Posted in

Kasus Zhao Lusi Bongkar Tekanan dan Kekacauan di Balik Industri Hiburan Tiongkok

Bagikan

LayarHijau.com – Media hiburan Tiongkok Sohu baru-baru ini merilis laporan mendalam yang menyoroti tekanan dan dinamika di balik fenomena artis traffic—sebutan untuk selebritas yang popularitasnya banyak didorong oleh basis penggemar setia dan sorotan media. Di pusat pemberitaan tersebut adalah aktris Zhao Lusi, dengan pengalaman yang ia bagikan berdampingan dengan kisah dari aktor lain, produser, penulis naskah, dan kru, yang bersama-sama menggambarkan gambaran lebih luas tentang kerasnya lingkungan industri ini.

Zhao Lusi, yang melejit lewat drama-drama romantis manis, belakangan terseret konflik dengan agensinya, Galaxy Cool Entertainment. Dalam siaran langsung di Xiaohongshu, ia mengungkap deretan pengalaman pribadi—dari menyangkal rumor operasi plastik, bercerita soal penipuan yang membuatnya digugat, kabar ayahnya sakit kanker, hingga kematian kakeknya. Ia juga mengisahkan momen di lokasi syuting, seperti kru yang mendatangkan “ahli” untuk ritual pengusiran roh, serta mengenang gaji pertamanya yang hanya 2.500 yuan (sekitar Rp5,5 juta).

Dukung Layar Hijau

Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.

Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.


Untuk pengguna di Indonesia

Untuk pengguna internasional

Informasi lebih lanjut, klik di sini.

Meski begitu, para narasumber dalam laporan itu menegaskan bahwa kondisi Zhao bukan pengecualian. Sistem pabrik bintang—metode kilat mencetak selebritas lewat promosi besar-besaran, peran utama di proyek populer, dan pembentukan citra publik—menciptakan banyak bintang dengan pola hidup serupa: langsung dilempar ke pasar sebelum matang, bekerja tanpa henti, dan harus terus hadir di media sosial.

Seorang produser veteran mengatakan, “Banyak artis populer gelisah kalau tidak segera mengambil proyek baru. Mereka takut sorotan berpindah dan nama mereka tenggelam.” Hal ini mendorong siklus black and red—fenomena di mana artis sama terkenalnya dengan rasa benci yang mereka terima, sering karena kontroversi. Dalam beberapa kasus, agensi justru memanfaatkan kontroversi untuk mendongkrak perhatian.

Bintang lain yang diwawancarai, aktor muda yang pernah membintangi drama remaja populer, mengaku jadwalnya begitu padat hingga tidak punya waktu istirahat layak. “Begitu satu drama selesai, besoknya saya sudah harus reading untuk drama lain. Kalau jeda terlalu lama, penonton akan lupa. Tekanan itu nyata,” ujarnya.

Seorang aktris yang baru meraih popularitas lewat drama kostum juga membenarkan. Ia mengatakan, “Banyak yang mengira kami hidup mewah. Padahal di balik layar, kami bisa bekerja 16 jam sehari. Kadang makan pun sambil ganti kostum.”

Produser Yuanyuan (bukan nama sebenarnya), dalam laporan itu, menyoroti perubahan perilaku penonton. “Dengan layanan langganan berbayar, penonton merasa mereka punya hak menuntut kualitas. Mereka cepat mengenali akting yang dibuat-buat. Satu drama gagal bisa menghancurkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun.”

Seorang penulis naskah senior menambahkan bahwa industri kini kehilangan kesabaran membina talenta. “Semua pihak ingin hasil instan: agensi ingin cepat untung, produser ingin cepat rilis, artis mau cepat terkenal. Kami pun terpaksa menulis naskah dalam waktu yang tidak masuk akal. Kualitas jadi korban.”

Laporan itu juga menyinggung nilai komersial yang besar bagi artis traffic. Zhao Lusi disebut pernah menerima bayaran iklan sekitar 20 juta yuan (sekitar Rp44 miliar). Sementara aktor pria yang membintangi drama hit bisa dibayar 3 juta yuan (sekitar Rp6,6 miliar) hanya untuk satu penampilan acara. Godaan uang cepat ini sering membuat artis dan agensi mengabaikan peningkatan kemampuan akting.

Dalam kasus Zhao, upaya hukum menyelesaikan sengketa kontrak dengan agensinya berjalan buntu. Ia pun memilih memanfaatkan media sosial untuk membangun tekanan publik. Langkah ini, meski efektif membuat namanya tetap diperbincangkan, juga memperlihatkan rapuhnya posisi artis ketika berhadapan dengan sistem yang mengutamakan keuntungan cepat di atas segalanya.

Beberapa bintang lain dalam laporan itu mengakui, walaupun sistem ini melelahkan, mereka sulit keluar karena khawatir kehilangan relevansi. Seorang artis pria yang sudah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung mengatakan, “Dulu kami bisa istirahat setahun setelah satu drama sukses. Sekarang, kalau vakum tiga bulan saja, orang sudah mengira kamu tamat.”

Pertanyaan besar pun muncul: siapa yang sesungguhnya membayar biaya besar membentuk artis traffic? Bagaimana mengembalikan fokus industri pada kualitas dan keberlanjutan? Sampai jawabannya ditemukan, pabrik bintang akan terus melahirkan nama-nama baru dengan cerita yang mungkin tak jauh berbeda dari Zhao Lusi—gemerlap di depan kamera, tetapi dikejar bayang-bayang tekanan di belakangnya.

Kaca Pembesar HP

Kaca Pembesar HP
★★★★ 4 Stars

Produk inovatif.

Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.

Kualitas hingga HD, harga murah meriah.

Cek Harga →

Holder Jepit HP

Holder Jepit HP
★★★★½ 4.5 Stars

Aksesoris tonton drama.

Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.

Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.

Cek Harga →

Proyektor HP

Proyektor HP
★★★★½ 4.5 Stars

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.

Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.

Cek Harga →

Bagikan

Tim suka menulis berbagai hal, dan menonton film, serial TV, drama atau sekedar menonton video lainnya di YouTube. Pada waktu senggang, Tim suka belajar membuat ramen.

Your email address will not be published. Required fields are marked *