LayarHijau.com – Hulu, layanan streaming milik Disney yang sudah beroperasi lebih dari 20 tahun, akhirnya resmi dipastikan akan ditutup. Pengumuman ini pertama kali disampaikan Disney pada awal Agustus lalu, setelah merger besar yang membuat masa depan Hulu sebagai aplikasi mandiri berakhir.
Menurut laporan Variety (via CBR), Disney kini tengah mempercepat proses penutupan aplikasi Hulu. Namun, merek Hulu tidak benar-benar hilang. Mulai 8 Oktober mendatang, Hulu justru akan menjadi label hiburan umum dalam Disney+ untuk pasar internasional, menggantikan merek Star.
Disney menegaskan bahwa Hulu akan berkembang menjadi “pengalaman aplikasi terpadu sepenuhnya” pada 2026. Pengguna Disney+ akan mulai melihat integrasi Hulu dalam aplikasi Disney+, lewat pembaruan produk secara bertahap yang meliputi tampilan beranda hingga rekomendasi konten. Studio itu juga menjelaskan, perubahan ini akan memperkuat kesadaran pengguna global karena Hulu memiliki katalog besar berisi konten dewasa yang relevan untuk penonton internasional.
Selain perubahan merek, Disney+ juga akan meluncurkan tampilan beranda yang lebih visual, navigasi yang lebih intuitif, dan rekomendasi personal dalam beberapa minggu mendatang. Disney menyebut peningkatan ini baru awal, dengan lebih banyak pembaruan menjelang aplikasi terpadu yang dijadwalkan hadir tahun depan.
Disney baru saja menyelesaikan akuisisi penuh Hulu pada Juni lalu setelah kesepakatan panjang dengan Comcast. Ke depan, Disney berencana memindahkan semua konten Hulu ke Disney+. Meski begitu, opsi berlangganan Disney+ dan Hulu secara terpisah tetap tersedia.
Dampak untuk Pengguna Internasional Termasuk Indonesia
Bagi pengguna internasional, termasuk di Indonesia, perubahan ini berarti akan ada pergantian merek hiburan umum dalam aplikasi Disney+. Nama Star yang selama ini digunakan akan diganti dengan Hulu, sehingga pengguna akan melihat label Hulu sebagai rumah bagi konten film dan serial dewasa.
Dengan Hulu menjadi merek global, Disney berharap strategi pemasaran yang lebih luas dapat meningkatkan daya tarik konten, termasuk serial populer seperti Only Murders in the Building. Bagi pengguna Indonesia, tampilan Disney+ akan semakin kaya dengan rekomendasi personal serta navigasi lebih sederhana yang dirancang menyerupai pengalaman Hulu. Transisi ini juga menjadi langkah awal menuju integrasi penuh pada 2026, ketika semua konten Hulu sepenuhnya menyatu dengan Disney+.
Namun, meski pengalaman menonton akan semakin lengkap, tidak menutup kemungkinan harga paket langganan di berbagai wilayah internasional ke depan juga akan menyesuaikan, sebagaimana yang sudah diumumkan Disney untuk pasar Amerika Serikat.
Kenaikan Harga Berlangganan di AS
Pada pertengahan September, Disney mengumumkan bahwa biaya berlangganan Disney+ dan Hulu di Amerika Serikat akan naik mulai 21 Oktober.
Disney+ mandiri dengan iklan naik 2 dolar AS, dari 9,99 dolar (sekitar Rp162 ribu) menjadi 11,99 dolar per bulan (sekitar Rp195 ribu).
Hulu dengan iklan juga naik 2 dolar, dari 9,99 dolar (Rp162 ribu) menjadi 11,99 dolar (Rp195 ribu).
Hulu premium tanpa iklan tetap di harga 18,99 dolar (sekitar Rp309 ribu).
Hulu + Live TV dengan iklan naik cukup signifikan, dari 83 dolar (Rp1,35 juta) menjadi 90 dolar (Rp1,46 juta).
Disney+ Premium tanpa iklan naik 3 dolar, dari 16 dolar (Rp260 ribu) menjadi 19 dolar (Rp308 ribu).
ESPN Select, yang sebelumnya dikenal sebagai ESPN+, naik dari 11,99 dolar (Rp195 ribu) menjadi 12,99 dolar (Rp210 ribu).
Kabar penutupan Hulu ini muncul di tengah masa sulit bagi Disney, termasuk polemik di jaringan televisi ABC yang sempat menangguhkan lalu mengembalikan Jimmy Kimmel. Namun, raksasa hiburan ini tampaknya tetap mantap melangkah dengan strategi rebranding dan integrasi besar-besaran untuk layanan streaming mereka.










