerobosan batas kelas sosial, serta kisah tokoh perempuan yang tidak bergantung pada laki-laki. Drama tersebut juga diposisikan sebagai drama sosial-keluarga berlatar zaman klasik dengan cerita yang menampilkan perjalanan tokoh utama melalui berbagai posisi sosial.
Kontras antara tema promosi tersebut dan polemik dengan penulis asli menjadi salah satu alasan kontroversi terus mendapat perhatian. Pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar mengapa nama karakter diubah, melainkan seberapa besar ruang yang masih diberikan kepada karya dan penciptanya setelah hak adaptasi dialihkan kepada pihak produksi.
Dengan lebih dari 3 juta reservasi dan dukungan penayangan di CCTV-8 serta Tencent Video, Against the Current memasuki masa tayang dengan ekspektasi besar. Bagi pembaca novel, persoalannya terletak pada apakah perubahan tersebut masih dapat diterima sebagai bentuk interpretasi baru atau justru membuat hubungan dengan karya asli menjadi semakin tipis. Sementara bagi pihak produksi, tantangannya adalah menunjukkan bahwa perubahan besar dalam karakter dan cerita tetap dapat menghasilkan drama yang berdiri sendiri sekaligus mempertahankan keterkaitan yang jelas dengan novel sumber.









