LayarHijau.com – Penulis skenario ternama China sekaligus perwakilan National People’s Congress of China, Zhao Dongling, mengungkapkan kegelisahannya terhadap kondisi industri film dan televisi saat ini. Ia mengatakan bahwa naskah yang ia tulis kini berkali-kali diminta direvisi oleh platform agar karakter dalam cerita dapat dimainkan oleh aktor populer dengan basis penggemar besar.
Dalam wawancara dengan Red Star News, Zhao Dongling mengaku situasi tersebut sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia mengatakan bahwa dulu naskah yang ia ajukan sering langsung disetujui oleh platform tanpa banyak revisi. Namun tahun ini, ia beberapa kali diminta mengubah cerita agar karakter yang ada di dalamnya sesuai dengan aktor yang memiliki “trafik” atau popularitas tinggi.

Zhao Dongling dikenal luas lewat berbagai karya film dan drama. Di televisi, ia menulis naskah untuk drama Ordinary Greatness yang dibintangi Bai Lu serta serial Red Sorghum. Di layar lebar, ia juga terlibat dalam penulisan film Cow dan Four Hands.

Menurut Zhao, fenomena tersebut merupakan bagian dari apa yang ia sebut sebagai “唯流量论” atau “teori yang hanya mengandalkan trafik”. Istilah ini merujuk pada kecenderungan industri hiburan yang terlalu menitikberatkan pada popularitas online—seperti jumlah penggemar, trending topic, hingga aktivitas fandom—sebagai pertimbangan utama dalam produksi drama.
Ia menilai budaya tersebut juga berkaitan dengan berbagai fenomena yang kini sering terlihat di industri hiburan China, mulai dari perang antar penggemar, budaya fandom ekstrem atau “饭圈文化”, hingga konflik perebutan posisi pemeran utama yang dikenal sebagai “撕番”. Dalam industri internasional, praktik ini sering disebut sebagai perebutan top billing, yaitu posisi aktor yang namanya ditempatkan paling atas dalam kredit atau promosi sebuah drama.
Menurut Zhao Dongling, tekanan dari budaya trafik sering membuat cerita yang awalnya kuat harus diubah agar sesuai dengan aktor populer yang terlibat dalam proyek tersebut.
“Begitu seorang aktor dengan trafik besar masuk, seluruh kru harus menyesuaikan cerita demi dia. Sebuah cerita yang awalnya sangat baik akhirnya harus diubah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa situasi menjadi semakin rumit ketika proyek tersebut diadaptasi dari karya asli, seperti novel. Jika perubahan dilakukan pada cerita, penggemar aktor sering kali tidak menerima karena merasa karakter idolanya tidak diperlakukan sesuai harapan.
Zhao bahkan memperingatkan bahwa pendekatan industri yang terlalu mengejar tren seperti ini dapat merugikan platform itu sendiri dalam jangka panjang.
“Sekarang mereka hanya mengejar trafik. Dua tahun lagi mungkin mereka hanya mengejar AI. Selalu berubah mengikuti tren, tetapi tidak pernah benar-benar mengejar inti dari industri ini,” katanya.
Meski demikian, Zhao Dongling mengakui bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan akan terus memengaruhi industri hiburan. Ia bahkan menyebut kemungkinan bahwa suatu hari teknologi tersebut dapat menggantikan peran manusia di layar.
“Jika kemampuan AI benar-benar mencapai tingkat tertentu di masa depan, mungkin aktor pun tidak lagi diperlukan,” katanya.
Namun bagi Zhao, masa depan industri film dan televisi tetap harus kembali pada hal yang paling mendasar.
“Jika kita ingin industri ini berkembang secara sehat, maka kita harus kembali pada cerita yang baik,” ujarnya.










