LayarHijau.com – Drama Love and Crown, adaptasi dari novel Wǒ de Huánghòu (My Queen) karya Xie Lounan, tengah menjadi pusat kontroversi. Drama ini dibanjiri kritik, mulai dari logika cerita yang dianggap berantakan, karakter yang inkonsisten, hingga tudingan bahwa beberapa elemen mengingatkan penonton pada Goodbye My Princess.
Pada 21 November, pengarang novel, Xie Lounan, mengunggah beberapa pernyataan keras di Weibo. Ia memuji pemeran utama pria, Ren Jialun, yang menurutnya berhasil menampilkan sosok Xiao Huan seperti dalam novel. Namun untuk tokoh utama perempuan, Ling Cangcang yang diperankan Peng Xiaoran, ia menyatakan tidak bisa menerima interpretasi versi drama tersebut.
Ia menuduh adaptasi drama mengubah total sifat karakter hingga membuatnya “tidak lagi seperti putri kecil yang ia tulis”. Ia bahkan mengaku “sampai menangis diam-diam” karena merasa sangat kecewa dengan hasil adaptasi.

Dalam sejumlah komentar tambahan, Xie Lounan membela interpretasinya tentang karakter Cangcang sebagai gadis yang manja, impulsif, namun mencintai Huan sepenuh hati. Ia menyebut bahwa dalam novel, Cangcang berkali-kali merendah demi mengejar Huan—bahkan sampai menjadi “pelayan kecil yang melayani suaminya dengan teh” untuk menghibur sang kaisar.
Ketika seorang pembaca menanggapi dengan marah, Xie Lounan membalas dengan kalimat hiperbolik khas internet Tiongkok: “Pergi dan baca adegan itu (di novelnya), nanti emosimu lancar.”
Istilah Mandarin yang ia pakai adalah “乳腺疏通”, yang kalau diterjemahkan harfiah berarti melancarkan ASI. Dalam slang fandom, frasa ini digunakan sebagai ungkapan “biar lega” atau “biar emosinya tersalurkan”, tetapi pengguna Weibo menilai pemakaiannya dalam konteks debat itu sebagai bentuk pelecehan.
Situasi memanas ketika Xie Lounan mengisyaratkan bahwa “pihak tertentu” mungkin membayar buzzer untuk menjelekkan dirinya—dugaan yang oleh warganet diarahkan kepada kubu Peng Xiaoran. Xie Lounan tidak menyebut nama, namun sindirannya dianggap jelas.
Peng Xiaoran Tanggapi Kritikan
Malam harinya, Peng Xiaoran memposting pernyataan panjang untuk menanggapi kontroversi tersebut. Ia tidak mengelak bahwa sebagian penonton melihat kemiripan Love and Crown dengan Goodbye My Princess. Ia sendiri mengaku merasakan hal serupa ketika pertama kali membaca naskah. Menurutnya, hal itu wajar, apalagi karena promosi awal drama memang menampilkan beberapa titik paralel.

Terkait kritik pada tokoh Ling Cangcang, Peng Xiaoran menegaskan bahwa seorang aktor tidak memiliki kendali atas desain karakter ataupun arah cerita. Ia mengungkapkan fakta mengejutkan: saat menerima tawaran untuk membintangi drama tersebut, ia hanya diberikan naskah untuk 10 episode pertama, tanpa kejelasan lanjutan mengenai perkembangan karakter maupun arah cerita.
Sehari sebelum syuting, ia hanya menerima naskah final untuk satu episode. Sembilan episode awal yang sebelumnya ia pelajari justru “dibatalkan total dan ditulis ulang”.
Selanjutnya, naskah dikirim seiring proses syuting berjalan, sehingga konsistensi karakter memang sangat sulit dijaga.
Menanggapi nada agresif Xie Lounan, Peng Xiaoran mengatakan bahwa sebagai sesama kreator di industri hiburan, semua pihak seharusnya bekerja sama menjaga kualitas karya. Ia menilai saling menjatuhkan di tengah masa penayangan tidak akan membantu siapa pun.
Ia juga menyinggung fenomena “雌竞” (persaingan antar wanita), dan meminta agar sesama perempuan dalam industri tidak saling meremehkan atau menyindir demi membela posisi masing-masing.
“Drama ini melibatkan begitu banyak pekerja—penulis naskah, sutradara, aktor, tim kamera, tim artistik, hingga kru lapangan. Semua berusaha memberikan yang terbaik,” tulisnya. “Kalau hasilnya belum sempurna, itu bagian dari proses. Tapi saling melukai di tengah perjalanan tidak akan membantu siapa pun,” lanjutnya.
Xie Lounan Sedikit Melunak
Setelah respons Peng Xiaoran viral, Xie Lounan memposting klarifikasi bahwa kalimat “punya tidak perasaan seperti manusia” tidak ditujukan kepada Peng Xiaoran, melainkan kepada seorang penggemar yang berdebat dengannya. Namun ia tetap bersikeras bahwa versi drama Ling Cangcang bukan ‘anaknya’, dan membela interpretasi novel yang mengusung “fantasi romantis” di mana sang perempuan rela merendahkan diri demi cinta.
Bagi penonton modern, konsep karakter perempuan yang hanya berputar di sekitar laki-laki dianggap usang. Perbedaan visi inilah yang memicu benturan antara pengarang dan adaptasi drama.
Kontroversi ini akhirnya menyoroti masalah yang lebih besar: lemahnya koordinasi antara penulis novel dan tim skenario; tren naskah yang masih ditulis sambil syuting berjalan; perbedaan nilai gender antara novel tahun 2000-an dan penonton masa kini; serta ekspektasi publik yang menuntut aktor memikul tanggung jawab atas hal yang tidak mereka kendalikan.
Dalam situasi memanas ini, Peng Xiaoran tetap meminta publik untuk terus menilai karya secara jujur dan menikmati drama sesuai selera masing-masing—sembari menutup pernyataannya:
“Silakan terus menonton, terus berdiskusi. Drama ini tetap penuh hal yang bisa dinikmati.”











[…] kontroversi ini, Peng Xiaoran menulis pernyataan panjang yang berisi tiga poin utama. Pertama, soal batas tanggung jawab kreatif: ia menegaskan bahwa […]