LayarHijau.com – Pada 11 Maret, acara offline Pursuit of Jade menghadirkan momen spesial saat Deng Kai dan Kong Xue’er menampilkan kembali adegan ikonik dari drama. Dalam adegan itu, Deng Kai memeluk pinggang Kong Xue’er dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menopang bagian belakang kepalanya, gerakan yang intens dan presisi. Namun begitu kamera dimatikan, keduanya terlihat malu—Deng Kai menutup dada dengan tangan sambil wajah memerah, Kong Xue’er menunduk tersenyum malu. Kontras singkat antara “adegan romantis di drama” dan “reaksi nyata mereka” ini langsung viral, tidak hanya di dalam negeri, tapi juga menarik perhatian penggemar internasional.
Pesona momen pelukan ini terletak pada kombinasi chemistry karakter di drama dan reaksi alami mereka di luar kamera.
Di drama, Deng Kai berperan sebagai Qi Min, pangeran yang keras dan obsesif, sedangkan Kong Xue’er memerankan Yu Qianqian, seorang wanita yang cerdas dan mandiri. Hubungan mereka dalam drama penuh dengan cinta yang kompleks dan adegan konflik emosional. Saat tampil offline, Deng Kai menampilkan ketegangan dan perasaan yang mendalam, sementara Kong Xue’er menunjukkan pergulatan emosi karakternya dengan sangat nyata.
#dengkai and #KongXueer interaction during #pursuitofjade promotion pic.twitter.com/ctpHVHQMbr
— Layar Hijau (@layar_hijau) March 12, 2026
Yang membuat momen ini menjadi bahan perbincangan global adalah reaksi malu mereka di luar layar. Fans internasional langsung ramai di TikTok, dengan tagar ChinesePeriodDramaCP menampilkan video slow motion dan reaksi terhadap adegan pelukan tersebut. Fans di Asia Tenggara berkomentar, “Tolong, mereka lebih malu daripada saat aku menonton dramanya,” sementara penggemar di Amerika Latin menulis, “Sensasi kontras ini luar biasa.”
#dengkai #kongxueer #pursuitofjade pic.twitter.com/Lfw8W6GZUV
— Layar Hijau (@layar_hijau) March 13, 2026
Detail kecil juga menambah kesan manis. Beberapa penggemar memperhatikan, di sela acara, Deng Kai secara alami membantu Kong Xue’er membersihkan kelopak bunga yang tersangkut di rambutnya. Aksi sederhana ini dianggap fans sebagai sikap sopan dan perhatian, memperkuat kesan kedekatan mereka.
Kesuksesan mereka di kancah internasional tak lepas dari cerita dan karakter yang bisa dimengerti berbagai penonton.
Cerita Qi Min dan Yu Qianqian menggabungkan beberapa elemen yang disukai penonton: karakter pria yang misterius dan kuat, karakter wanita yang cerdas dan tegar, konflik emosional yang intens, serta akhir cerita yang penuh ketegangan. Pangeran yang obsesif dan wanita yang cerdas ini menciptakan ketegangan yang mudah dirasakan penonton di berbagai budaya.
Di Asia Tenggara, penonton bisa memahami konflik keluarga dan takdir karakter. Di Amerika Latin dan Eropa, intensitas emosional mereka sendiri sudah menjadi daya tarik. Seorang kritikus internasional menulis, “Kamu tidak perlu memahami semua latar budaya, cukup lihat mata dan ekspresi mereka untuk merasakan cinta yang penuh gairah dan drama.”
Keberhasilan ini juga menunjukkan kesegaran karakter. Penonton global sudah jenuh dengan pangeran dan putri sempurna. Karakter ekstrem—wanita tangguh dan pangeran dengan sisi gelap—memberikan sensasi baru yang diterima secara luas. JTBC membeli hak tayang lebih awal karena konsep ini mematahkan stereotip drama romantis kostum tradisional.
Selain itu, strategi promosi mereka juga menjadi contoh yang efektif. Dari siaran langsung adegan, hingga interaksi alami di acara offline, Deng Kai dan Kong Xue’er menjaga batas yang tepat. Mereka memenuhi imajinasi penggemar tanpa menimbulkan gosip berlebihan, sehingga mendorong kreativitas penggemar dan membuat topik semakin viral.
Pendekatan ini membuka cara baru bagi drama China untuk menembus pasar internasional: daripada hanya fokus pada tokoh utama, lebih efektif menciptakan karakter yang berkesan. Cerita sampingan dan karakter pendukung yang kuat dapat menarik perhatian beragam penonton. Strategi ini terbukti berhasil saat Pursuit of Jade masuk daftar tayangan populer di berbagai negara di Netflix.
Dampak paling nyata terlihat dari data. Popularitas Pursuit of Jade di iQIYI versi internasional dan Netflix terus meningkat, terutama di Singapura dan Thailand, yang selalu menduduki peringkat teratas. Fans internasional awalnya tertarik karena chemistry Deng Kai dan Kong Xue’er, lalu menonton jalan cerita utama, sehingga total penonton meningkat signifikan.
Bagi Deng Kai dan Kong Xue’er, ini menjadi momen debut internasional yang sukses. Deng Kai dipuji media internasional sebagai “wajah baru kompleks antagonis dalam drama kostum China,” sementara Kong Xue’er membuktikan kemampuan aktingnya dan berhasil menembus stereotip “idol cantik tanpa akting.” Popularitas dan nilai komersial keduanya naik, membuka peluang proyek internasional.
Meski muncul beberapa kontroversi, misalnya kritik penggemar Korea soal kostum, hal ini justru memicu diskusi lintas budaya. Fans Asia Tenggara dan Barat aktif menjelaskan soal Hanfu, sehingga terjadi penyebaran budaya secara alami. Diskusi tentang data drama di dalam negeri juga menunjukkan kematangan industri China—penonton menilai konten secara kritis, tidak hanya berdasarkan popularitas artis.










