LayarHijau.com – Tagar yang berarti “Aku tidak ingin berdampingan dengan Dilraba Dilmurat” tengah menjadi perbincangan hangat dan viral di Weibo hari ini, Selasa, 4 November. Tagar ini muncul sebagai reaksi netizen terhadap sebuah artikel dari situs Sohu yang mengupas ketatnya persaingan dan tekanan yang harus dihadapi para artis saat menjalani acara karpet merah di industri hiburan Tiongkok.
Artikel berjudul dalam bahasa Mandarin: 杨幂不好看?钟楚曦被吐槽?内娱的走红毯就是艺人的“服从性测试”
(terjemahan: Apakah Yang Mi Tidak Cantik? Zhong Chuxi Dikritik? Karpet Merah Industri Hiburan Tiongkok Adalah “Tes Ketaatan” bagi Artis)
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa karpet merah bukan hanya tentang gaya atau penampilan semata, melainkan sebuah “tes ketaatan” dan ajang kompetisi yang sangat ketat bagi para artis dan tim mereka. Persiapan yang dilakukan sangat detail, mulai dari pemilihan busana, tema acara, hingga pengaturan posisi berjalan supaya tidak terjadi benturan visual yang merugikan.
Salah satu staf manajemen artis mengungkapkan kekhawatiran timnya untuk tidak menempatkan artis yang mereka kelola berdampingan dengan Dilraba Dilmurat. “Saya tidak ingin artis saya berdampingan dengannya, karena perbandingannya terlalu berat,” ujarnya. Hal ini karena Dilraba dikenal sebagai ikon kecantikan dan fashion yang kerap mencuri perhatian sehingga jika berdampingan, artis lain bisa terlihat kalah bersinar.
Selain Dilraba, artis-artis lain juga melakukan persiapan yang sangat ketat. Misalnya, aktris Liu Yifei yang harus mencoba busana hingga enam kali demi mendapatkan penampilan terbaik. Perbedaan gaya antara aktor, penyanyi, dan idola muda juga terlihat jelas, dengan idola muda yang cenderung lebih berani tampil eksperimental untuk menarik perhatian.
Reaksi netizen pun beragam, banyak yang memuji dedikasi dan kecantikan Dilraba, sekaligus mengakui sulitnya bersaing dengannya di karpet merah. Salah satu netizen menulis, “Dua tahun lalu, setiap penampilan Dilraba selalu mencuri perhatian. Membandingkan artis lain dengan dia memang membuat mereka terlihat kalah jauh.”
Fenomena ini mencerminkan bagaimana karpet merah di industri hiburan Tiongkok adalah medan ujian kreativitas, strategi, dan ketahanan mental para artis, di balik kemewahan dan gemerlap yang terlihat.
Fakta menarik lainnya, menurut artikel Sohu, adalah betapa besar tekanan yang dirasakan para artis dan timnya untuk mendapatkan perhatian media dan trending topic di media sosial setelah acara. Bahkan ada artis yang sampai “ngambek” atau kecewa jika namanya tidak berhasil masuk daftar trending, karena hal itu sangat penting untuk menjaga popularitas dan eksposur mereka. Seorang staf mengungkapkan, “Setelah acara selesai, teman saya sampai curhat larut malam karena nama artisnya tidak masuk trending, dan artis itu sampai kesal.” Ini menunjukkan betapa sengit dan penuh perjuangannya persaingan di balik layar.
Selain itu, tim artis harus bekerja ekstra keras sepanjang hari acara, mulai dari fitting pakaian sejak pagi buta, proses makeup, pemotretan, hingga mengatur dan mengawasi seluruh materi promosi yang harus diunggah di berbagai platform media sosial secara serentak dan berbeda-beda kontennya. Semua dilakukan dengan ketat agar tidak terjadi kesalahan dan agar eksposur maksimal.
Di balik setiap senyum dan pose yang terlihat glamor di karpet merah, tersembunyi kerja keras tanpa henti dan tekanan yang sangat besar, yang membuat red carpet bukan sekadar ajang pamer gaya, melainkan ajang pertarungan strategi dan ketahanan mental para artis di industri hiburan Tiongkok.










