LayarHijau.com – Isu mengenai drama China yang lama tak kunjung tayang kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Publik dikejutkan oleh fakta bahwa ratusan drama sebenarnya sudah menyelesaikan proses syuting, namun hingga kini masih tertahan tanpa kepastian jadwal rilis.
Awalnya, diskusi ini dipicu oleh beredarnya daftar drama yang disebut telah selesai produksi lebih dari satu tahun tetapi belum juga tayang. Sejumlah judul besar ikut terseret dalam pembahasan, mulai dari The Love of Hypnosis, Immortality, hingga Hero Legends. Karena sebagian besar merupakan proyek berskala besar dengan IP populer dan jajaran pemain ternama, daftar tersebut langsung memancing perhatian luas.
Namun di dalam industri sendiri, istilah “drama terpendam” memiliki batasan yang lebih jelas. Umumnya, sebuah drama baru dianggap benar-benar masuk kategori ini apabila telah selesai syuting selama lebih dari dua tahun. Dengan kata lain, beberapa judul yang baru rampung produksi pada 2024 sejatinya masih berada dalam jalur penjadwalan normal platform.
Gambaran yang lebih komprehensif datang dari laporan lembaga data hiburan Detawen. Dalam analisisnya, Detawen mencatat bahwa hingga akhir 2025 terdapat 452 drama yang telah selesai produksi lebih dari dua tahun tetapi belum juga mendapatkan izin tayang. Dari jumlah tersebut, 407 drama bahkan telah tertahan lebih dari tiga tahun, atau sekitar 51 persen dari seluruh drama yang saat ini masih berstatus menunggu tayang.
Angka ini menunjukkan tekanan besar yang sedang dihadapi industri. Bagi platform dan rumah produksi, setiap drama yang tertahan berarti modal besar yang “membeku” tanpa kepastian balik modal. Dalam beberapa kasus ekstrem di masa lalu, drama yang tak kunjung tayang bahkan berujung pada krisis keuangan perusahaan produksi.
Situasi ini menjadi semakin kontras ketika dibandingkan dengan drama baru. Dalam laporan yang sama, Detawen menyoroti dominasi Yang Zi di daftar drama yang paling dinanti penonton. Dua proyek terbarunya, Born to Be Alive dan The Heir, secara bersamaan menempati posisi teratas dalam indeks popularitas drama yang belum tayang.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan selera pasar. Penonton kini jauh lebih responsif terhadap konten yang terasa baru dan relevan dengan tren terkini, sementara drama lama yang telah tertahan bertahun-tahun, meskipun dibintangi aktor populer, semakin sulit mendapatkan momentum.
Tak heran jika isu drama terpendam memunculkan emosi ganda di kalangan penonton. Di satu sisi ada rasa penasaran, karena banyak judul tersebut digarap dengan standar tinggi dan sempat diproyeksikan sebagai proyek unggulan. Di sisi lain, ada kekecewaan akibat penantian panjang tanpa kejelasan. Di tengah berkurangnya jumlah produksi drama baru, sebagian penonton bahkan berharap drama-drama lama ini bisa menjadi kejutan jika akhirnya dirilis.
Lalu, apa sebenarnya alasan ratusan drama tersebut tertahan?
Untuk Immortality, hambatan utama berasal dari kebijakan terhadap genre tertentu yang membuat drama sejenis harus menjalani revisi besar sebelum bisa lolos tayang. The Love of Hypnosis, yang dibintangi Liu Yifei dan Jing Boran, menghadapi persoalan terkait kontroversi salah satu pemain, sehingga opsi produksi ulang sempat mencuat. Sementara Hero Legends diketahui terhenti akibat sengketa kontrak yang melibatkan pihak produksi.
Drama sejarah berskala besar juga kerap mengalami nasib serupa. Risiko konten, sensitivitas penafsiran sejarah, serta kebijakan pembatasan pada periode tertentu membuat genre ini menjadi salah satu yang paling rentan tertahan lama. Selain itu, ada pula drama yang terkunci karena alasan lebih mendasar: kualitas cerita yang dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pasar, sehingga platform memilih menunda atau bahkan melepasnya.
Masalahnya, begitu sebuah drama masuk fase penumpukan, situasinya justru semakin sulit. Cerita terasa ketinggalan zaman, tren pasar telah bergeser, dan platform cenderung memprioritaskan drama baru yang dinilai lebih aman secara komersial.
Meski demikian, peluang belum sepenuhnya tertutup. Pada 2025, kebijakan baru yang mendorong optimalisasi konten layar televisi dan platform digital mulai membuka jalan bagi sejumlah drama lama untuk akhirnya tayang. Beberapa judul yang sempat lama tertahan berhasil menarik perhatian publik, membuktikan bahwa drama terpendam belum tentu kehilangan nilai sepenuhnya.
Sebagian platform juga mulai menerapkan strategi penayangan lintas platform untuk menekan risiko, memberi kesempatan kedua bagi drama yang sebelumnya sulit mendapatkan slot tayang sendiri.
Pada akhirnya, fenomena lebih dari 452 drama yang belum tayang ini mencerminkan fase transisi industri drama China. Pasar kini semakin selektif, tidak lagi memberi ruang luas bagi produksi massal yang mengandalkan keberuntungan. Kualitas cerita, ketahanan proyek terhadap risiko, serta strategi distribusi yang matang menjadi faktor penentu apakah sebuah drama benar-benar bisa sampai ke penonton.










