Praktisi Industri Hiburan China Bahas Tuduhan Manipulasi Data Drama Pursuit of Jade, Ungkap Standar Baru Menilai Popularitas

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

LayarHijau.com – Drama China Pursuit of Jade (逐玉) akhirnya mencatat pencapaian penting pada hari keenam penayangannya. Serial ini berhasil menembus heat index 10.000 di iQiyi dan 30.000 di Tencent Video, dua angka yang biasanya dianggap sebagai indikator bahwa sebuah drama telah mencapai tingkat popularitas tinggi di platform masing-masing.

Namun di saat yang sama, perdebatan soal kemungkinan manipulasi data atau “data injection” juga semakin ramai dibahas di media sosial China. Kontroversi ini muncul bersamaan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap keaslian berbagai indikator popularitas drama.

Dalam dua tahun terakhir, sejumlah drama populer juga pernah menghadapi tudingan serupa. Bahkan menurut pengamat industri, intensitas diskusi publik mengenai keaslian data kini semakin besar dari waktu ke waktu.

- Advertisement -

Di tengah perdebatan tersebut, para praktisi industri hiburan China mulai angkat bicara mengenai bagaimana praktik manipulasi data sebenarnya terjadi, seberapa besar kemungkinannya saat ini, serta standar apa saja yang kini digunakan untuk menilai apakah sebuah drama benar-benar populer atau tidak.

Apakah Manipulasi Data Masih Terjadi?

Seorang produser yang diwawancarai oleh Sohu Entertainment mengatakan bahwa manipulasi data memang bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak ada di industri, tetapi ia menilai praktik itu kemungkinan tidak terjadi secara luas.

Menurutnya, biaya untuk melakukan manipulasi data saat ini cukup tinggi, sementara tingkat kesulitannya juga terus meningkat. Karena itu, jika pun dilakukan, biasanya hanya terjadi pada proyek-proyek besar yang dianggap memiliki potensi untuk menjadi fenomena besar di pasar.

- Advertisement -

Ia menjelaskan bahwa perubahan ini terjadi karena platform streaming kini semakin ketat dalam mengelola sistem data mereka. Selain itu, pemahaman pasar dan penonton terhadap cara membaca popularitas drama juga semakin meningkat.

Pada masa ketika platform masih secara terbuka menampilkan total jumlah penayangan, industri pernah menyaksikan drama dengan angka ratusan miliar penonton. Di era tersebut, angka semacam itu dianggap wajar karena manipulasi relatif mudah dilakukan, misalnya dengan menggunakan akun atau kelompok tertentu untuk meningkatkan jumlah penayangan secara massal.

Namun situasi sekarang sudah berbeda. Seiring dengan pengawasan yang lebih ketat dari regulator dan sistem pengelolaan data yang lebih kompleks dari platform streaming, praktik tersebut semakin sulit dilakukan.

Standar Baru Menilai Kesuksesan Drama

Seorang staf promosi drama menjelaskan bahwa penilaian performa sebuah drama kini tidak lagi bergantung pada jumlah penayangan semata.

Platform streaming saat ini menggunakan berbagai indikator yang lebih kompleks untuk mengukur popularitas sebuah serial. Beberapa di antaranya adalah tingkat penonton yang menyelesaikan episode hingga akhir, total durasi waktu menonton, jumlah pengguna baru yang tertarik bergabung ke platform karena drama tersebut, hingga tingkat interaksi penonton melalui komentar dan fitur live chat.

Dengan banyaknya indikator tersebut, manipulasi data menjadi jauh lebih rumit dan mahal dibandingkan sebelumnya.

- Advertisement -

“Kalau hanya menaikkan jumlah penayangan saja sebenarnya tidak ada gunanya,” kata produser tersebut. “Bahkan jika angka penayangan dimanipulasi, pola distribusi data dan kurva pertumbuhan yang tidak wajar sekarang bisa dengan mudah dilihat oleh penonton.”

Penonton Kini Semakin Melek Data

Selain perubahan sistem di platform, peningkatan literasi data di kalangan penonton juga menjadi faktor penting.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggemar drama di China semakin terbiasa menggunakan berbagai indikator untuk menilai apakah sebuah drama benar-benar populer. Mereka tidak hanya melihat data dari platform streaming, tetapi juga membandingkannya dengan berbagai data pihak ketiga.

Beberapa indikator yang sering digunakan antara lain jumlah pengguna baru yang ditarik oleh sebuah drama, pendapatan iklan atau sponsor yang masuk, serta kurva pertumbuhan popularitas selama masa tayang.

Penonton juga sering mengutip data dari berbagai indeks popularitas, seperti tren pencarian di Douyin, Baidu, dan WeChat. Selain itu, jumlah topik trending di media sosial, volume komentar, jumlah tayangan, hingga peringkat komunitas penggemar juga kerap dijadikan bahan perbandingan.

Dengan semakin banyaknya indikator tersebut, para praktisi industri menilai bahwa manipulasi data sulit menjadi praktik standar di industri. Jika pun terjadi, biasanya hanya dilakukan sebagai dorongan sementara untuk meningkatkan momentum awal sebuah drama.

Tekanan Industri di Balik Angka Popularitas

Produser tersebut juga menyinggung bahwa tekanan bisnis menjadi salah satu faktor yang mendorong praktik semacam itu.

Ia mengatakan bahwa jika popularitas sebuah drama tidak mencapai target yang diharapkan, maka berbagai pihak yang terlibat dalam produksi bisa mengalami tekanan kinerja yang cukup besar. Dalam situasi seperti itu, ada kemungkinan sebagian pihak mencoba mendorong angka data pada tahap awal penayangan.

Namun langkah tersebut biasanya tidak berlangsung lama. Jika performa drama tetap tidak memenuhi ekspektasi, upaya semacam itu biasanya akan dihentikan.

Sementara itu, seorang analis data industri hiburan yang dikenal dengan nama samaran “Sandeko” menilai bahwa metode manipulasi data kemungkinan akan semakin berkembang di masa depan.

Ia mengatakan bahwa jika dilihat secara kronologis, proyek-proyek yang pernah mendapat tudingan manipulasi data biasanya akan mencoba memperbaiki indikator yang sebelumnya menjadi sorotan publik pada proyek-proyek berikutnya.

Menurutnya, fenomena ini berbeda dengan praktik manipulasi jumlah penayangan yang terjadi lebih dari satu dekade lalu. Saat itu, manipulasi relatif sederhana karena penonton sulit mengetahui popularitas sebuah drama secara langsung dari berbagai sumber.

Namun di era internet seluler saat ini, standar penilaian popularitas drama menjadi jauh lebih kompleks. Akibatnya, jika terjadi manipulasi, publik sering kali hanya bisa sampai pada tahap kecurigaan karena tidak ada satu indikator tunggal yang benar-benar menentukan.

Industri Drama China Sedang Butuh “Drama Hit”

Di sisi lain, industri drama China juga sedang menghadapi tekanan besar karena menurunnya performa pasar.

Data dari Yunhe menunjukkan bahwa total jumlah penayangan harian drama China sepanjang tahun lalu berada di kisaran sekitar 200 juta penayangan per hari, angka yang relatif rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Jika melihat performa drama populer, hanya satu drama pada tahun lalu yang mampu mencapai rata-rata lebih dari 60 juta penonton per episode selama masa tayangnya. Sementara pada tahun 2024 terdapat empat drama yang mampu mencapai angka tersebut.

Bahkan sepanjang tahun lalu tidak ada drama yang berhasil mencapai rata-rata lebih dari 100 juta penonton per episode, sebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap sebagai standar untuk kategori fenomena besar.

Tekanan pasar tersebut juga semakin terasa pada awal tahun ini. Selama periode Tahun Baru Imlek, jumlah penayangan harian bahkan sempat turun hingga sekitar 130 juta.

Dalam kondisi seperti ini, platform streaming, perusahaan produksi, hingga aktor yang memiliki basis penggemar besar sama-sama menghadapi tekanan performa yang cukup besar.

Seorang produser menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, platform streaming juga mulai menyalurkan lebih banyak tekanan bisnis kepada perusahaan produksi. Hal ini dilakukan melalui berbagai kebijakan seperti pengurangan jumlah proyek, sistem penilaian performa setelah tayang, hingga berbagai model promosi baru.

Akibatnya, jika sebuah drama tidak mencapai hasil yang diharapkan, risiko kerugian yang harus ditanggung perusahaan produksi juga semakin besar.

Fenomena “Pre-Manufactured Hit”

Dalam situasi tersebut, sebagian pihak di industri juga menggunakan strategi yang dikenal sebagai “pre-manufactured hit” atau menciptakan ekspektasi besar sebelum drama benar-benar tayang.

Strategi ini biasanya dimulai jauh sebelum penayangan, mulai dari pengumuman resmi proyek, penyebaran foto lokasi syuting, hingga trailer yang dirilis secara bertahap. Kombinasi faktor seperti jajaran aktor populer dan tim produksi ternama digunakan untuk membangun ekspektasi bahwa drama tersebut akan menjadi hit besar.

Setelah drama tayang, berbagai indikator data kemudian digunakan untuk memperkuat narasi bahwa drama tersebut memang sukses besar.

Namun ketika semakin banyak drama yang dipromosikan sebagai “hit” sejak awal, sebagian penonton mulai merasa sulit membedakan mana drama yang benar-benar populer dan mana yang hanya didorong oleh strategi promosi.

Jika perdebatan soal keaslian data terus meningkat, beberapa pengamat khawatir hal ini dapat memperdalam krisis kepercayaan antara industri dan penonton.

Jika penonton mulai kehilangan kepercayaan terhadap indikator popularitas yang beredar, mereka mungkin akan semakin enggan mencoba drama baru. Dalam jangka panjang, hal ini justru dapat mempersempit basis penonton dan membuat industri semakin sulit menciptakan drama yang benar-benar menjadi fenomena besar.

Karena itu, banyak pihak menilai bahwa tantangan terbesar industri saat ini bukan hanya menciptakan standar data yang lebih transparan, tetapi juga membangun kembali kepercayaan penonton terhadap ekosistem hiburan secara keseluruhan.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments